Reuni dengan Kawan

Inspirasi untuk menulis itu bisa berasal dari mana saja. Setelah hampir dua bulan tidak menulis, inspirasi dan semangat nulis datang lagi sekembali mudik dari Yogya. Insiprasi kali ini datang setelah bertemu dengan kawan-kawan SMP, SMU, dan kuliah D3. Ada banyak pelajaran hidup yang aku dapatkan disini. Bahkan aku menjadi lebih bersyukur karena apa yang terjadi pada diriku adalah berkat ijinNya GustiJesus. Artinya ada hikmat atau pesan yang dikirim untuk aku mengerti. Kini aku mengerti, mengapa aku selalu mendapatkan kenyamanan setiap pulang ke Yogyakarta. Karena disanalah, aku masih memiliki kawan. Betul! Kawan. Apa sebenarnya esensi dari kehidupan jika kita tidak memiliki kawan untuk berbagi cerita sekaligus juga mendengarkan cerita mereka. Manusia adalah makhluk sosial, dan aku menyadari hal itu. Itulah kenapa dalam tulisanku yang lalu tentang aku dan kesendirianku, batinku seakan berontak karena merasa sendiri dan tidak ada kawan. Tapi aku salah, meskipun aku sendiri, aku punya kawan yaitu tulisan ini. Kawan dalam bentuk blog adalah semacam refleksiku atas kehidupan yang telah aku alami. Kalau aku hanya berpikir bahwa kawan adalah manusia, tentu aku tidak pernah menulis. Menulis ini semacam bercakap-cakap dengan batin kita. Menulis meminta kita untuk membangun sebuah ingatan tentang kehidupan. Menulis mengajak kita untuk fokus apa yang mau kita tulis dengan cara mengambil dari ingatan kita. Menulis bahkan bisa jadi tempat peringatan bagi kita untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi di masa depan. Menulis adalah kawan itu sendiri.

Kembali pada saat reuni yang aku ikuti di Yogyakarta. Diawali dengan mengunjungi rumah seorang kawan SMU yang mengirimkan sms padaku untuk main ke rumahnya. Dia sedang dalam perawatan sakit dan tidak diijinkan dokter mengangkat beban lebih dari 5 kg. Dia menagih janjiku dan aku menepatinya. Langsung pada hari pertama Lebaran, tanggal 6 Juli, setelah selesai halal bihalal di rumah Pakde, aku meluncur ke sana. Dia menceritakan tentang kehidupannya dan aku setia mendengarkan sambil sesekali cekikikan mengingat masa lalu. Satu hutang terbayarkan. Hehehe…..

Reuniku selanjutnya pada tanggal 9 Juli 2016 siang dan 10 Juli 2016 malam. Reuni SMP angkatan 96 yang telah disepakati jauh-jauh hari oleh kawan-kawan melalui sebuah group Whatsapp yang dipimpin oleh kawan kami, Widy. Luar biasa kesabarannya dalam mengingatkan kami untuk datang dalam reuni ini. Tanpa peran serta kawan ini, tentu kami sudah tercerai berai dan tidak ada pertemuan kembali. Reuni kali ini memberikan sisa ingatan yang menyenangkan karena kawan-kawan yang kutemui masih sama seperti 20 tahun yang lalu, yaitu apa adanya dan terbuka. Ingatan yang membuka kembali memoriku tentang siapa aku dimasa lalu. Malu sebenarnya untuk mengenang bahwa aku itu centilnya fenomenal semasa SMP (kata salah satu kawan). Yang penting adalah sekarang, sudah tenang dan dewasa. #eeaaa…

15, there’s still time for you

Time to buy and time to lose

15, there’s never a wish better than this

When you only got a hundreds years to live…

(Five for Fighting – 100 Years)

 Pertemuan reuni SMP yang mestinya hanya tanggal 9 Juli menjadi dua kali dengan tanggal 10 Juli. Karena ada teman dari luar kota baru sampai tanggal 10 Juli dan tiba-tiba mengontak, jadilah kami ber-reuni lagi di malam hari. Kami saling berbagi cerita, ada kawan cerita tentang harga Aqua galon di kotanya yang mencapai harga Rp 28,000; kami juga saling bercerita tentang kemacetan yang dialami saat mudik, bahkan saking jape methe melekat pada kami (jape methe artinya cahe dewe/kawan sendiri, tipikal orang Yogya apa adanya) kisah rumah tangga mereka sampai dishare. Ada kawan cerita mau mencari pendamping untuk yang keempat kalinya, bahkan skema pengaturan keuangan dalam rumah tangga merekapun diceritakan. Ada juga yang masih penasaran karena kisahnya dimasa lalu belum terselesaikan, ada yang deg-degan sebentar lagi mau menikah, ada kawan yang ingatannya luar biasa masih bisa mengingat satu-satu dari kami, bahkan ada kawan yang memberikan nasihat lipstick terbaik yang cocok untuk kami yang perempuan. Aku sendiri juga dipertanyakan kawan-kawan karena terlalu sering posting kegiatan umbah-umbah (mencuci baju). Hahaha….. Ada kawan yang bercerita saat SMP dibully seorang kawan, pulang sekolah dia datangi rumahnya untuk mengajak berkelahi satu lawan satu. Besoknya dia cerita sudah tidak dibully lagi. Aku terbengong-bengong mendapati cerita itu sambil berusaha mengingat pada dua sosok ini saat SMP. Aku malah jadi mengingat kenakalan kawan-kawan yang meledakkan mercon di sekolah, juga seorang kawan sekelas 3C yang terobsesi pada kawan perempuan dari kelas 3E dengan menuliskan namanya di semua sudut sekolah dengan kapur tulis. Yang ternyata sekarang menikah dengan kawan kami juga dari kelas 3C tapi bukan dia hihihihi….geli kalau ingat hal itu.

