Aku dan Rumahku

 

Baciro Home2

Ini adalah rumahku

Tempat aku mengenal Tuhan Jesus yang maha kasih dan pemurah

Tempat aku merasakan kehidupan selama 21 tahun

Tempat aku belajar menghormati orang tua

Tempat aku belajar bahwa hidup itu harus memilih

Tempat aku belajar menjadi manusia yang sederhana

Tempat aku belajar bagaimana menggunakan Bahasa Jawa Krama

Tempat aku belajar bersyukur tentang aku dan kehidupanku

Tempat aku belajar memaafkan masa lalu yang kelam

Tempat aku belajar bahwa berjalan itu maju ke depan

Tempat aku belajar membangun sebuah mimpi

Tempat aku belajar menyimpan rahasia masa kecilku

Tempat aku belajar menghargai arti sebuah persahabatan

Tempat aku belajar sabar saat ada teman yang mengejekku karena rumahku

Tempat aku merasakan sedihnya dikhianati teman sekolah

Tempat aku membual kepada teman SD bahwa aku punya anjing namanya Bonnie

Tempat aku membual kepada teman SD bahwa bapakku seorang polisi

Tempat aku menyanyi Kuserahkan bersama teman-teman

Tempat aku membakar surat-surat dari secret admire

Tempat aku mengenal arti pacar

Tempat aku mengenal arti sebuah kesetiaan

Tempat aku merangkai syarat-syarat dan ketentuan dalam mencari pasangan hidup

Tempat aku mengetahui bahwa Sinterklas tidak ada di Yogyakarta

Tempat aku mengetahui bahwa membaca buku adalah sebuah pelarian untukku

Tempat aku menuliskan negara impianku ke dalam sebuah kaos kaki

Tempat aku merasakan asyiknya memanjat pohon

Tempat aku merasakan sakitnya kaki tertusuk paku yang karatan

Tempat aku merasakan sakitnya berperang melawan tipus

Tempat aku merasakan gatal dan panasnya badan terkena ulat bulu

Tempat aku merasakan perihnya kaki dicakar monyet tetangga

Tempat aku merasakan perihnya kaki dipatuk ayam

Tempat aku merasakan ketakutan melihat anjing

Tempat aku membayangkan kalau aku punya rambut ikal panjang sepunggung

Tempat aku membayangkan punya rumah tingkat

Tempat aku membayangkan punya meja kerja lengkap dengan kursi berodanya

Tempat aku membayangkan menjadi seorang wartawan agar bisa keliling dunia gratis

Tempat aku sadar bahwa aku harus keluar Yogyakarta untuk mengejar mimpiku

Masa kecilku ada disini. Sebuah kompleks perumahan yang penghuninya hampir semua bapak atau ibunya adalah karyawan Dinas Kehutanan. Termasuk juga bapakku. Rumahku ini bahkan pernah terkena imbas gempa bumi Yogyakarta tahun 2006 meskipun tidak sampai rata dengan tanah. Konon katanya karena sebagian dindingnya adalah kayu alias triplek sehingga dia ikut bergoyang saat gempa menerjang. Puji Tuhan saat gempa, aku sudah kerja di Jakarta (PT. Sun Microsystems Indonesia) karena berdasar info Ibuku, kerusakan terparah adalah kamarku. Katanya triplek pemisah rumahku dan tetangga jebol sehingga keluarga kami dan tetangga bisa ber say hello 🙂

Aku tinggal disini sejak aku lahir sampai usia 21 tahun. Pada tahun 2002 saat aku lulus kuliah diploma dan diterima kerja di Jakarta (PT. Melawai Group), relasiku dengan rumah ini terasa berjarak karena aku hanya bisa bertemu rumah ini saat mudik ke Yogyakarta. Hingga pada tahun 2010, aku mendengar kabar dari Ibuku, beberapa rumah dibagian barat sudah mendapatkan surat dari Kantor Dinas Kehutanan bahwa tanah yang mereka tempati akan dibangun kantor. Aku lupa persisnya kapan, beberapa warga yang tinggal di sisi barat komplek kami akhirnya pindah. Sejak saat itulah, bapak ibu sudah heboh mencari tempat tinggal karena mereka memiliki feeling suatu saat rumah kami terkena juga. Apalagi status bapak saat itu sudah pensiun. Setelah melalui proses panjang dan berliku, akhirnya bapak ibu menemukan tempat tinggal di daerah Pelem, Bantul. Namun, berhubung masih betah di Baciro,bapak ibu masih menempati rumah ini  hingga bulan Maret 2016, rumah kami dieksekusi. Dan berpindahlah Bapak Ibu ke Pelem, Bantul.

