Still I See You, Celestial!

Oh I think I landed
In a world I hadn’t seen
When I’m feeling ordinary
When I don’t know what I mean
(A Head Full Of Dreams – Coldplay)

Pasti pada heran… tumben judulnya kok menggunakan Bahasa Inggris? Hehe… ini bukan buat gaya-gayaan, ini adalah bukti kebingunganku mencari judul untuk tulisan untuk Gunung Ijen. Sebuah gunung yang aku daki bersama keluarga besar pada bulan Desember 2016 yang lalu. Kemegahannya sungguh menyiksaku untuk memandangnya dan enggan beranjak dari tempatku. Kalau tidak mengingat orang tua yang pada kedinginan aku pasti masih merenungi kemegahannya ini di atas sana. Seperti mimpi bisa naik gunung.

Aku mulai perjalanan ke Taman Wisata Kawah Ijen langsung dari kota Banyuwangi ya. Pembaca bisa berangkat dari kota asal masing-masing dengan memilih beragam alat transportasi mulai dari kereta api, pesawat, bawa mobil sendiri, bis, bahkan sepeda motor (asal kuat ya :-)). Jangan lupa untuk mencari tiket penerbangan atau kereta api melalui tiket.com atau mau pesan hotel selama di Banyuwangi juga tersedia di tiket.com. Mudah dan dijamin aman karena aku pun menggunakannya. Cek kesini ya … https://www.tiket.com/

Kami menuju ke Taman Wisata Kawah Ijen pukul 12 malam, saat pemandu kami menjemput di hotel tempat kami menginap. Kedatanganku ini adalah untuk yang pertama kali dan langsung membawa keluarga besar. Sehingga aku memakai jasa pemandu beserta jeep nya untuk menjemput kami di penginapan. Perjalanan dari hotel menuju ke Taman Wisata Kawah Ijen ditempuh sekitar 1 jam. Sekitar pukul 1 malam, kami sudah sampai di Paltuding, lokasi akhir sebelum menuju ke area pendakian. Saran sebelum melakukan pendakian, sebaiknya ke kamar kecil dulu supaya tidak bingung saat berada di atas gunung. Seingatku tiket masuk wisata ini sekitar Rp. 5,000 plus tiket memasuki perkebunan dikenakan Rp. 3,000. Biaya lain yang cukup mahal adalah sewa jeep yang bisa muat kami bertujuh (sekitar Rp. 500,000 biaya ini termasuk dijemput dan diantar ke penginapan kembali) dan biaya pemandu (aku memakai jasa Hendra Kartika sekitar Rp. 250,000). Kenapa aku memakai jasa pemandu? Karena ini adalah pertama kali aku naik gunung dan langsung membawa bapak dan ibu-ibu abdi yuswa (lansia) beserta anakku yang berusia 6 tahun.

ijen18
Kawah Ijen tertutup uap belerang

Akhirnya setelah persiapan ke kamar kecil dan memakai baju hangat, sarung tangan, dan syal, mulailah kami mendaki mendekati pukul 2 malam. Berdasarkan informasi pemandu kami, perjalanan mendaki Gunung Ijen sepanjang 3 kilometer biasanya ditempuh sekitar 2 jam lamanya. Ada beberapa pos yang bisa dijadikan tempat istirahat. Aku sudah mempersiapkan diri dengan memakai tas punggung supaya tangan bebas memegang anakku. Didalam tas, aku isi minuman, tisu, minyak angin, dompet dan handphone. Ini gunanya membawa pemandu karena aku tidak membawa senter. Padahal untuk pendakian malam, senter kecil ini bagian paling vital alias penting. Harap maklumlah…masih amatir, baru pertama kali mendaki.

Malam itu udara dingin sembribit (kalau orang Jawa bilang, maksudnya dingin menusuk sampai ke dalam hati) menyapa kami. Malam itu, kata pemandu kami, cukup banyak orang-orang yang melakukan pendakian. Sebagian adalah orang dari negara lain (terbaca dari ciri-ciri fisik mereka). Malam itu, anakku kebetulan adalah salah satu anak terkecil yang naik ke Gunung Ijen. Kami berjalan bersama-sama menuju pos 1. Orang berduyun-duyun ke atas melewati rombongan kami. Anakku cukup senang karena ramai. Padahal jalan yang kami lewati medannya menanjak dan masih alami. Kami beruntung pada hari itu tidak turun hujan. Ok, Pos 1 terlewati dengan baik dengan kondisi masih ramai orang. Mulai menuju Pos 2 para pendaki sudah pada ngebut naik ke atas dan meninggalkan rombongan kami yang memang berniat berjalan pelan-pelan. Sampailah kami di Pos 3 dan akhirnya kedua Ibu menyatakan sudah tidak sanggup mendaki. Setelah membujuk mereka, kami menyewa jasa troli yang memang menjadi penolong untuk para pendaki yang tidak sanggup mendaki. Satu troli ditarik oleh tiga orang. Alat angkut yang biasa mereka gunakan untuk mengangkut belerang telah beralih fungsi menjadi pengangkut manusia. Dua roda berada di sisi kanan dan kiri dari papan tersebut. Kalau posisi naik ke gunung, satu orang mendorong di belakang, dua orang menarik menggunakan tali di depan. Saat posisi turun gunung, cukup satu orang yang memegang kendali, seperti memegang handle sepeda dan lengkap dengan rem tangan.

