Imajinasi Parallel Universe dan Moby Dick

Written by

·

Dear Pembaca, apa kabar? 

Kali ini aku tidak bercerita mengenai pendakian ke gunung karena musim hujan dan angin yang cukup kencang membuat kami tidak berencana mendaki di akhir tahun 2024. Aku bercerita tentang apa yang aku alami di bulan November dan Desember yang berkaitan sehingga aku bisa merangkai cerita ini untuk pembaca. 

Setelah lebih dari 11 tahun mengalami perubahan hidup dari ibu berkarier di kantor menjadi ibu berkarier di rumah, aku menemukan lagi hal baru.  

Fokus bergeser mulai dari mengenal dunia sebagai anak semua bangsa (Pramoedya Ananta Toer) menjadi ibu semua anak.  La kok? Iya rumah kami yang kecil untuk ukuran komunitas Banten adalah tempat berkumpulnya atau basecamp temen-temen anakku. Mereka bermain musik, berlarian di lapangan kampung dan main game bersama. Pernah suatu ketika di bulan November, mereka menonton film bersama, aku diminta menjadi petugas antar jemput mereka. Ok, aku siap menjalankan peranku sebagai sopir anak-anak.

Ingat pepatah simbok: tidak pernah ada sesuatu yang sia-sia jika pembaca melakukan tugas dengan tulus ikhas.  

Dan benar saja…dalam perjalanan mengantar keenam anak remaja ke bioskop, salah satu anak yang duduk di sampingku meminta izin menyambungkan telepon genggamnya ke mobil karena dia mau memutar lagu kesukaannya. Lagu-lagunya? Hem.. pembaca tidak akan menyangka. Sebagai gambaran anak-anak ini ekstrakurikulernya adalah catur.

Setelah acara kumpul remaja selesai. Aku punya PR untuk mengetahui dunia musik anak-anak ini karena lagu-lagu mereka membuatku penasaran. Untuk bisa mengobrolkan hal ini, aku harus mencari waktu yang tepat. Berdasar pengalaman pribadi, anak remaja tidak mudah terbuka pada orang tuanya tentang hobi yang disukai. Mereka lebih nyaman membicarakan hobi tersebut dengan teman sebayanya. 

Waktu yang tepat akhirnya datang juga. Pada saat kami melaju di ruas tol yang menghubungkan kota-kota di Pulau Jawa, aku bertanya lagu apa yang dia putar di dalam earphonenya? Awalnya dia tidak mau terbuka namun setelah aku pancing dengan obrolan Red Hot Chili Peppers (RHCP), dia mau berbagi playlist. Mulailah aku mendengar lagu-lagu Led Zepplein, Avenged Sevenfold, Slipknot, Nirvana, Rammstein dan Gojira.

Awalnya masih bisa menikmati, baru setelah lagu Slipknot berjudul Psychosocial,yungalah jantungku rasane arep ucul seko ragaku. Pembaca, aku simbok yang biasa mendengarkan lagu April-nya Fiersa Besari, Christmas Tree-nya V BTS, Willow-nya Taylor Swift langsung merasakan mual. Perutku rasanya dipukul pakai stick drum. Aku ra mudeng opo sing diomongke karo Corey Taylor. Saat mendengarkan Psychosocial pertama kali aneh di telinga. Namun aku harus bertahan karena aku sudah siap membuka diri. Akhirnya setelah dua tiga kali mendengarkan musik-musik ini, aku jadi paham kenapa anak-anak tersebut bisa menikmatinya.   

Mereka adalah anak-anak yang suka tantangan.  Sepertinya semakin sulit notnya semakin menarik bagi mereka. Kecepatan memukul drum juga memetik gitar dan menyanyi.

Perjalanan panjang menyusuri Jawa Barat ke Jawa Tengah membawa kami ke diskusi panjang lebar dengan anakku. Akhirnya aku mendapat informasi kalau salah satu drumer terhebat sepanjang masa adalah John Bonham (drumer Led Zeppelin). Silahkan pembaca mendengarkan lagu Moby Dick – Led Zeppelin. Kemudian menonton film Whiplash (2014). Aku yang tidak paham dunia drum menjadi sedikit paham kenapa tokoh utama film ini menjadi setengah gila. Karena tidak hanya skill yang excellent tetapi peranan emosi saat memukul drum sangat penting. Perubahan tempo, dinamika, ayunan stick, tarikan nafas, derap kaki seakan menyuruhmu seirama. Lupakan kalau kamu masih emosian, ga bakal bisa memainkan drum di lagu Moby Dick. Membutuhkan fokus yang sangat fokus disertai ketenangan hati kalau aku boleh berperibahasa. Lagu ini sangat berhubungan dengan psikologi manusia. #eeaa mulai deh sok tau

https://en.wikipedia.org/wiki/Flea_(musician)

Obrolan kemudian beralih ke Flea-Michael Balzary (basisnya Red Hot Chili Peppers) yang merupakan salah satu bassis terhebat saat ini. Pembaca bisa mendengarkan lagu Parallel Universe. Kelebihan Flea menurut anakku adalah dia bisa memainkan melodi dengan bassnya. Biasanya melodi dimainkan oleh gitaris. Nah di lagu PU ini, pembaca bisa merasakan alunan bass Flea memainkan melodinya. Ternyata asyik juga mendengarkan musik di luar kesukaan kita sehari-hari. Seakan pikiran kita ikut jalan-jalan menjelajah dalam imajinasi. Aku memejamkan mata saat Parallel Universe mengalun, aku berpakaian astronot sedang berjalan-jalan di angkasa melihat ke bumi. Di bumi ada seseorang sedang menatapku.

Staring straight up into the sky

Oh my my a solar system that fits 

In your eye microcosm

(Parallel Universe – Red Hot Chili Peppers)

One response to “Imajinasi Parallel Universe dan Moby Dick”

  1.  Avatar
    Anonymous

    Keren 🙏💖🙏

    Like

Leave a comment