Reuni SMP ini memberikanku makna bahwa reuni tidak hanya bercerita tentang pencapaian materi atau jabatan yang telah dicapai. Kami malah saling berbagi cerita mengenang masa lalu kami selama SMP juga tentang kehidupan yang telah dialami. Bagaimana struggle-nya kehidupan yang ada dalam setiap kehidupan kami. Aku melihat kawan-kawan memiliki jiwa positif dalam diri mereka. Sehingga kami bisa saling berdiskusi dan belajar.

Pada hari yang sama, tanggal 9 Juli 2016, selesai reuni SMP, aku melanjutkan ke reuni SMA. Kebetulan yang datang lima orang dan perempuan semua. Kebayang kan betapa serunya lima perempuan saling bercerita ngalor ngidul lompat topik rumpian sana sini. Kawan-kawan tetap menempelkan gelar tertawa paling berisik padaku. Sampai semua orang di tempat makan itu melihat ke arah kami. Di reuni SMA ini aku mendapat makna tentang esensi kehidupan yang harus dijalani setiap orang. Kami memiliki perkara sendiri dengan hidup, tapi hebatnya kami bisa saling yakin untuk berjuang mengalahkan perkara itu. Sebelum tiga kawan datang, aku berdiskusi lama dengan Clara. Aku ingat semasa SMA, dia selalu memberiku semangat dan keyakinan untuk maju. Aku belajar banyak darinya. Dia masih sama seperti SMA. Dia memberiku nasihat seraya menceritakan dengan rinci dan detail perjalanan hidupnya yang bisa jadi pembelajaran dalam hidupku juga. Apa sebenarnya tujuan hidup manusia itu? Inilah pokok dari kehidupan kita. Kesederhanaan hidup. Ada masa perut terasa lapar kemudian kita mencari makan. Setelah makan dan terasa kenyang, ada waktu untuk stop makan. Di atas langit masih ada langit. Mencari dan terus mencari padahal yang dicari sudah ditemukan di depan kita. Tapi kita tidak melihat karena sibuk mencari yang dicari orang lain. Lupa sebenarnya apa yang dicari. Diskusi panjang lebar dengan Clara membantuku merangkai kembali dan fokus pada pencarianku. Matur nuwun Clara, aku utang rasa karo jenengan.

Selanjutnya, pada tanggal 10 Juli, saat ada pertemuan trah di Klaten. Aku ingat bahwa aku punya kawan dekat semasa kuliah D3 yang berdomisili di Klaten. Aku kontak dadakan apakah aku bisa mampir mumpung aku di Klaten. Dan timingnya pas, dia baru pulang dari rumah mertua di Demak. Saat berjumpa dengan Sari dan suaminya, kami ngobrol ngalor ngidul dengan bermacam-macam topik. Salah satunya topik saat pilpres dimana dia memilih Prabowo dan aku Jokowi. Juga kami saling bercerita masa-masa kuliah yang malah sibuk antri di persewaan VCD di daerah Gejayan demi menonton Meteor Garden dan juga keluyuran di Fakultas Teknik dengan harapan, mana tahu berjodoh dengan anak Teknik dan nyangkut di hati hahahaha…. Juga cerita tentang gank Kurcaci kami (Sari, Nita, Bayank, Rizky, Linggar, dan aku) yang terbentuk di kelas secara tidak sengaja karena kami sekumpulan anak ndeso, bertubuh mungil, konyol dan tidak popular di kampus. Hahahaha…… nama kurcaci pun diceletuk oleh kawan kami sekelas, Mbak Ellya. Kemana-mana berenam. Sampai pembagian kelompok saat tugas pun kami bagi adil. Kalau per kelompok 4, 4. Maka kami berpisah 3, 3 kemudian mencari satu dari kawan kuliah lain. Hebatnya adalah kami masih saling kontak sampai hari ini, padahal kalau dilihat dari masing-masing sifat kami, kami berbeda 180 derajat. Suamiku (yang adalah saksi perjalanan kurcaci) sampai hari ini masih heran apa yang bisa mempersatukan kami kok bisa sesolid ini. Kujawab saja, karena kami lugu dan ndeso. Cheers Xo Xo

Reuni… Terima kasih kawan-kawan. Berjumpa dengan kalian adalah suatu anugerah buatku. Menyadarkanku bahwa aku masih punya kawan dengan arti yang nyata. Memberiku ruang untuk selalu bersyukur bahwa di suatu tempat, aku memiliki kawan. Memberiku harapan bahwa setiap manusia memiliki perkara sendiri dalam hidup. Memberiku kenikmatan untuk tertawa selepas-lepasnya pada kekonyolan dalam setiap perbincangan. Aku temukan kesederhanaan hidup yang membahagiakan. Aku tidak perlu minder atau merasa rendah diri untuk bertemu kawan-kawan karena mereka adalah tetap sama baiknya dan menyenangkan seperti saat sekolah. Terima kasih kawan-kawan. Sampai berjumpa kembali di masa mendatang.

Advertisements

3 thoughts on “Reuni dengan Kawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s