Malam itu, aku bergaya hendak mengiringi para Ibu di samping troli. Sehingga rombongan kami bagi 2. Rombongan suami,kakak ipar, bapakku dan anakku berjalan pelan-pelan di belakang untuk menyesuaikan langkah bapakku dan aku mengiringi Ibu-Ibu. Oh…. Para penarik troli ini sudah berpengalaman. Mereka menarik troli dan berlari ke atas dengan cepat dan meninggalkan aku seorang diri dalam gelap sambil terengah-engah karena tidak sanggup mengejar. Hiiiii…… gelap kanan kiri .. aku takut juga. Meskipun langit cukup cerah namun tetap cahaya bulan kurang terang bersinar malam itu. Untung aku melihat di atas ada dua orang sedang istirahat, sambil mengumpulkan sisa tenaga, aku setengah berlari mendekati mereka dan meminta tolong untuk menemaniku sampai rombongan bapak-bapak yang kutinggal di belakang terlihat. Puji Tuhan mereka bersedia, hihihi. Bener-bener belagu payah nih aku… bergaya di awal tepar kemudian 🙂

ijen12
Troli pengangkut

Sepasang muda-mudi itu sudah mendaki Gunung Ijen untuk yang ketiga kalinya. Aku sempat bertanya apa tidak bosan naik gunung yang sama sampai tiga kali. Mereka mengatakan masih terobsesi untuk bisa melihat blue fire (api biru) di kawah Gunung Ijen. Wah, aku jadi ga enak hati karena meminta mereka untuk menemaniku sedangkan mereka hendak mengejar api biru. Jangan sampai gara-gara menemaniku mereka tidak berhasil melihat api biru lagi. Oiya sebagai informasi api biru hanya bisa dilihat saat gelap. Jadi kalau matahari sudah mulai menampakkan dirinya, keindahan api biru tidak terlihat. Berdasar informasi warga di sana, atraksi api biru biasanya berakhir sekitar pukul 4 pagi.

Setelah beberapa saat, rombongan bapak-bapak akhirnya terlihat. Lega rasanya. Setelah mengucapkan terima kasih pada kedua orang yang menemaniku, mereka cepat naik ke atas. Semoga mereka bisa mengejar api biru itu (doaku dalam hati). Aku menggandeng anakku yang saat itu sudah mulai kelelahan dan minta gendong. Pada saat  yang sama, angin bertiup kencang sekali. Udara dingin menusuk tulang. Untungnya hanya berlangsung sebentar. Anakku sempat rewel karena takut. Kami berpelukan saling menghangatkan badan. Nun jauh di bawah terlihat lampu-lampu rumah kota Banyuwangi kerlap kerlip.

ijen13Pelan namun pasti, sampailah kami ke Pos Bunder (Pondok Bunder – 2214 m dpl). Lega rasanya. Disana kedua Ibu sudah duluan sampai dan tersenyum menyambut kami. Di pos ini ada warung dan banyak tempat duduk untuk bisa mengistirahatkan sejenak kaki kita. Kami pesan teh hangat manis sebagai penguat di malam itu. Angin masih berhembus, udara dingin seakan berbisik kepadaku, “Ayo kamu pasti kuat, perjalanan tinggal sebentar lagi. Brrrr…… Dingiiiin….

Setelah beberapa saat, kami melanjutkan perjalanan kembali mendaki ke atas. Untuk membantu anakku melupakan rasa capainya, aku bercerita tentang keadaan sekeliling yang terlihat. Hitam gelap gulita ditemani senter, aku meminta anakku untuk memandang ke langit dan melihat betapa indahnya bintang-bintang betebaran di langit. Kemudian aku ceritakan juga bahwa mendaki ini adalah bagian dari pencapaian meraih mimpi. Kalau kita merasa lelah dan capai, boleh kita istirahat sejenak. Namun tujuan kita sampai di puncak harus tetap menjadi arah kita. Demikian juga mimpi. Berawal dari mimpi yang aku taruh di langit dan dititipkan pada bintang, mimpi itu akhirnya tercapai juga. Itulah mengapa aku selalu bersemangat karena aku memiliki mimpi. Kalau pembaca rajin mengikuti blogku, tentu sudah bisa menebak mimpiku saat masih seorang anak. Demikian juga sebagai seorang Ibu dan Istri, aku juga masih memiliki mimpi, namun belum bisa aku bagi ke pembaca karena masih dalam proses pendakian. Hahahahaha…  Anakku kemudian cerita kalau dia juga punya mimpi. Katanya dia pengen punya mobil Lamborghini. Weladalaaah… le le…. (mengelapkeningku)

