Mau Kemana Aku? (Impian Masa Kecil)

Aku mau berbagi cerita. Cerita tentang kebahagiaan karena aku berhasil meraih mimpiku. Mimpi masa kecil dimana aku yakin teman-temanku tidak menyangka aku berhasil ke tempat itu. Tempat yang aku rahasiakan rapat-rapat dan baru aku bagi ke suami dalam perjalanan. Bahagiaku, menginjakkan kaki ke tempat yang selama ini aku impikan. Aku berhasil! Itulah mengapa tulisan ini aku buat. Aku ingin mendokumentasikan rasa bahagiaku ini sehingga orang yang membacanya bisa merasakan kebahagiaanku.

Dan… Hari itu tiba. Aku terbang ke suatu negara dengan jarak ribuan kilometer dari sini.

Wales Highland 3

Pagi-pagi tanggal 29 Maret 2015, aku dan suami bergegas ke bandara Soekarno-Hatta untuk melakukan perjalanan kami ke Negara impian. Seperti biasa kami selalu memilih berangkat pagi dan menunggu lebih lama di bandara. Penerbangan kami adalah pukul 9.20 WIB. Sesampainya di bandara waktu masih menunjukkan pukul 6.30 WIB. Pada saat melakukan cek in, petugas counter menawari kami untuk naik pada penerbangan pukul 7.30 WIB. Tentu saja kami setuju. Ini berarti kami tidak perlu terlalu lama menunggu di bandara. Langsung kami bergegas antri di imigrasi. Kemudian sedikit berlari ke Gate D7 karena pada tiket waktu boarding time dimulai pada pukul 06.55. Tips pada saat melakukan cek in untuk penerbangan yang relatif lama, sebaiknya pilih kursi yang ada di bagian aisle (deretan kursi di tengah) yang dekat dengan jalan supaya memudahkan kita keluar masuk kamar mandi atau mau melakukan streching tanpa menganggu penumpang lain.

Tips selanjutnya tentang waktu, begitu kita naik pesawat, jangan lupa mengubah jam tangan kita sesuai dengan waktu setempat. Hal ini berguna pada saat membaca jadwal boarding time di negara transit tersebut. Amit-amit jangan sampai kita ketinggalan pesawat hanya karena masih menggunakan jam waktu Jakarta. Misalnya Singapura memiliki waktu satu jam lebih cepat dari waktu Jakarta.

Perjalananku kali ini, pesawat akan transit di Bandara Changi. Di sini aku hanya memiliki waktu satu jam sebelum meneruskan ke perjalanan ke negara tujuan. Jangan lupa untuk rajin membaca informasi yang tertera di papan pengumunan. Bandara Changi terdiri dari tiga terminal. Pastikan kita sudah berada di terminal yang tepat. Misalnya kartu boarding pass saya Terminal 2 Gate B8. Padahal aku diturunkan di Terminal 1, sedangkan penerbangan selanjutnya ada di terminal 2. Cara paling asyik adalah menaiki Skyline. Semacam monorel yang menghubungkan terminal satu dengan terminal lainnya. Pemandangan bandara Changi bisa kita nikmati kalau memilih Skyline ini karena terbentang di atas jalan. Begitu turun dari Skyline kami bergegas menuju ke Gate B8. Tips lain saat berada di Changi, pastikan memakai sepatu yang nyaman di kaki (usahakan tanpa high heel) karena lokasi gate satu ke gate yang lain cukup jauh.

Sampailah aku di depan pesawat yang akan membawaku ke tujuan. Begitu masuk pesawat SQ318 aku tercenung. Rasanya seperti sudah berada di benua lain. Hampir 90% penumpang pesawat ini adalah orang-orang berkulit putih. Apalagi yang membuat aku semakin heran adalah usia penumpang pesawat kebanyakan adalah lansia (usia lanjut). Aku jadi merasa aneh, aku yang kege-eran atau memang mereka yang keheranan melihat aku dan suami? Aksen-aksen mereka berseliweran di telingaku. Wuih … rasanya grogi karena apa yang selama ini aku lihat di layar televise sekarang begitu dekat. Wajah-wajah penumpang pesawat kali ini begitu murni, asli (totok) rahang yang lebih kuat, dagu lancip (runcing), hidung mancung, warna mata yang beraneka macam seperti kelerang (biru, kelabu, hijau) dan warna rambut yang berwarna kuning keemasan serta kecoklatan. Aku merasa grogi tidak karuan. Aku merasa deJavu. Seperti pertama kali menginjak kota Jakarta 2002, aku keheranan melihat lampu yang terang di gedung yang tinggi sekali. Seperti ada banyak bintang di langit kota Jakarta. Aku mengenang dan terpana. Cukup lama aku menyesuaikan diri dengan keadaan.

Tips lagi untuk perjalanan jauh, sebaiknya menggunakan baju yang sopan dan rapi karena orang akan menghargai dari caramu berpakaian. Benar saja aku merasa agak terbantu pada saat berada di tengah orang-orang ini.

Aku masih ingat terakhir aku naik maskapai ini pada tahun 2008. Saat itu kantor tempatku bekerja memberikan reward kepada karyawan yang dianggap achieve the target untuk traveling ke Jepang. Namun, aku tidak merasakan kelebay-an ini karena sebagian penumpang masih mirip denganku J Cheers !!

Ok, sekarang ke pindah ke urusan makanan ya sebelum aku lupa. Maaf kalau tata bahasanya melompat-melompat, maklum masih belajar nulis. Kalau kita naik pesawat yang bukan maskapai Indonesia, sebaiknya kita membawa sambal dalam sachet. Hal ini memudahkan kita menyesuaikan rasa makanan di atas pesawat. Kecuali kalau mau benar-benar kuliner untuk merasakan makanan di luar kebiasaan kita ya monggo silahkan. Berhubung aku termasuk orang yang susah mengunyah dalam perjalanan, jadilah kemana-mana aku selalu memasukan 5 sachet sambal dalam tas tangan. Aman. Satu hal sebenarnya yang kurang, kecap sachet. Tapi sudahlah… aku mesti belajar mengurangi makan yang manis-manis.

Di dalam pesawat kali ini, aku melewati hujan. Pesawat terasa goyang-goyang ditambah tidur tidak nyenyak karena jendela pesawat tidak ditutup. Aku baru mengerti setelah bolak balik Jakarta-tujuan PP, ternyata suasana di dalam pesawat disesuaikan dengan waktu lokasi tujuan. Penerbangan ke tujuan akan sampai pukul 19.00 waktu setempat sehingga jendela pesawat dibuka sepanjang perjalanan supaya kami tetap terjaga siang hari. Sebaliknya pada penerbangan pulang ke Jakarta, baru 3 jam perjalanan, pramugari sudah menutup semua jendela karena waktu sampai di Jakarta adalah siang hari sehingga mau tidak mau kami harus tidur di pesawat seolah-olah malam hari. Aku menjadi belajar bahwa memilih waktu penerbangan itu sangat penting. Seperti penerbangan kami Jakarta ke tujuan, aku merasa salah memilih waktu karena sepanjang perjalanan belasan jam aku tidak bisa tidur. Sesampainya di sana pun tidak banyak obyek wisata yang bisa aku kunjungi karena sudah banyak yang tutup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s