Penasaran mencari Mona Lisa di Louvre

Voyage, voyage

Dans tout le royaume.

Sur les dunes du Sahara,

Des les Fidji au Fujiyama,

Voyage, voyage,

Ne t’arrtes pas.

Au dessus des barbels,

Des coeurs bombards,

Regarde l’ocan.
DSC_0045Ini semua gara-gara kicauan Budiman Sudjatmiko (@budimandjatmiko) di twitter tentang lagu Gregorian berjudul Voyage Voyage. Membuat anganku terhempas kembali ke masa empat tahun silam. Dimana aku dan suami bernekad ria memutuskan keluyuran bersama anak kami yang masih berusia 2 tahun di Paris. Aku membongkar kembali foto-foto di masa silam untuk mengumpulkan kembali ingatan tentang sebuah lukisan yang membuatku penasaran bukan kepalang. Menjelajahlah!!  Berjalan-jalanlah!!  Bertravelinglah atau Bahasa Jawanya keluyuranlah!!  Di seluruh kerajaan, di Gurun Sahara, dari Pulau Fiji di tengah lautan sampai di atas Pegunungan Fujiyama, jangan biarkan kita terpenjara. Lihatlah betapa luasnya samudera membentang di depan kita. Ini terjemahan bebasku dari lirik lagu di atas. Terasa ngawur ya? Hehehe….yo maklum, la wong aku ga iso Boso Perancis 🙂 Syukur-syukur ada pembaca blogku yang jago, yo monggo dengan hati gembira ria aku menerima masukannya untuk terjemahan lirik di atas. Duduk yang manis ya, aku akan memulai ceritaku ini.

DSC_0015

Pada tahun 2012 aku bersama suami dan anakku, nekad keluyuran di Eropa Barat. Tepatnya kami ke Belanda, Belgia, dan Perancis. Semua berawal dari info teman kantorku, Mbak Diana. Dia memberitahu ada pameran tiket murah di JCC (Jakarta Convention Center). Namanya juga emak-emak, terkomporlah aku mengingat katanya banyak promo penerbangan dengan harga terjangkau. Pergilah aku sendiri naik ojek ke JCC dari kantorku di daerah Senayan. Sengaja pergi sendiri biar ga ada yang tahu aku beli tiket apa dan kemana? Hehehe….. Disana, aku puter-puter sendiri, keliling melihat berbagai macam penawaran dari perusahaan tour and travel. Nanya kesana kemari, perhatianku tertuju pada promo Jakarta-Amsterdam yang tertera di papan promo salah satu perusahaan.  Saat itu maskapai Garuda Indonesia lagi hangat-hangatnya membuka jalur penerbangan ke Eropa setelah kurang lebih lima tahun dilarang terbang di langit Eropa. Iseng aku bertanya, berapa harga tiket PP ke Amsterdam dan kaget juga karena selisihnya sedikit dibanding ke Jepang. Aku menelpon suami bagaimana menurutnya? Eeeehh Gubrak! Suami menyarankan beli tiket promo itu sekalian ajak anakku. Ya sudah, tabungan lima tahun kami bongkar dan terbanglah kami bertiga ke sana. Aku membawa Aktinos usia 2 tahun. Aku tidak memiliki saudara di sana. Aku menyusun itinerary tanpa bantuan agen tour dan travel, bahkan termasuk apply visa, dilakukan sendiri (ini bagian suami sih sebenarnya karena Bahasa Inggrisnya lebih jago dariku). Nekad, Puji Tuhan sampai juga.

DSC_0030Berhubung aku mesti fokus pada judul tulisan ini, maka kita langsung tembak capcus mengenai sesampainya aku di Paris ya. Singkat cerita setelah melalui perjalanan panjang dan penuh liku, sampai juga kami di Museum Louvre. Nanti keruwetan dan riwehnya perjalanan ini, aku ceritakan di judul lain ya. Seperti tempat wisata yang terkenal di Yogyakarta (Goa Pindul), antrian masuknya sudah mengular. Namun, tenang saja, para wisatawan ini tertib dan teratur jadi meskipun pelan tapi maju terus. Harga tiket masuk Museum Louvre adalah 10 Euro per orang. Begitu masuk, langsung hawa dingin menyerbu ke badanku. Senang sekali rasanya mendapat AC setelah berpanas-panas ria di luar. Sebagai informasi saat itu suhu kota Paris adalah 32 derajat celcius. Tidak ada bedanya dengan suhu di Tangerang Selatan. Saking luasnya museum ini adalah hal yang mustahil bisa menikmati koleksinya dalam waktu satu hari. Apalagi kondisi saat itu penuh pengunjung dan eskalator dimana-mana. Weleh…bingung!

