Belajar lebih bersyukur melalui buku The Rescue (Nicholas Sparks)

Buku

Nicholas Sparks memang jagonya dalam buku drama romantis. Dia berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca dan menarik minat para produser untuk menfilmkan bukunya antara lain The Notebook dan A Walk to Remember. Kali ini aku membaca buku Nicholas berjudul The Rescue.

Buku ini menceritakan tentang perjuangan Denise Holton dalam mengajari anaknya, Kyle berbicara. Kyle mengalami keterlambatan berbicara di usianya hampir 5 tahun namun kemampuan bahasanya masih seperti anak 2 tahun. Denise berjuang kesana kemari untuk berkonsultasi dengan dokter serta melakukan terapi. Namun hasilnya para dokter tersebut memberikan hasil diagnosa yang berbeda-beda. Akhirnya Denise mengambil alih untuk melatih sendiri anaknya. Dia pindah dari kota Atlanta (USA) ke kota asal orang tuanya di Edenton. Disinilah babak baru dalam hidupnya dimulai. Denise meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang guru supaya fokus melatih anaknya berbicara. Setiap hari selama kurang lebih 6 jam Denise menjadi guru untuk Kyle. Dia berlatih mengenal huruf dan melatih bicara satu per satu kata. Misalnya saat melatih kata apel (apple). Metodenya Kyle duduk di kursi sambil diperlihatkan gambar dan tulisan apel oleh Denise. Kemudian Denise mengulang kata apel berulang-ulang dan meminta Kyle mengulangnya. Setiap Kyle mengeluarkan suara App… Denise memberinya permen. Jika tidak, maka permen tidak diberikan. Butuh waktu empat jam bagi Kyle untuk bisa mengucapkan kata apel. Denise mendapatkan metode ini dari dua buku yang dibacanya, Late-Talking Children karangan Thomas Dowell  dan Let Me Hear Your Voice karangan Chaterine Maurice.

Malam harinya, Denise menjadi pelayan restoran sampai tengah malam. Perjuangan panjang seorang Ibu yang harus gigih dan kuat dalam melatih anaknya berbicara dan juga menghidupi anaknya seorang diri. Denise anak tunggal dimana kedua orang tuanya telah meninggal. Dia bertemu ayahnya Kyle dalam sebuah acara dan melakukan kesalahan. Si ayah tidak mau bertanggung jawab dan meminta Denise melakukan aborsi. Denise menolak dan memilih membesarkan Kyle seorang diri.

Nicholas Sparks menggambarkan kisah Denise dengan detail. Aku merasa buku ini semakin membuka pikiranku bahwa dimanapun kita berada, akan selalu hadir orang yang baik. Inilah yang menarik, buku Spark tidak ada cerita mengenai sosok penjahat. Dia lebih menyorot kehidupan seorang anak dan ibunya di lingkungan baru. Pindah dari sebuah kota yang bisa dibilang sedikit metropolitan, Atlanta ke sebuah kota kecil yang hampir semua orang saling mengenal satu sama lain, Edenton.

Pertemuan Denise dan orang-orang baru di kota Edenton bermula dari sebuah kecelakaan mobil yang dialaminya, dimana Kyle sempat hilang di rawa-rawa. Beberapa volunteer fireman dan polisi bergerak untuk menemukan Kyle. Disinilah  Denise bertemu dengan Taylor yang ternyata anak dari sahabat masa kecil Ibu Denise, Judy McAden. Kehadiran Judy saat Denise dirawat di rumah sakit memberikan secercah harapan bagi Denise untuk berjuang dalam kehidupannya. Percakapan antara Denise dan Judy mengenai Ibu Denise (kalau Ibu Denise dan Judy memang sahabat masa kecil, mengapa Ibu Denise tidak pernah menceritakan Judy kepadanya) yang tertuang pada halam 136 ini menarik dan terasa mengelitik.

People come, people go—they’ll drift in and out of your life, almost like characters in a favorite book. When you finally close the cover, the characters have told their story and you start up again with an-other book, complete with new characters and adventures. Then you find yourself focusing on the new ones, not the ones from the past. Aku termenung setelah membaca tulisan ini. Menarik!! Karena aku menyadari, mungkin dalam perjalanan hidupku 34 tahun ini, aku berjumpa dengan berbagai macam karakter orang yang aku temui. Tidak semuanya bisa aku ingat apalagi jika sudah terjadi jauh di masa lalu. Aku ingat beberapa orang yang baru aku temui. Persis jika baru saja selesai membaca buku, aku bisa ceritakan isi buku dan tokohnya. Namun kalau buku yang aku baca sudah lama ada di rak, tentu aku lupa dan butuh waktu kembali untuk mengingatnya. Ibaratnya mesti ada pemantik untuk bisa mengingat masa lalu beserta para karakter didalamnya.

Selain itu, buku ini juga menginspirasiku bahwa setiap anak dilahirkan ke dunia adalah unik dan menarik. Everything happens for a reason. Dari buku ini pun aku belajar bahwa aku harus selalu bersyukur atas anugerah Tuhan dalam hidupku. Aku semakin menyayangi anakku dalam setiap setiap gerakannya. Aku semakin mau mendengarkan setiap kali anakku (usia sama dengan Kyle 5 tahun) ngoceh kesana kemari dan meminta perhatianku penuh untuk melihatnya saat dia bercerita. Saat aku menjemputnya pulang sekolah hari ini, dia cerita bahwa temannya juga potong rambut seperti dia karena mau ikut-ikutan dia. Aku bertanya padanya, apakah temannya itu cerita kalau alasan potong rambut karena itu? Jawab anakku, “Tidak. Aku tahu karena otak dan Tuhan memberitahuku.”

Semoga ceritaku kali ini bisa memberikan banyak inspirasi untuk bersyukur dan percaya bahwa Tuhan selalu hadirkan orang-orang baik di sekitar kita. Jangan lupa untuk selalu menyayangi anak kita. Cheers .. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s