Delapan Jam Menikmati Kota Cirebon

kerang2

Sabtu minggu lalu, 7 November 2015, ibu-ibu arisan PKK menutup arisan tahunan kali ini dengan berkunjung ke Cirebon. Inilah tahun pertama aku bergabung dalam arisan Ibu-Ibu PKK ini. Berhubung suami harus masuk kerja pada Sabtu ini, maka aku mengajak anakku yang berusia 5 tahun. Tepat pukul 6.00 berangkatlah bis menuju Cirebon. Berhubung awal bulan, jalanan sudah dipenuhi dengan mobil-mobil yang bergerak menuju luar kota Jakarta. Di dalam perjalanan, aku menikmati canda tawa Ibu-ibu PKK ini karena mereka berkaraoke dan menari di dalam bis. Lagu-lagu yang diputar mulai dari campursari, dangdut, sampai lagu pop masa kini dengan band Noah dan Geisha. Aku duduk manis menikmati para Ibu berkaraoke bersama sambil sesekali menahan ketawa karena anakku sibuk protes pada suara para Ibu ini. Anakku memang peka terhadap suara, jadi kalau ada yang menyanyi suaranya sumbang/fals dia langsung tahu dan protes 🙂

daftar menuSetelah menempuh perjalanan hampir 4 jam, sampailah kami di kota Cirebon. Sayang sekali pada saat keluar pintu Tol, Cirebon belum siap menyambut para pengunjung kotanya. Kami langsung kena macet. Apalagi kami memakai bis ukuran sedang sehingga langsung terasa penuh. Untunglah kemacetan ini terbayar lunas pada saat sarapan di Warung Nasi Jamblang Khas Cirebon Ibu Nur yang berlokasi di Jalan Cangkring II. Kebetulan sekali warung ini dekat dengan stasiun kereta api. Jadi kalau naik kereta ke kota Cirebon, silahkan langsung menyantap hidangan di warung Ibu Nur. Dijamin bakalan ketagihan. Bagaimana tidak? Bayangkan berbagai menu lauk pauk terhidang di meja. Mulai dari limpa sapi, lidah sapi, paru sapi, hati sapi, cumi, udang, ayam, telor beraneka olahan sampai pepes tahu pun ada. Aku sempat bingung, mau makan lauk yang mana karena banyak begini. Akhirnya pilihan jatuh pada udang, paru goreng dan bakwan jagung goreng. Sebutan nasi jamblang ini karena penggunaan alas piringnya dari daun jati yang tentunya sudah dilap bersih 🙂 (sepertinya sih hehehe) Konon katanya supaya aroma masakan menjadi lebih wangi. Jangan khawatir dengan harganya ya, lumayan terjangkau. Misalnya nasi putih (ukuran nasi kucing angkringan) Rp. 1,500 perbuah. Aku sarankan pesan nasi minimal 2 biar kenyang karena sekali salah pesan, bersiaplah mengantri lagi dan antrian itu sangat panjang hehehehe…..nasi jamblang

Puas makan nasi Jamblang, perjalanan dilanjutkan ke Istana Kasepuhan Cirebon (Keraton Kasepuhan). Disinilah Syech Syarief Hidayatullah atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati bertahta (1479 – 1568) . Aku sempat menfoto silsilah Sunan Gunung Jati yang konon merupakan keturunan langsung dari Nabi Muhammad Saw. Aku tidak bisa mengeksplorasi istana ini karena anakku sudah kepanasan dan dia minta ditemani duduk di bawah pohon padahal di depan kami ada museum kereta. Pelan-pelan kurayu anakku untuk masuk dalam museum kereta Singa Baron karena info dari Ibu-ibu PKK didalam museum kereta itu ada lukisan tiga dimensi. Aku penasaran melihat lukisan itu. Lukisan Prabu Siliwangi yang dilihat dari samping kelihatan tinggi, dilihat dari depan ternyata pendek. Kemudian ujung jari kakinya akan bergerak menyesuaikan posisi kita. Misalnya kita lihat lukisan dari samping, jari kaki akan menghadap ke arah kita, demikian juga jika kita melihat dari depan, jari kaki juga menghadap depan. Hal yang sama berlaku pada mata Prabu Siliwangi. Kemanapun arah kita melihat, mata Prabu Siliwangi akan bergerak mengikuti. Menarik kan?? Pasti penasaran ya? 🙂 Sayangnya aku tidak sempat menfoto lukisan itu karena mengejar anakku keluar museum. Dia memang tidak suka museum karena gelap katanya. Aku juga heran mengapa museum-museum kita minim pencahayaan ya?silsilah

