Menjelajah Waktu di Greenwich

DSC_0616

Awal Mula Mengenal Greenwich

Akhirnya aku duduk kembali di meja kecil berteman kopi kesukaanku yang tidak bisa disebutkan namanya karena ini bukan iklan. Aku merindukan kopi ini lebih dari enam bulan sepertinya. Kopi memang penambah semangat di pagi hari dan untuk membuka cakrawala pikiranku.

Butuh waktu hampir sebulan untuk menulis episode mengenai Greenwich. Bukan hanya  ini menjadi pemenuhan rasa penasaran sejak SMP, namun juga pernah menjadi pusat pengetahuan dunia dalam hal waktu. Jadi, aku butuh waktu menerjemahkan buku yang aku beli saat di sana. Buku ini sebenarnya tipis namun kosa kata didalamnya, membuatku harus sibuk membuka google translate dan sederet dot com. Jadi di awal tulisan ini, aku mohon maaf kalau bahasa terjemahanku terasa aneh, kaku, dan jauh dari lugas. Setelah selesai mengurus rumah, mengantar jemput anakku, aku mencicil menerjemahkan buku itu. Pernah anakku bertanya, “Mama kerja dimana sih? Kok sibuk sekali membaca buku terus menulisnya.” Aku jawab, “Mama kerja di rumah.” Aku menyukai ucapan Pramoedya Ananta Toer, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Yes! Aku semakin bersemangat untuk bekerja.  Mari kita teruskan bercerita mengenai Greenwich.

Aku mengenal kata Greenwich ini saat duduk di bangku SMP. Kalau tidak salah mengingat, saat itu aku duduk di bangku kelas 2 SMP (kelas 8). Pak Subandrio, guru Geografiku bercerita tentang peta-peta Indonesia dan dunia. Salah satu tugas sekolah adalah menggambar peta. Setiap kali pelajaran itu datang, aku bersemangat empat lima mengikutinya. Aku suka berkhayal alias bermimpi di sela-sela pelajaran di kelas. Bermimpi suatu saat aku bisa ke Greenwich, ke titik 0º. Bermimpilah setinggi langit di angkasa, mumpung bermimpi itu masih gratis dan tidak menuntut bayaran. Seperti yang pernah aku tulis di tulisan sebelumnya bahwa masa lalu kita, masa sekarang, dan masa depan kita itu berhubungan dan terkoneksi. Jadi kita mesti waspada terhadap ucapan, impian, bayangan masa depan. Bisa jadi berawal dari pikiran menjadi kenyataan. Aku menjadi paham sekarang, mengapa sejak kecil hobiku membaca peta bahkan membeli atlas. Ternyata aku suka penasaran tentang lokasi suatu tempat. Sekarang aku sudah memiliki peta dunia satu lembar besar yang biasa dipakai guruku dulu saat mengajar di kelas. Aku tempel di kamar. Peta itu berukuran besar dan sungguh memenuhi ruangan.

Petaku

Percayalah membeli peta dunia yang besar itu sangat membantu saat kita menerima berita atau informasi dari televisi maupun media cetak. Misalnya berita tentang ditemukan pecahan potongan yang diduga pecahan kapal Malaysia Airlines MH370 di Pulau Reunion dekat Pulau Madagascar. Minimal setelah tahu lokasinya kita bisa membayangkan jauhnya posisi pesawat tersebut dari posisi pencarian selama ini. Buka lebar-lebar jari kananmu kemudian letakkan jari kelingking di ujung kiri benua Australian, rentangkan ke kanan dan kamu akan menemuka posisi Pulau Reunion.

Greenwich dan Bangsa-Bangsa sekitarnya

Marilah kita bicara Greenwich. Untuk membantu ceritaku ini, beberapa informasi aku ambil dari buku Greenwich (terbitan Pitkin Publishing; 2014) supaya ada sedikit informasi mengenai sejarahnya. Waktuku tidak banyak di Greenwich hanya sekitar 2 jam. Aku berharap dengan waktu 2 jam ini aku bisa sedikit berbagi cerita. Lokasi Greenwich sudah aku cerikan di awal tulisanku, “Sekilas Pandang di Kota London.” Dari pusat kota London bisa melalui jalur Sungai Thames, menggunakan kapal.

