Menuju 50 

Written by

·

Apa hadiah untuk diriku sendiri? Ketika seorang sobat bertanya, aku jawab, segelas kopi tuku di tengah hujan deras mengguyur kotaku. Bagiku secangkir kopi memberi warna sendiri untuk melakukan kegiatan di hari ini. Ada hal yang kusadari di usia sekarang yaitu minum es kopi saat hujan mengguyur tidak membuat pilek.

Akhirnya aku mulai paham, di usia menuju 50 dari puluhan orang yang disebut kenalan, pada akhirnya beberapa menjadi sobat setia yang mengingat bahwa hari ini aku bertambah usia. Sebagian orang akan mengatakan, 

Ah apa perlunya mengingat ulang tahun?

Paling ya begitu-begitu saja setiap tahun. 

Berulang! 

Ga ada perubahan hidup apalagi bertambah rejeki uang. 

Iya, aku sadar diusiaku dan teruntuk pembaca yang menuju 50 tahun, hampir semua memiliki beban tanggung jawab di pundak. Beban memberi nafkah untuk keluarga inti, keluarga besar bahkan keluarga lebih besar lagi yang sudah bisa disebut trah. Di usia ini garis tebal membentang antara mengucap syukur dan mengeluh. Garis itu seperti sebuah halangan supaya kalimat terima kasih Tuhan sulit terucap. Timbul pertanyaan mengapa? Apakah karena saat ini rejeki berupa materi masih kurang? Ditambah jika beban hidup hari ini pembaca bandingkan dengan impian semasa masih bersekolah (mimpiku dulu vs kenyataan hidup hari ini).  

Aku tahu bahwa harapan orang tuaku adalah menjadi seorang perempuan karier di kantor, lebih spesifik lagi adalah wartawan yang meliput sebuah berita. Orang tuaku tahu persis aku memang tertarik pada dunia jurnalistik dan ketika memutuskan untuk meraih impian, aku sudah tahu mau fokus menjadi wartawan di bidang politik.

Apakah tercapai? Tentu tidak. 

Aku hari ini adalah yang pembaca lihat yaitu seorang ibu rumah tangga yang merangkap sebagai penulis blog yang suka bercerita – suka curhat. 

Bagi sisi dunia kemasyarakatan, aku gagal meraih impianku di masa sekolah. Beberapa teman sekolah kaget dalam perjumpaan acara reuni. Ketika di bangku sekolah aku memang  fokus dan ambisius meraih impianku menjadi wartawan. Aku sibuk belajar dan rajin membeli majalan Tempo setiap minggu. Aku pun berlangganan koran Kompas. Dua media cetak favoritku di masa sekolah. Ketika lulus kuliah, aku mengirim surat lamaran pekerjaan ke puluhan koran dan media televisi. Tahun 2000an media cetak dan televisi sedang booming, kok ya satu pun tidak berjodoh denganku. Saat itu sedihnya banget, banget, pake banget.

Lini masa terkadang tidak sejalan dengan impian manusia. Tuhan selalu punya cara untuk menyayangi anakNya. Aku memilih kata menyayangi karena inilah perasaanku kepada Tuhan setelah aku menjalani usia menuju 50 tahun. 

Tuhan tahu betapa sembrononya aku dalam hal tindakan yang berhubungan dengan penasaran. Seandainya aku menjadi wartawan politik, kemungkinan aku sudah berada entah dimana. Bisa jadi hilang, bisa jadi pribadi yang congkak, tidak menghormati orang tua atau malah bisa jadi tinggal nama. Jiwa muda dan ambisiku dulu melampaui akal sehatku. 

Aku ga bermaksud membuat pembaca sedih dengan membandingkan masa lalu dengan hari ini. Aku ingin mengajak pembaca untuk mengucap syukur berterima kasih kepada Tuhan atas penyertaannya hari ini terlepas dari beratnya beban di pundak. 

Ceritaku bergeser ke topik kehidupanku khususnya dunia domestik. Semua hal domestik adalah menjadi hari-hariku. Lucunya ada teman sekolah yang tidak percaya kalau aku melakukan pekerjaan tersebut. La piye? Dia berpikir aku punya art 2 sampai 3 orang. Aku amin-in deh. Awalnya sedih kok rasanya kayak dibully ya. Dikatain untuk sesuatu yang tidak benar, seperti diejek. Trus aku pikir-pikir ya sudahlah sak karepmu. Tidak mengapa kalau hal ini bisa membuat mereka tersenyum, asalkan jangan menimbulkan iri hati karena teman yang lain berpikir apa yang dikatakan si X adalah suatu kebenaran. Wes aku rugi 2X, pertama dipitnah, kedua di-iri-ni konco untuk sesuatu yang tidak benar. 