Matahari bersinar dengan teriknya hari itu di Cirebon. Padahal berdasar info beberapa teman, kota Bandung dan Tangerang Selatan diguyur hujan dengan deras. Tuhan sungguh baik. Kunjungan berikutnya, adalah kerajinan kerang, tepatnya di CV. Multi Dimensi yang berlokasi Jalan Ki Ageng Tapa Ds, Astapada Cirebon. Jaraknya lumayan jauh dari Keraton Kasepuhan. Sekitar 40 menit dengan kondisi padat merayap. Sampai disana, aku terpana melihat showroom dari kerajinan kerang ini. Sangat indah dan tertata dengan cantiknya. Tempat tidur, sofa, lampu kamar, lampu hias, vas, aneka pajangan, bahkan tempat buah dan alas gelas pun ada disini. Para ibu langsung sibuk berfoto sana sini, sedangkan aku sibuk menfoto anakku yang ingin tahu ada apa dalam vas raksasa itu. Aku tidak bisa menikmati berada dalam showroom ini karena anakku sibuk bergerak kesana kemari dan kalau pecah aku harus mengganti kerugiannya. Rasanya deg-degan. Aku hanya membeli vas kecil dan tempat lilin sebagai kenang-kenangan. Di bagian pengepakan barang, aku tertegun melihat foto salah satu mantan presiden kita. Hehehehe…kerang1

Acara berlanjut dengan makan siang yang terlambat, sekitar jam 3 kami makan siang di Empal Gentong Hj. Dian di jalan raya Tengah Tani, Plered, Cirebon. Saat makan empal gentong ini kok aku malah serasa malam soto betawi ya? Daging dikasih kuah santan. Aku agak bingung perbedaannya jadinya. Berhubung lapar jadilah aku makan lahap dan bersih. Disinilah terjadi adegan seru. Sebagian ibu-ibu tidak puas hanya menyantap empal gentong sehingga ada yang memesan tambahan sate kambing, jus alpukat, jus jeruk, empal asem, dan kerupuk. Akhirnya pada saat kami sudah duduk di bis, kasir dari rumah makan berlari mengejar kami karena pihak tour ternyata hanya membayar untuk empal gentong dan teh panas manis. Sehingga pesanan di luar itu menjadi tanggung jawab masing-masing. Hahahaha…..segeralah kehebohan terjadi dalam bis krn masing-masing sibuk menghitung kelebihan pesanan. Tour Leader kami meminta maaf karena tidak memberikan informasi sebelumnya, dia lupa menginformasikan bahwa pada saat di Nasi Jamblang Ibu Nur semua pesanan termasuk dalam tour. Namun tidak berlaku saat di warung makan Hj. Dian.

empal gentong

Bukan para Ibu kalau tidak sibuk mencari oleh-oleh. Sebelum ke batik kami mampir di pusat oleh-oleh Daud. Namun tidak berlaku padaku saat ini. Anakku sudah kelelahan karena dari pagi sampai menjelang sore bergerak terus, dia mulai rewel dan minta menunggu di bis saat pemberhentian kami selanjutnya adalah batik Trusmi. Aku sudah pasrah tidak bisa menikmati belanja batik. Untungnya anakku kebelet pipis sehingga mau tidak mau harus turun bis. Aku sedikit merayu dia untuk mencari toilet yang dekat dengan kerajinan batik Trusmi. Dia bersedia saat aku bilang kalau aku membelikan batik untuk dipakai di sekolah pada hari Jumat (sekolah Aktinos mewajibkan memakai batik khusus hari Jumat). Dia bersedia. Akhirnya kami mampir sebentar di toko itu dan membeli batik untuknya. Langsung setelah itu kami kembali ke bis dan mendengarkan anakku sibuk berkaraoke dengan hebohnya. Sekedar gambaran, Kampung Batik Trusmi ini berada di Plered, Cirebon. Jalannya sempit untuk dilalui bis. Namun kehebatan sopir kami berhasil menembus dan parkir di salah satu toko batik yang lumayan besar. Sepanjang jalan ini bermacam toko batik berjejer-jejer. Kita bisa dan bebas memilih sesuka kita. Kalau terasa capai sudah berjalan jauh dan hendak kembali ke parkiran bis, kita bisa memakai becak yang banyak mangkal disitu.

Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB. Kunjungan harus diakhiri dan bis melaju kembali ke kota kami. Terima kasih untuk Ibu-ibu PKK yang sudah merancang kunjungan kali ini. Untungnya Cirebon tidak pindah, dia akan tetap di sana, di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Jika ada kesempatan, aku akan kembali dan menikmati makanan Cirebon sepuasnya hahahahaha……..

keraton

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s