Menemukan musik di Buku Anak-Anak Revolusi (Buku Satu)

IMG_8886

Aku membaca buku Anak-Anak Revolusi (Buku Satu) seolah sedang menatap sejarah dan RPUS (Rangkuman Pengetahuan Umum Singkat) karena banyak sekali perbendaharaan kata dan hal-hal yang aku belum tahu. Sehingga saat membaca buku AAR, aku pastikan ada gadget disebelah untuk membrowsing banyak hal. Wikipedia, Youtube dan Google Translate adalah tiga laman yang paling sering aku buka. Di balik idealisme politik seorang Budiman Sudjatmiko terhadap negeri ini, tersimpan kecerdasan tentang pengetahuan di luar politik. Ikuti saja twitter beliau di @Budimandjatmiko dan bertanyalah apapun padanya. Dia akan menjawabnya. Aku sudah membuktikannya.

Buku ini seolah memberikan banyak cakrawala tentang pengetahuan, khususnya musik. Aku termasuk orang yang penasaran kalau ada hal baru. Maka informasi dari buku ini aku bisa menambah sedikit informasi tentang musik, khusunya musik klasik. Terus terang aku tidak mudeng ba bar blas tentang music klasik. Menyukainya pun tidak karena membuat kepalaku tambah pusing dan tidak ada lirik untuk dinyanyikan. Bisa jadi aku adalah golongan orang tidak pintar alias biasa saja hehehe… karena tidak menyukai musik klasik. Jadi di awal tulisan, aku buat disclamer, jangan tanya lebih detail tentang musik klasik padaku. Lebih baik bertanya langsung sama Mas Budiman 🙂

Mari kembali ke buku AAR. Pada Bab 12, Musik adalah Filsafat yang Berirama, halaman 236 menceritakan pengalaman Budiman saat sekolah di Yogyakarta berteman dengan kakak kelasnya, Herman Ahmad Ma’ruf. Herman ini memperkenalkannya dengan komposisi agung Canon dari Pachelbel dan performa Berlin Philharmonic Orchestra dipimpin konduktor ternama Herbert von Karajan (1908–1989). Herbert Von Karajan ini seorang warga Austria kelahiran Salzburg (lokasi film musikal terindah sepanjang masa The Sound of Music yang diproduksi tahun 1965) yang mengawali debut perdananya di tahun 1938 dengan Berlin Philharmonic.

Sebelum kita mendengarkan orkestra Herbert von Karajan, kembalikan ingatan kita akan film Whisplash, salah satu nominasi film terbaik dalam Oscar 2014. Terence Fletcher yang dimainkan dengan gemilang oleh aktor J.K. Simmons berhasil mengobok-obok emosiku. Perasaan jengkel, marah, geram, kesal, gondok berkecamuk menjadi satu saat menonton film ini. Nah, saat melihat Karajan memimpin orchestra dalam lagu Dvořák Symphony 9, ingatanku bisa menyambung ke Terence saat melatih Shaffer Conservatory. Aku berharap Von Karajan tidak seperti Terence, semoga tokoh ini hanya khayalan semata. Please klik link ini untuk mendapatkan ketegangan yang kuceritakan.

Selain tentang musik yang mengusikku, buku ini seolah ikut mengenalkan sosok lain dari Budiman. Bersiaplah terpana bahwa beliau tidak segarang seperti yang dikisahkan saat memimpin PRD hingga ditangkap dan dipenjarakan di LP Cipinang. Banyak hal pengetahuan ditemukan saat membacanya. Bahkan ada cerita tentang kisah cintanya dengan Catherine. Menarik dan sungguh mengharukan. Pada suatu massa saat aku melewati Sungai Thames, aku malah teringat kesedihan Mas Bud berpisah dengan Catherine (#gagalpaham). Kembali tentang musik… ternyata aku masih penggemar Bon Jovi, Cold Play, Taylor Swift dan Slank. Buku Mas Budiman agak berhasil mengajakku menyukai musik klasik.

XOXO

🙂

DSC_0513

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s