Menuju 50 baru kepikir sekarang, kenapa sejak kecil aku tidak berdoa minta ART 2 atau 3 orang di masa dewasa? Siapa tahu kehendak Tuhan jadi dikabulkan hahaha… Aku becanda pembaca. Tau ga apa yang aku doakan sejak masih main monopoli di bangku sekolah dasar? Ini jadi rahasiaku dengan Tuhan. Kalau dikabulkan aku akan bercerita pada dunia. Kalau tidak dikabulkan ya aku ga akan cerita.

Aku berdoa minta diperkenankan berkunjung ke 3 kota dunia. Pertama mengunjungi Inggris, tepatnya ke Greenwich. Titik waktu 0 dunia. Berawal dari Greenwich inilah setiap orang di bumi melihat kearah jam mereka dan mengatur waktu pada saat tiba di lokasi yang berbeda dengan wilayahnya. Tulisan kelanaku ke Greenwich ada di https://mariasantimawanti.com/2015/08/24/menapaki-waktu-di-greenwich/

Kedua adalah Versailles. Istananya Marie Antoinette (1774-1792) dan Louis XVI (1754-1793). Sejarah mencatat slogan sebagai identitas negara Perancis saat ini, yaitu Liberté, égalite dan fraternité berawal mula dari Revolusi Perancis. 

Liberté adalah hak kekebasan individu untuk hidup merdeka tanpa penindasan 

Egalité adalah kesetaraan, semua orang sama di mata hukum

Fraternité adalah persaudaraan, solidaritas dan kerja sama sesama manusia demi kebaikan bersama. 

Aku belum sempat menuliskan cerita kunjunganku ke kota ini saking sibuknya mengurus rumah. Semoga 2026 ini aku sempat menyelesaikan tulisan. 

Ketiga adalah… Rahasia. Aku belum berhasil mencapainya. Adalah pamali untuk cerita ke hal yang belum terkabul. Doakan saja pembaca. Jika menjadi perkenanan Tuhan, aku bisa ke sana, inilah janjiku pada pembaca. Aku akan bercerita di blog ini.

Setelah muter sana-sini, izinkan aku berbagi pengalaman doaku. Misalnya pembaca mengeluh tentang kehidupan hari ini, aku mengajak pembaca memejamkan mata sebentar dan mengucapkan syukur terima kasih Tuhan. Dalam doa pembaca mohon sisipkan kerendahan hati dan kelemahlembutan. Supaya apa yang ada di hati kita sesuai perkenanan Tuhan. Kerendahan hati berhubungan dengan sikap hati, dimana kita bisa bersukacita melihat keberhasilan orang lain, ketabahan hati saat direndahkan dan tidak sakit hati kalau hasil karya tidak dihargai. Sedangkan kelemahlembutan berhubungan dengan mengontrol emosi, terutama saat amarah datang mengambil kendali diri kita. 

Pengalamanku memberi cerita bagaimana Tuhan adalah penyelamat hidup kita. Aku diubah untuk melihat dunia sebagai sebuah gambar utuh. Bahwa kesuksesan manusia tidak sekedar material atau wujud fisik seperti harta, jabatan di kantor dan status sosial di masyarakat. Kerendahan hati, rasa damai dan sukacita merupakan bentuk kesuksesan. Bisa tawakal saat sebuah kalimat menghampiri, 

Maneman sekolah sampai sarjana kok jadinya mung ibu rumah tangga. Biyen tak pikir kamu bakalan sukses jadi wanita karir di kantor.

Aku berhasil, pembaca. Aku tidak lagi terluka saat ada kalimat seperti itu. Waktu dan latihan mengenali diri, seraya berdoa penuh pada Tuhan adalah kunci menerima perutusan ini. 

Aku percaya hari ini orang tuaku tersenyum dan mengikhlaskan aku menjadi Ibu rumah tangga. Aku percaya ini adalah perutusan Tuhan atas kehidupanku. Dari mana tahu ini adalah perutusan-Nya? Panjang ceritanya…. Mesti butuh pertemuan langsung dengan pembaca sehingga aku bisa bercerita dari hati ke hati. #catetmenuju50

Leave a comment