https://mariasantimawanti.wordpress.com/2015/07/28/mau-kemana-aku-impian-2/

Greenwich pernah menjadi referensi utama untuk waktu dunia. Berawal dari Greenwich inilah setiap orang di bumi melihat kearah jam mereka dan mengeset waktu pada saat tiba di lokasi yang berbeda dengan wilayahnya. Kita yang di Indonesia pun terbagi dalam tiga area waktu, yaitu: Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia Timur (WIT). Masing-masing waktu memiliki selisih satu jam dengan waktu tercepat ada di WIT. Di bagian kota London inilah, pembagian belahan timur dan barat dalam nol garis bujur. Greenwich bukan sekedar rumah, dia adalah konsep abstrak tentang ruang dan waktu. Posisinya yang persis berhadapan dengan Sungai Thames membuatnya cepat mengalami perkembangan baik secara ekonomi dan sosial. Ada suatu masa dimana Sungai Thames dipadati oleh pelayaran pada pedagang dan para penjelajah dunia. Tidak heran jika banyak bangsa tertarik mendatangi Inggris, mulai dari Bangsa Romawi (43 Sebelum Masehi sampai sekitar tahun 410), disusul oleh Bangsa Saxons, dan Bangsa-bangsa Skandinavia (Bangsa Viking). Dari awalnya hanya berdagang kemudian tertarik untuk menempati. Puncaknya adalah pada tahun 1011, Bangsa Denmark menculik Archbishop Alfege dari Canterbury. Mereka meminta tebusan kepada pihak Inggris, namun karena tebusan yang dikirim tidak sesuai dengan permintaan, mereka membunuhnya. Kini gereja Santo Alfege berdiri di tengah Greenwich. Gereja ini dibangun tahun 1714 oleh Nicholas Hawksmoor sebagai penghormatan pada Santo Alfege.

Greenwich dan Sejarah Inggris Raya

peta Greenwich

Kawasan Greenwich ini terdiri dari 4 lokasi utama, yaitu

  1. Royal Observatory yang berdiri di atas bukit dengan pemandangan Sungai Thames di bawahnya. Aku berkesempatan datang sampai di depan gedungnya, namun berhubung antrian sangat padat, aku urungkan masuk ke dalamnya karena kami masih harus membagi waktu dengan British Museum.
  2. Rumah Sang Ratu, aku tidak sempat masuk ke dalamnya.
  3. Museum Nasional Maritim (The National Maritime Museum), aku juga tidak sempat masuk ke dalamnya.
  4. The Old Royal Naval College (ORNC).

Kalau datang ke Greenwich melalui Sungai Thames, aku pastikan kalian akan mendatanginya karena ORNC ini adalah pintu gerbang masuk Greenwich. Jangan khawatir masuk kesini adalah gratis J tidak perlu membayar.

Area ini kurang lebih menyerupai tanah milik Raja Saxons yang diberikan kepada Biara Ghent (Abbey of Ghent) pada abad 10. Pada tahun 1433 tanah ini kembali ke tangan Kerajaan Inggris, setelah bersitegang dengan pihak biara. Bangunan yang sekarang berdiri sebagai Old Royal Naval College (ORNC) dulu kala adalah Bella Court, rumah bagi Humphrey, Duke Gloucester (adik Henry V). Duke juga membangun sebuah benteng di atas bukit, dimana Royal Observatory sekarang berdiri. Setelah Duke meninggal tahun 1447, Bella Court diberikan kepada istri keponakannya (Henry VI), Margaret of Anjau dan kemudian mengubah namanya menjadi Palace of Placentia.

Disinilah Henry VIII lahir dan dibesarkan dalam Palace of Placentia. Meskipun Henry VIII tumbuh menjadi orang yang berani dan tangguh namun dia tidak berdaya untuk mengganti permaisurinya, Catherine of Aragon dengan Anne Boleyn. Bahkan anak hasil pernikahan Henry VIII dan Anne Boleyn, Elizabeth I dilahirkan disini. Elizabeth I sangat menyukai istana Greenwich karena dia bisa menatap sungai untuk melihat dunia melalui hilir mudiknya kapal datang pergi di Sungai Thames. Elizabeth I meminta para penjelajah tersebut untuk bercerita seperti apa dunia di luar Inggris. Elizabeth I menganugerahi Sir Francis Drake gelar ksatria (Knighthood) tahun 1581 setelah melakukan perjalanan mengitari dunia (Circumnavigation). https://en.wikipedia.org/wiki/Francis_Drake Indonesia masuk dalam Circumnavigation ini, tepatnya melalui Propinsi Maluku.

