Pada penjelajahanku ada banyak perkara kehidupan yang melintas. Pengalamanku mengatakan sebuah perkara bisa membuatku semakin sadar dan mengerti arah mana yang aku pilih.
Apa kabar pembaca?
Setelah berpuasa lebih dari dua bulan, adakah pembaca yang merindukan tulisanku?
Kali ini aku mau cerita mengenai salah satu kebiasaanku sejak kecil yang sampai hari ini masih setia aku lakukan.
Tulisan ini aku dedikasikan untuk penemu Misa Jumat Pertama yang membuatku semakin kuat dan percaya dalam iman.
Pertama kali aku mendengar istilah Misa Jumat Pertama ketika aku duduk di bangku sekolah dasar kelas 5. Setelah aku mendapat komuni pertama aku bergabung menjadi misdinar (putra-putri altar). Salah satu guruku, seorang frater mengatakan demikian “Jika kalian ingin terkabul doanya, maka anak-anak silahkan mengikuti Misa Jumat Pertama yang diselenggarakan setiap minggu pertama awal bulan selama sembilan kali berturut-turut”.

Aturannya demikian: misalnya, bulan Januari minggu pertama dimulai Misa Jumat Pertama, maka satu periode Misa Jumat Pertama 9 kali berturut-turut akan berakhir di bulan September. Namun, kalau bulan Agustus lupa tidak misa, maka pada bulan kesembilan yaitu September kembali lagi dihitung lagi dari awal (dari 1). Anak usia 11 tahun mendapat tantangan seperti itu ya langsung semangatlah. Apalagi aku termasuk anak yang suka tantangan dan permainan. Jadi satu periode Jumat Pertama ini seperti mengikuti sebuah permainan di kala itu. Aku berusaha rajin dan mengingat setiap Jumat diawal bulan aku mesti ke gereja. Ga mulus juga sih. Pernah sudah rajin lima bulan berturut-turut, eeeh.. bulan keenam lupa. Jadilah bulan depannya restart ulang lagi dari pertama. Rasanya gemas. Tapi begitu berhasil rasanya seperti memenangkan sebuah permainan.
Tatkala menetap di area Jabodetabek selama kurun waktu hampir 20 tahun ini, meluangkan waktu mengikuti misa tidak semudah saat aku tinggal di desa. Ada saja kesibukan bahkan kemalasan datang menghadang. Apalagi saat semuanya terlihat mulus dan baik-baik saja membuatku terlena. Hingga pada suatu masa terluka dan jatuh terkena batu, aku tahu kemana aku mencari obatnya. Di sini aku bersyukur karena suatu perkara membuatku semakin mencintai Tuhan Yesus yang menopangku.
Aku bercerita bukan dalam artian belagu atau mau takabur. Aku bercerita untuk memberikan kesaksian bahwa doaku dikabulkan. Setiap orang punya pengalaman sendiri, dan kalau aku memilih jalan ini sebagai pengalaman imanku semoga pembaca berkenan menghargai.
Waktu berlalu tanpa aku sadari, mengikuti Misa Jumat Pertama menjadi suatu kebiasaan. Semakin bertambah usia, aku semakin sadar bahwa pergi misa baik ke gereja atau meluangkan waktu melalui YouTube (karena kondisi saat ini) merupakan suatu bentuk ketekunan, keteguhan iman dan berserah diri. Percaya bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala peristiwa kehidupan untuk menopang, menolong, dan membimbing asalkan kita mau dituntun olehNya untuk hidup sesuai dengan rancanganNya yang berakhir dengan indah.

Leave a comment