DSC_0433Jadi, aku meminta suami untuk mengabulkan obsesiku, yaitu melihat langsung lukisan Mona Lisa. Maka kami memilih ke area Italia. Aku berpikir karena Leonardo da Vinci dari Italia, maka fokus ke area Italia. Maka pilihan kami area SULLY (ada tulisan Roma di spanduknya). Namun, ada yang menganjal. Pada saat suami melihat eskalator area DENON, terdapat gambar Mona Lisa. Maka kami putuskan bergegas mengantri di eskalator menuju area DENON. Benar apa yang dikatakan orang-orang, kalau di Negara Perancis, jarang sekali menemukan informasi dengan Bahasa Inggris. Jadi ya mengandalkan bertanya di bagian customer service atau interpretasi tulisan dan gambar.

DSC_0436

Setelah menaiki eskalator area DENON, disambut beraneka ragam patung-patung. Kemudian naik tangga panjang diujungnya ketemu patung The Winged Victory of Sammothrace (Sayap Dewi Nike) namun tanpa kepala. Setelah ketemu patung ini, mulailah aku memasuki area lukisan para maestro lukisan dari Italia. Mereka melukis dengan sangat detail. Di area Italia ini, kita banyak menjumpai lukisan yang berhubungan dengan Tuhan Jesus. Mulai dari kisah kelahiran Tuhan Jesus, pemenggalan kepala Yohanes Pembabtis, sampai penyaliban Tuhan Jesus. Antara kagum, ngeri, dan sedih bercampur menjadi satu. Para pelukis ini seakan memotret kejadian yang terjadi hampir 2000 tahun lalu dengan teliti dan seolah nyata. Bahkan ada patung yang menyerupai cawan suci diletakkan di tengah jalan. Setelah melewati lorong Italia, akhirnya sampailah aku ke SALLE 6 de La Jodonce (Monna Lisa). Sengaja aku potret petunjuk jalannya ini, mana tahu ada yang mau kesana hehehe biar langsung ketemu.

DSC_0460

Saat memasuki arena lukisan Mona Lisa, sudah banyak kerumunan orang berdesakan di area tersebut. Mereka penasaran dengan lukisan Leonardo da Vinci ini. Dengan menggendong anakku, bernarcislah aku di depan kerumunan orang. Rata-rata orang pada heran dengan ukuran lukisan ini karena dibanding dengan lukisan yang dipajang di sekitarnya sangat kecil. Ukuran Lukisan Mona Lisa hanya sekitar 77cm X 53cm. Berhadapan dengan lukisan Pesta Pernikahan di Kana (The Wedding Feast at Cana) karya Paolo Veronese yang berukuran 6,77 meter X 9,94 meter (677 cm X 994cm). Seperti je-glek (timpang). Pengamanan lukisan ini ekstra dibanding lukisan maestro lainnya. Pertama, lukisan itu diberi kaca disekelilingnya. Ukuran kacanya pun terlihat tidak simetris. Ada banyak ruang tersisa di bagian atasnya. Artinya lukisan Mona Lisa tidak berada tepat di tengah bingkai kaca yang menyelimutinya. Kedua, pengaman berbentuk setengah lingkaran yang berbahan kayu yang disokong oleh besi memutari lukisan tersebut. Ketiga, pengaman dengan tali hitam yang biasa kita temui saat antri teller di bank mengelilingi lukisan itu dan dibuat partisi untuk antrian para pengunjung. Total ada tiga pengamanan untuk melihat lukisan Mona Lisa. Sayang sekali aku tidak bisa menikmati lukisan ini dari dekat karena penuh kerumunan orang di belakangmu yang siap untuk bertukar posisi denganmu. Mari bicara tentang lukisan Mona Lisa.