Circumnavigation of the Earth (1577 - 1580)

Mengitari Kawasan Greenwich

Greenwich topi

Kembali ke perjalananku ke Greenwich. Begitu turun dari kapal, kami berjalan lurus sampai ketemu bangunan bertuliskan Discover Greenwich. Di tengah jalan ada tugu petunjuk jalan antara lurus ke Discover Greenwich atau belok kiri ke Painted Hall. Kami putuskan memilih jalan lurus. Masuk ke dalam The Old Royal Naval College (ORNC), langsung disambut oleh bangunan mini di dalam kaca yang berbentuk topi berwarna coklat gelap dengan menara kecil di ujungnya. Kemudian ada meja bundar di tengah ruangan yang menunjukkan Greenwich Meridian. Disekeliling tembok penuh dengan lukisan para penjelajah dan ilmuwan yang berjasa terhadap Greenwich. Museum ini salah satu museum cantik yang pernah aku datangi.

greenwich demo

Puas melihat-lihat, kami bergegas menuju ke Royal Observatory yang berlokasi di Greenwich Park untuk menuju pusat garis bujur 0º. Jalannnya lumayan jauh dari ORNC. Kami harus keluar dari ruangan museum menuju ke Pepys Building (Tourist Information Centre) lurus kearah belakang gedung, kemudian melewati Cutty Sark (Kapal Layar Britain yang dibuat pada era terakhir kapal layar sebelum beralih ke kapal uap) dan berjalan kaki melewati King William Walk menuju Greenwich Park. Kami berpapasan dengan mobil, bis, dan rombongan orang-orang peserta tour. Berderet tempat makanan kami jumpai di sini, mulai dari makanan Italia, makanan Vietnam, Fish and Chips, dan makanan Tiongkok. Siapkan diri karena lokasi Royal Observatory mengharuskan kami naik ke atas bukit. Saran aku saat mendatangi tempat ini, pastikan memakai sepatu yang nyaman, misalnya sepatu olahraga dan tanpa high heels! Ingat pesanku,Taman Greenwich sangat luas.

Royal Observatory Dan Pusat Waktu Dunia

DSC_0600

Begitu sampai di Royal Observatory (RO), antrian masuk sudah mengular. Antrian ini dipastikan memakan waktu kami. Maka, kami harus memilih antara menghabiskan waktu di Greenwich atau kembali ke pusat kota London untuk mengunjungi British Museum. Kami putuskan mrmilih yang kedua. Kami hanya sempat berfoto-foto sekitar RO kemudian bergegas turun melalui anak tangga. Saat menuruni anak tangga yang penuh dengan lalu lalang orang, persis di depan kami berdiri Rumah Sang Ratu dan Museum Nasional Maritim disisi paling kiri dari foto. Kami berdua pun berselfie ria 🙂

DSC_0622

Greenwich berdiri pada garis bujur utama 0º, garis imajiner yang menghubungkan Kutub Utara dan Kutub Selatan dan membelah wilayah timur dan barat bumi. Seperti kota Pontianak, Kalimantan Barat yang terletak di garis lintang 0º yaitu garis imajiner yang melintang dari timur ke barat membelah utara dan selatan bumi. Garis bujur berhubungan dengan pembagian waktu dunia. Bayangkan waktu kita makan, tidur, memulai pasar saham, memulai masuk sekolah semua berawal dari Greenwich.

