Hasil Perenunganku Selesai Membaca Buku Wonder

Menatap langit yang dipenuhi bintang pada malam hari ..like someone sprinkled salt on a shiny black table.

Menorehkan perenungan tentang diri sendiri setelah aku membaca buku Wonder karya R. J. Palacio. Buku ini menarik untuk dibaca oleh setiap orang. Baik anak-anak, remaja, bahkan dewasa ataupun orang tua. Tidak ada kata terlambat untuk merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Aku setuju bahwa buku adalah salah satu media terpenting dalam hidup seseorang untuk berubah. Bagiku buku membantuku berubah. Aku percaya sampai saat ini. Membaca Wonder membuatku malu. Mungkin di masa lalu, aku mengejek teman saat aku di bangku sekolah dasar, atau sekolah menengah yang mungkin aku lakukan secara tidak sengaja bahkan parahnya bisa disengaja. Atau bisa jadi aku adalah objek dari saling mengejek itu. Entahlah bisa jadi dua-duanya. Yang pasti, aku malu dan berniat merubah diri untuk menghentikan kutukan saling mengejek itu. Yang paling dekat dan paling bisa diubah adalah anakku sendiri. Kalau diadaptasikan dengan masa sekarang mungkin mengejek ini adalah suatu bentuk bully. Perilaku yang tidak baik untuk diteruskan. Kata orang jaman dulu, bully adalah salah satu cara tes mental. Biar kuat menghadapai dunia luar dan menambah rasa percaya diri, katanya. Aku tidak setuju. Percaya diri atau tes mental tidak harus ditanamkan dengan cara seperti itu. Mulai sekarang lupakanlah saling mengejek atau mem-bully teman.

Wonder bercerita mengenai seorang anak bernama August Pullman yang biasa dipanggil Auggie dalam keluarganya. Auggie dilahirkan dengan kondisi memiliki Sindrom Treacher Collins, yaitu kelainan genetik langka yang digambarkan memiliki bentuk wajah yang tidak sempurna. Antara lain memiliki komposisi mata yang tidak simetris (posisi mata ke bawah) dan hampir tidak memiliki daun telinga. Untuk bisa me-normal-kan wajahnya, Auggie harus melakukan operasi wajah berulangkali. Hal ini menjadi penyebab, orang tuanya memutuskan tidak menyekolahkan Auggie di sekolah formal. Karena setelah operasi, dia memerlukan waktu untuk pemulihan. Hingga akhirnya pada usia 10 tahun, orang tuanya merasa adalah saat yang tepat masuk sekolah. Waktu peralihan dari sekolah dasar ke sekolah menengah. Disinilah entry point kehidupan Auggie.

Mulai dari tidak ada yang mau berteman dengannya karena ketakutan melihat wajah Auggie. Bahkan hampir semua murid di Beecher Prep tidak ada yang mau tersentuh olehnya karena khawatir muka jelek tanpa bentuk adalah penyakit menular. Hingga akhirnya Auggie diterima oleh teman-temannya. Butuh perjuangan, kerelaan hati memaafkan, dan ketegaran hati menerima adanya perbedaan diri. Kehebatan buku ini adalah Palacio memberikan gambaran perasaan dari sudut pandang para tokoh utama yang terlibat. Mulai dari Summer, Jack, Via dan Justin. Dari sini kita bisa menangkap bagaimana perasaan masing-masing karakter terhadap diri Auggie. Inilah yang menjadi proses perenunganku. Aku memilih dengan jalan tulisan. Tulisan ini adalah salah satu media perenunganku. Dari menulis aku bisa berpikir dan mengembalikan memori pada masa lalu yang terjadi. Pelajaran berharga dari masa lalu adalah dengan tidak mengulangi kembali di masa mendatang. Untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman dan konflik. Buku ini memberikan contoh yang baik untuk berani mengungkapkan perasaan dan menjernihkan permasalahan. Tidak semua orang mendapatkan karunia untuk membaca pikiran orang lain. Sehingga dengan mau berempati dan membuka hati sebenarnya adalah salah satu cara meminimalisir terjadinya kesalahpahaman. Ini yang aku dapatkan setelah membaca buku ini. Oiya pembaca, aku tidak berniat menggurui. Aku memberikan informasi apa yang aku alami setelah membaca buku ini.