Bercerita tentang rumah ini dan lingkungannya, aku masih ingat saat di bangku sekolah dasar, ada tiga pohon yang sering aku panjat. Pohon di depan rumah, pohon kamboja depan kantor Kehutanan dan pohon belimbing di samping kantor Kehutanan. Pohon depan rumah tempatku menunggu kunci rumah dari bapakku. Pohon Kamboja yang terletak di tepi jalan Argolubang merupakan pohon yang paling besar. Disini adalah tempatku melamunkan mimpi-mimpiku sambil menikmati semilir angin berhembus menerpa rambutku. Buku komik Candy-Candy telah menginspirasiku untuk naik ke atas pohon dan melihat segala keindahan dari atas. Itulah kenapa sampai sekarang aku suka pergi ke tempat tinggi supaya bisa melamun dan melihat keindahanan ciptaan Tuhan. Terakhir adalah pohon belimbing. Pohon tempat aku memanjat bersama teman-teman kompleks. Biasanya kami memanjat sekalian mengambil buah belimbing sambil cerita-cerita.

Komplek kami memiliki tanah lapang luas untuk bermain anak-anak. Kalau tidak bergelantungan di atas pohon, kami bermain gobak sodor, rumah-rumahan dari tanah yang orangnya dari sapu lidi, benthik, sunda manda (engklek), kasti, petak umpet dan keluyuran dengan sepeda. Paling senang kalau keluyuran dengan sepeda mengejar pawai kampanye Pemilu. Aku bisa bersepeda sampai Blok O di daerah Janti. Tidak heran aku dulu hitam, dekil dan bau matahari hahahahaha karena hobi bermain di bawah panasnya sinar matahari.

Aku menyebut rumah di daerah Baciro ini dengan rumah Menteng karena lokasinya dekat dengan pusat kota. Kalau mau kemana-mana tinggal naik sepeda, naik becak, naik motor, bahkan berjalan kaki. Aku ingat masa SD sampai SMP kelas 2 aku ke sekolah naik sepeda karena rumah ini dekat dengan sekolah. Kelas 3 SMP malah naik bus kota supaya bisa merasakan jalan-jalan keliling kota. SMU aku malah jalan kaki ke sekolah saking dekatnya sekalian irit ongkos. Hehehe…. Oiya sebagai gambaran, sekolahku di SD Kanisius Baciro, SMPN 1 Yogyakarta dan SMUN 6 Yogyakarta. Kalau pernah main ke Yogyakarta bisa tergambar betapa dekat rumah ini dengan sekolah yang kusebut di atas.

Baciro Home3Temen-temen sekolah dari SD sampai kuliah pasti bisa membayangkan kehilanganku pada rumah ini. Terima kasih Mbak Tutik Martiwi, tetanggaku di kompleks Kehutanan yang bertumbuh bersamaku. Juga temen-temen kuartet SMP (Luci, Anna, Pipit), Temen SMU (Eyang Yetti dan Mama Yanti Wardani), dan temen-temen Kurcaci D3 (Bayank, Sari, Nita, Linggar, Rizky). Rumah ini adalah tempat kita ngumpul, ngerumpi, bahkan jadi saksi siapa yang pernah kalian taksir hahahaha…. Dia merekam semua rahasia kita, teman-teman. Meskipun pedih melihat rumah ini sudah rata dengan tanah namun ingatanku akan rumah ini akan selalu ada.

 

 

Mungkinkah dapat kuhadapi semua

Kenyataan yang telah menjadi begini

Pahit terasa hingga menyesakkan dada

Kutanyakan lagi pada diriku

 

Bila kudengar kicau burung disana

Dan kurasakan hangatnya sinar mentari

Kucoba jua menghalau duka yang luka

Walau dengan harapan yang tersisa

 

PadaMu Tuhan kuserahkan semua

Hanya engkaulah tempat ku berteduh

PadaMu Tuhan kumohon pengampunan

Hapuskanlah semua dosa hidupku

 

(Kuserahkan – Achmad Albar,Ikang Fawzi,Renny Jayusman, Anggun C Sasmi, Freddy Tamaela, Cut Irna)

 

Advertisements

6 thoughts on “Aku dan Rumahku

  1. Wah mba sangat di sayangkan.. semoga keluarga mba santi mendapatkan yg terbaik..
    Saya kenal betul lingkungan dimana mba tinggal hingga lulus kuliah.. sebuah lingkungan yg adem karena banyak pohonnya..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s