Awal penggunaan Greenwich sebagai pusat garis bujur berasal dari keputusan cerdas Charles II untuk membangun sebuah observatorium pada tahun 1675. Kapal-kapal yang datang dan pergi ke London, baik untuk menaklukan atau berdagang ke luar negeri memerlukan navigasi yang bagus. Charles menyarankan salah satu cara terbaik adalah memetakan garis bujur dengan mengobservasi bulan dan bintang untuk jangka waktu lama. Tugas ini jatuh kepada John Flamsteed, astronomi kerajaan pertama yang berjuang melawan kemiskinan dan kesehatan selama 40 tahun untuk memperbaiki 50,000 observatorium. Hasilnya Historia Coelestis Britannica telah dipublikasikan dengan kehormatan tahun 1725. Tanpa ini, Prime Meridian tidak akan pernah berakhir di Greenwich.  http://www.britannica.com/biography/John-Flamsteed#ref288240

Kerajaan pun tidak tinggal diam, demi mendukung penelitian John Flamsteed, dibangunlah observatory dimana desain bangunan diberikan kepada arsitektur ternama, Christopher Wren. Tidak main-main, Wren adalah orang yang mendesain St Paul’s Catedral, gereja terkenal di Inggris, tempat Pangeran Charles menikah dengan Lady Diana.

Hasilnya, Royal Observatorium saat ini merupakan salah satu bangunan dengan desain tercantik di Inggris. Mereka totalitas dalam membangun untuk menemukan sesuatu. Dukungan kuat ditunjukkan oleh kerajaan dan pemerintah dengan memberikan fasilitas maksimal kepada para peneliti. Mereka dibuatkan bangunan khusus supaya penelitian bisa berlangsung dengan fokus dan hasil maksimal. Anganku kembali ke film The Imitation Game, dimana saat itu Alan Turing meminta dana kepada pemerintah Inggris untuk membangun suatu mesin yang bertujuan memecah kode rahasia Nazi. Biaya yang diperlukan saat itu tidak main-main, ribuan Poundsterling. Salut pada Winston Churchill, yang saat itu sebagai PM  Inggris memberikannya. Mesin bernama Enigma berhasil dibuat oleh Alan Turing dan timnya. Bahkan sempat dirahasiakan selama 50 tahun oleh pemerintah Inggris sebelum akhirnya diumumkan ke dunia sebagai salah satu keberhasilan Sekutu mengalahkan Nazi dalam Perang Dunia II. Aku berharap pemerintah kita memberikan dukungan totalitas jika pada suatu massa ada anak Indonesia yang memiliki pemikiran perkembangan ilmu pengetahuan dengan diberikan fasilitas secara maksimal. Semoga.

greenwichbelakang

Kembali ke Greenwich. Ada orang yang paling berjasa menemukan garis bujur di laut. Seorang Yorkshire (seorang pembuat jam), John Harrison yang bekerja sama dengan penerus John Flamsteed, Edmond Halley untuk mengembangkan jam laut yang special dan canggih. http://www.britannica.com/biography/Edmond-Halley. Dimana terlepas dari perubahan suhu/temperature di laut, chronometer (pencatat waktu) akan selalu menginformasikan waktu dengan tepat. Masalahnya adalah posisi matahari pada waktu tertentu bervariasi di seluruh dunia. Sehingga orang bisa mengalami siang hari, namun pada saat yang sama orang lain mengalami malam hari. Trik atau kiat untuk mengetahui waktu lokal kita adalah perbedaan garis bujur dari Meridian Utama. Meridian utamanya sendiri harus disepakati. Melalui sebuah konferensi di Washington tahun 1884 mayoritas delegasi dari 25 negara memutuskan Meridian Utama dunia adalah di Greenwich. Setelah disepakati lokasi Meridian Utama, maka perbedaan waktu mulai ditentukan. Greenwich pernah menjadi pusat waktu dunia. Titik nol berpusat di Greenwich di bujur 0º. Setiap garis bujur bergeser 15º waktu mengalami perbedaan satu jam. Semakin ke timur dari Greenwich, waktu semakin cepat satu jam (+). Sebaliknya kalau semakin ke barat waktu berkurang satu jam dari Greenwich (-). Contoh Negara kita Indonesia yang terletak di 95ºBT dan 141ºBT, tertulis GMT+7, berarti selisih waktu kita dengan Greenwich adalah lebih cepat 7 jam. Sehingga masin-masing negara memiliki waktu berbeda sesuai dengan lokasi garis bujur mereka. Sejak tahun 1960, dunia mulai beralih menggunakan UTC (Coordinated Universal Time) untuk mengeset waktu mereka. Indonesia adalah UTC+7.

Setelah naik turun bukit, kami berjalan ke Greenwich Pier untuk kembali ke pusat kota London. Kami akan melanjutkan petualangan kami selanjutnya ke Museum Britain (British Museum).

pohon

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s