Ada salah satu bab yang sangat mengena di hati. Pada saat Pak Browne meminta anak-anak kelas 5 untuk menulis paragraf mengenai your deeds are your monuments. Tulisan Auggie dalam buku juga menjadi bentuk perenunganku yang lain. Beginilah kira-kira aku menerjemahkannya tulisan Auggie. Sesuatu yang kita lakukan lebih bertahan lama dari keabadian kita. Dia seperti monument dari batu atau kayu yang dibangun para manusia jaman dahulu untuk memperingati sesuatu. Perilaku kita adalah monument kita. Apa yang telah kita lakukan untuk orang-orang di sekitar kita itulah monument dalam memory mereka. 

Perhatikan sekeliling kita sekarang. Ada orang yang membangun sebuah gedung bertingkat, sekolah, kapal, tugu, patung dan telapak tangan dengan tujuan sebagai monument untuk mengingat seseorang. Itu bisa dilakukan jika kita memiliki banyak modal untuk terkenal, dikenang dan diabadikan dalam sebuah monument. Namun, jika kita masuk dalam golongan orang yang biasa saja, tidak banyak orang mengenal kita. Mungkin hanya satu dua orang tetangga bahkan segelintir teman sekolah yang mengenal kita. Aku pikir tidak perlu khawatir. Perilaku kita adalah monument kita. Sebagian memoriku di masa lalu sudah banyak yang hilang karena aku bukan tipikal pengingat yang baik. Ini salah satu alasan paling kuat aku membuat blog ini untuk membantuku mengingat. Maka saat whattapps booming dengan membuat grup untuk mengumpulkan teman-teman alumni sekolah. Hal yang aku lakukan adalah minta maaf. Mungkin di masa lalu, aku pernah melukai perasaan teman sekolah. Melalui tulisan ini juga aku menyampaikan permintaan maafku dengan tulus kepada semua orang di masa lalu yang pernah terluka oleh perilakuku. Aku hanya ingin hidup bahagia dan memberikan monument yang baik dalam ingatan orang-orang yang pernah bertemu denganku.

Pernah dalam suatu whattapps grup alumni sekolah dimana aku bergabung di dalamnya, aku sempat terhenyak. Mana kala salah satu teman SMPku mengingat aku sebagai orang yang mengajarinya membaca not balok saat kelas 1. Dia mengucapkan terima kasih. Jujur aku shock/kaget dan terharu karena perilakuku diingatnya sampai sekarang. Juga salah satu temen SDku mengucapkan terima kasih karena saat SD aku mengajarinya menulis aksara Jawa hanacaraka. Aku terharu. Jujur, aku lupa kalau pernah mengajari mereka. Aku tersenyum saat membaca testimoni mereka. Parahnya adalah aku sekarang lupa bagaimana cara membaca not balok dan aksara Jawa hahahahaha….. Aku merasa bersyukur ada dua orang yang mengingatku sebagai monument yang baik dalam ingatan mereka. Aku merasa bersyukur masih ada yang mengingatku. Itulah mengapa aku setuju dengan tulisan Auggie bahwa perilaku kita inilah monument kita.

Aku menyarankan pada para pembaca, jika ada waktu luang, tidak pernah ada ruginya kita membaca buku Wonder ini. Banyak hal baik bisa kita pelajari di sini. Khususnya mengenai perilaku diri kita. Terutama kita, orang tua yang sudah memiliki anak masuk sekolah dasar. Karena latar belakang buku ini saat Auggie masuk sekolah dasar tingkat 5. Aku bersyukur karena membacanya sekarang saat anakku masih kelas 1. Belum terlambat untuk membantu anakku membuat monument bagi dirinya dan dikenang teman-teman sekolahnya. Bahkan aku sempat terhenyak manakala ada salah satu bab yang terang-terangan menceritakan bagaimana seorang anak dididik dalam keluarganya dan terbawa di sekolah. Perilaku negatif maksudnya. Dari membaca buku ini, peran keluarga dalam pembentukan karakter anak sangat penting. Ini yang masih menjadi pekerjaan rumah besar untukku. Dalam sebuah sekolah pasti ada anak yang memang pintar dan pintarnya sudah tidak bisa ditawar lagi. Tokoh ini bernama Ximena Chin. Kemudian dalam suatu masa selalu ada anak-anak yang baik hati. Tokoh ini bernama Summer dan Jack. Para pembaca silahkan membaca Wonder ya.

 

“There are always going to be jerks in the world, Auggie,” she said, looking at me.

“But I really believe, and Daddy really believes, that there are more good people on this earth than bad people, and the good people watch out for each other and take care of each other.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s