Berhubung tanjakan semakin menukik ke atas, kami harus waspada. Mas Hendra, pemandu kami, aku minta menggandeng anakku karena aku sendiri harus berjuang menaiki jalanan tersebut. Sekitar 500 meter kemudian, akhirnya kami sampai pada bagian dari pendakian yang menyenangkan, yaitu jalanan datar. Anehnya justru di bagian jalan yang datar ini aku malah terjembab ke tanah hehe…mungkin kelelahan sehingga konsentrasi menurun. Untungnya aku selalu berpegangan pada sisi gunung bukan jalan yang dekat ke jurang. Setelah jatuh terjembab, dalam kegelapan itulah, aku melihat pemandangan yang luar biasa. Gunung Meranti berada di depan mataku, di mana awan yang menyelimuti badan gunung hanya berada 10 meter di depanku. “Negeri di atas awan” lagu karya Katon Bagaskara langsung melayang di kepalaku. Berselimut awan dan menunjukkan puncaknya yang mungil … indah sekali… aku menatapnya lama. Saking kagumnya aku sampai lupa memotret keindahan itu karena perjalananku masih berlanjut menuju puncak Kawah Ijen. Kata Mas Hendra, pemanduku. Kami beruntung bisa melihat Gunung Meranti berselimut awan dan puncaknya terlihat jelas karena biasanya tertutup kabut. Setelah hampir 3 jam berjalan, sampailah kami di Gunung Ijen (2443 m dpl).

ijen2
Gunung Meranti di pagi hari

Waktu menunjukkan pukul 4.45 menit. Matahari sudah mulai menunjukkan dirinya di sisi timur gunung. Aku agak bingung, waktu belum menunjukkan pukul 6 pagi, namun matahari sudah mulai bersinar. Apa mungkin karena di atas gunung jadi sinarnya terlihat duluan? Atau karena dekat dengan waktu Indonesia Bagian Tengah sehingga jamku yang menunjukkan pukul 4.45 sebenarnya adalah 5.45 WITA. Entahlah…. Aku tidak terlalu memusingkannya karena bisa sampai ke puncak ini adalah berkat Tuhan yang berlimpah. Di puncak sudah banyak sekali wisatawan yang berfoto, duduk, ataupun merenung. Tidak ada satu penjual makanan yang kami temui. Agak berbeda dengan di Gunung Bromo, dimana kami bisa makan mie rebus di atas gunung lengkap beserta kopi panas dan tehnya.

Aku memiliki sedikit cerita tentang penambang belerang. Pak Hot kebetulan orang yang trolinya kami sewa berkenan bercerita. Disini aku melihat bagaimana keberanian para pengambil belerang yang turun menuju lereng kawah untuk menambang belerang dan dijual ke pengepul seharga Rp. 1,000 setiap 1 kilogram belerang. Dalam sehari rata-rata mereka bisa menambang 80-100 kilogram. Bantuan sembako dari pemerintah kabupaten Banyuwangi juga sangat membantu kehidupan mereka sehari-hari. Aku sempat bertanya apakah mereka tertarik pindah ke pekerjaan lain, pak Hot ini menjawab tidak. Dia bahagia dengan pekerjaannya sekarang. Dia bilang memiliki dua pekerjaan. Kalau tidak ada pendaki yang menyewa trolinya maka dia kembali menambang belerang. Hehehe… persewaan troli untuk pendaki justru menjadi prioritas pekerjaan mereka 🙂

ijen14
Menghangatkan badan

Kembali ke aktivitas kami di atas Kawah Ijen. Dinginnya puncak, membuat para penambang membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka. Membentuk lingkaran mereka berdiri membelakangi api unggun tersebut. Anakku dan Bapakku pun ikut-ikutan menghangatkan diri di api unggun tersebut. Geli rasanya melihat ada anak kecil menyempil di situ. Oiya kalau mau memotret kawah berwarna biru bisa terlihat jelas saat kita naik di atas bukitnya. Lumayan berat medannya karena aku berulangkali terpeleset saat turun dari bukit setelah mengambil foto. Aku merasa lega dan bahagia karena kami semua bisa sampai puncak dan menikmati Kawah Ijen. Sungguh….mendaki gunung ini membuat ketagihan. Aku merasa bahagia dan tenteram bisa menatap bebas. Tebing tinggi menjulang ada di bawah kakiku dan saat aku melewatinya, jantungku berdegup kencang. Gembira dan bersyukur bisa merasakan ini. Awan seakan bisa aku raih dalam genggaman tanganku. Berderet gunung salah satunya Gunung Raung, hendak menantangku untuk aku kunjungi. Sorry my friend …. Aku masih jauh penasaran dengan api biru Gunung Ijen, my dude. Apalagi aku masih amatiran kelas teri. Pelan tapi pasti semoga bisa mengunjungimu lagi, Dude dan menatap api birumu. Still I see you, celestial!

ijen16

Perlengkapan tambahan:

  1. Senter kecil
  2. Masker hidung
  3. Kaos tangan
  4. Jaket dan sweater
  5. Topi (kupluk)
  6. Tas punggung (berisi minuman, camilan kecil seperti coklat atau biskuit crackers)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s