DSC_0440

Lukisan Mona Lisa adalah lukisan sebuah potret diri seorang perempuan yang berukuran tiga perempat badan. Model dari Mona Lisa diyakini sebagai Madonna Lisa di Antonio Maria Gherardini, istri dari Fransesco del Giocondo, seorang pedagang dari Florence, Italia. Konon Leonardo da Vinci melukis Mona Lisa pada tahun 1503-1506. Pada awal abad 16 kelas pedagang mulai sejahtera. Mereka mulai melukis potret diri mereka. Tidak heran abad tersebut, banyak bermunculan lukisan potret diri. Awalnya lukisan potret diri menampilkan sisi model dari samping dengan latar belakang warna gelap seperti pas foto untuk kenaikan kelas, kemudian lambat laun mulai dari depan dengan ukuran setengah badan dan latar belakang warna gelap. Kemudian berkembang menjadi tampak depan dengan latar belakang pemandangan. Hingga munculah lukisan potret diri karya Leonardo da Vinci inilah yang berukuran tiga perempat badan, menghadap depan, dan berlatar belakang pemandangan misterius. Banyaknya misteri dalam potret Mona Lisa karya Leonardo da Vinci inilah yang membuat lukisan ini menjadi sangat terkenal di dunia. Aneka alasan inilah yang membuatku penasaran tentang lukisan Mona Lisa ini. Berikut beberapa misterinya. Aku yakin setelah ini, para pembaca ikutan melihat lukisannya di internet untuk mencari misterinya seperti aku hihihi…. Piss!!

mona_lisaMona Lisa duduk bersandar pada sebuah kursi yang diperkirakan terbuat dari kayu dengan kedua tangan bersilangan tepat di tengah. Ukuran kedua jarinya terlihat pendek dan gemuk. Persis di belakang lengan kanan dan kiri seolah ada potongan tiang balkon. Jadi diperkirakan Mona Lisa duduk di kursi membelakangi balkon.

Background atau latar belakangnya menyerupai area pegunungan dengan jalan yang berkelok-kelok di belakang bahu kiri dan jembatan kecil yang melintang di sisi sebelah kanan bahu Mona Lisa. Namun, setelah diperhatikan lagi, pemandangan setelah ujung jalan berkelok tampak suasana seperti penggambaran dunia lain. Kalau cek di internet, malah ada yang menyebutnya planet lain. Kelam dengan dominasi warna abu-abu dan hitam. Jadi tidak sinkron antara pemandangan sebelum jalan berkelok dan sesudahnya. Bahkan kalau diperhatikan lagi, pemandangan di belakang bahu kiri dan kanan tidak simetris. Anganku malah langsung ke film The Lord of The Rings (2001). Rasanya suasana yang digambarkan pada pemandangan itu menyerupai suasana middle earth sih 🙂 Padahal lukisan ini dibuat pada awal abad 16. Jauh sebelum film The Lord of The Rings dibuat.

Sekarang pada sosok Mona Lisa. Ada rumor yang mengatakan dia seorang laki-laki. Kalau menurutku, dia totaly seorang perempuan. Hal ini terlihat pada tudung kepada yang menghias rambutnya. Kemudian pada bagian dada terlihat membusung dan terbelah. Hal ini menunjukkan dia memiliki payudara perempuan. Apalagi kedua tangan Mona Lisa terlihat halus dan gemulai.

Ada hal lain yang menurutku menarik dari lukisan Mona Lisa ini. Rata-rata lukisan potret diri seorang perempuan abad 16, menggunakan gaun yang indah dan mewah dengan warna baju yang menyala. Lengkap dengan aksesoris manik atau berlian yag bertebaran di bagian baju, leher dan hiasan kepala. Potret diri ini biasanya mereka pajang untuk dipamerkan kepada para tamu. Sehingga baju yang dipilih tentunya merupakan yang terbaik lengkap dengan hiasan yang dimiliki. Namun pada lukisan ini, baju yang dikenakan terlihat sederhana. Warna baju yang dipilih yaitu coklat dengan pasmina berwarna gelap. Tanpa ada manik atau berlian menempel di baju. Tidak ada hiasan berlebihan pada bagian kepala. Rambut dibiarkan terurai alami. Pada bagian leher, tidak ada kalung yang dikenakan sebagai pemanis. Sungguh mencerminkan kesederhanaan. Supaya pembaca lebih mantap untuk menemukan perbedaannya, coba browsing dengan mengetikkan kata painting profile in 16 century, klik di bagian image. Pembaca akan menemukan beragam lukisan potret diri dari para maestro. Dan silahkan dibandingkan 🙂

Sebagai penutup marilah kita menikmati alunan para Gregorian featuring Sarah Brightman dengan Voyage Voyage. Xo Xo  https://www.youtube.com/watch?v=hGAJ-Uuc6yM

DSC_0458

Advertisements

2 thoughts on “Penasaran mencari Mona Lisa di Louvre

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s