Bijaksana dalam Karsa dan Harsa

Written by

·

Kembali pulang

Untuk menenangi

Banyaknya luka yang berantakan

Peluk hangat sikap tuk sembuhkan

(Kembali Pulang – Feby Putri, Suara Kayu)

Ada satu hal yang aku pelajari dari keriuhan media sosial di minggu ini, yaitu jika mau menegur seseorang sebaiknya empat mata alias langsung japri (jawab pribadi) ke yang bersangkutan. Kita tidak tahu perasaan mendalam apa yang sedang bergelut dalam pikirannya saat itu. Kalau memang dia melakukan hal yang melukai perasaan pembaca, tolonglah jangan dibully beramai-ramai. Meski terkesan sosok arogan dan sombong namun entah mengapa aku berempati pada sosok tersebut. Seberapa parah luka di hatinya sampai menjawab pertanyaan warganet saja mesti menggunakan kalimat yang “merendahkan”

Kalau disebut nyinyir aku sudah masuk dalam tahap ini. Aku tidak mengenal sosok itu tapi aku ngomongin dia di blogku. Aku sedang berpikir ketika aku terluka, hal pertama dan utama yang aku lakukan adalah menjauhi media sosial. Tidak perlu masyarakat dunia mengetahui lukaku. Pengalaman menyatakan ketika kita terluka dan curhat di medsos, niat baik seseorang akan dibalas dengan hal menyakitkan karena ada perasaan ingin mencari koloni biar sama-sama terluka di dunia ini.

Pembukaan tulisanku di atas adalah reaksi dari pikiranku minggu kemarin. Emosiku bercampur baur. Ada seorang warga Indonesia yang pamer sebuah barang. Sebenarnya pamer adalah hal yang biasa di dunia digital apalagi di media sosial. Termasuk aku yang pamer tulisan dan perjalanan kehidupan bersama waktu. Pamer atau flexing adalah hal yang lumrah di masa sekarang karena manusia membutuhkan eksistensi diri; sesuatu untuk diakui oleh masyarakat sosial sebagai sebuah pencapaian diri. Tanpa pamer, manusia seperti patung yang hidup. Tidak punya karsa (niat untuk berkarya) dan harsa (kebahagiaan dan sukacita). Pamer sudah menjadi identitas manusia bagaimana dia mau dikenal oleh pembaca atau pengikutnya di media sosial. Seperti apa citra diri semasa hidupnya tercermin dari bagaimana media sosialnya memajang deretan pajangan foto: penghargaan, pemandangan alam, wisata, karir di kantor, masakan, pertumbuhan anak dan pergaulan sosial.

Pamer dari sesuatu yang biasa akhirnya menjadi tidak biasa ketika hadirnya disertai dengan kesombongan diri. Sombong berarti sikap mental yang merendahkan orang lain. Bahwa dia lebih dari orang lain. Ketika pamer tersebut melukai warganet, yang terjadi kemudian mereka beramai-ramai mencari tahu tentang orang tersebut secara mendalam terutama kekurangannya. Identitas diri bukan lagi sesuatu yang bersifat privasi. Semua dikorek untuk melampiaskan ketersinggungan (merasa direndahkan). Kamu anak siapa, orang tuamu kerja apa, mertuamu siapa, temanmu siapa, sekolah dimana, sedang apa, mainnya dimana adalah informasi untuk disebarluaskan. Ketersinggungan diri diluapkan dengan membuka “rahasia” seseorang. Orang yang membaca tiba-tiba menjadi hakim untuk menjatuhkan vonis pada sosok tersebut dengan sebuah label. Apa yang sudah tertulis di dunia digital tidak bisa dihapus kembali. 

Sepuluh orang yang bertumbuh dekat mengenalmu sebagai sosok X kalah dengan ratusan warganet yang menghakimimu dengan label Y. 

Lewat peristiwa ini, aku belajar untuk bijaksana. Dalam bahasa Indonesia, bijaksana adalah selalu menggunakan akal budinya. Selalu berpikir, berpikir dan berpikir jernih dan luas sebelum mengunggah pemikiranku di blog. Selalu menatap kembali tujuan blog dibuat untuk memberikan kelegaan bagi pembaca dengan cara tidak menyakiti hati. Bahwa manusia selalu mencari Tuhan dalam segala sesuatu dan memahami setiap peristiwa hidup dengan pikiran jernih (Puji Syukur nomor 142)

Menjadi bijaksana adalah perilaku yang menyelamatkan di era digital.

Leave a comment