Dik, kamu sungguh ingin ke istana?
Iya!
Aku ingat kala itu seorang kawan main ke rumah dan kita ngobrol ngalor-ngidul. Dia bertanya tempat apa yang ingin aku kunjungi di dunia ini? Aku jawab istana di Eropa. Trus dia heran kenapa harus istana? Apakah kamu ingin tinggal di istana? Kamu ingin jadi putri seperti cerita Disney? Istana bukannya banyak hantu gentayangan karena kekejaman bangsawan terhadap rakyatnya? Kok kamu aneh? Bertubi-tubi pertanyaan meluncur dari kawanku.
Setelah menghujaniku dengan retetan pertanyaan, dia terdiam. Aku tahu dalam diamnya, dia berpikir istana itu ribuan kilometer jaraknya dari sebuah kampung di Yogyakarta. Dia masih berusaha mencerna mengapa aku sangat yakin. Dia sangsi aku bisa mewujudkan impianku. Aku paham, maksudnya baik. Anak yang terkenal dengan mabuk darat ingin mengunjungi istana di Eropa adalah mustahil. Dia berharap aku logis supaya tidak kecewa. Istana di Eropa jelas tidak ada di Jakarta. Bagai pungguk merindukan bulan. Perlu sebuah perjalanan panjang untuk bisa mencapai, niat yang kuat, biaya yang ikhlas dan restu dari Tuhan. Kawan itu satu-satunya orang yang aku bocorkan tempat impianku. Biasanya untuk impian yang mustahil, aku simpan dalam hati dan tetap menjadi rahasiaku dengan Tuhan. Tapi entah mengapa hari itu aku bisa lantang menyuarakan impianku. Kalau sekarang dia membaca tulisan ini, aku mau mengatakan:
Dear kawan, aku berhasil!

Anak kampung itu mendapat restu dari Tuhan. Tidak hanya satu, dia berhasil mengunjungi dua istana terkenal di dunia. Ini semua berkat kemurahan Tuhan pada kehidupannya. Tuhan mengetahui anak itu selalu ingin tahu. Cara pandangnya berubah ketika dia melihat dunia secara langsung. Bahwa di atas langit ada langit yang saling bertumpuk ke atas tak terhingga, demikian juga di bawah bumi masih ada berlapis-lapis batuan yang jauh ke bawah. Cara pandang memaknai kehidupan pun berubah. Tidak perlu menginginkan kehidupan orang lain sampai stres bahkan menangisi keadaan. Demikian juga tidak perlu bersikap arogan sampai merendahkan orang lain karena keberhasilanmu hari ini berkat doa banyak orang.
Hiduplah sewajarnya,
kontrol emosi dan ambisi supaya tetap pada porsinya
maka kerakusan dan kemarahan tidak sempat mendatangimu.

Selanjutnya mari kita kembali ke pertanyaan yang paling dinantikan oleh pembaca. Mengapa istana di Eropa?
Aku penasaran pada perubahan tatanan dunia. Tulisanku di bulan sebelumnya https://mariasantimawanti.com/2026/01/30/menuju-50/ bercerita mengenai 3 kota impianku di masa remaja. 2 kota berhasil aku datangi. Nah tulisan ini untuk memenuhi janjiku kepada pembaca setia. Aku merasa ada koneksi antara aku dan pembaca. Tulisanku adalah diari perjalanan kehidupanku. Kota impian pertama adalah Greenwich yang bicara tentang perubahan arah waktu. https://mariasantimawanti.com/2015/08/24/menapaki-waktu-di-greenwich/ Kota impian kedua adalah istana yang bicara tentang perubahan tatanan kehidupan masyarakat terkhusus hak dan kepemilikan atas diri sendiri. Aku berkunjung di tahun 2012
Istana merupakan bukti bagaimana manusia dikelompokkan menjadi kelas bangsawan dan rakyat biasa. Hak dan kewajiban diatur sedemikian rupa. Kita yang lahir dari rahim rakyat tidak memiliki hak terhadap diri kita sendiri. Rakyat tidak diperbolehkan memakai barang yang indah karena semua keindahan hanya milik kaum bangsawan. Manusia yang lahir dengan memiliki kehendak bebas menjadi terbelenggu karena aturan tersebut. Pemikiran ini mengganggu masa remajaku, kalau dilahirkan menjadi kaum bangsawan akan terus jadi bangsawan sedangkan rakyat ya jadi rakyat. Sekedar penonton tanpa bisa ambil suara dan peran dalam kehidupan. Pasti ada momen dimana sebuah perubahan kepemilikan hak diri sendiri terjadi. Dimana momen itu berasal? Sebuah istana di Eropa.


Istana itu adalah Versailles. Aku teringat pernah membaca komik Jepang berjudul Rose of Versailles (Lady Oscar). Ternyata bacaan itu turut andil menetap di pikiran. Istana Versailles adalah salah satu awal mula perjalanan Prancis menuju pemahaman setiap manusia adalah setara, sederajat dan bersaudara. Terletak di negara Prancis tepatnya dibagian barat daya ibu kota Paris, perjalanan menuju Versailles bisa ditempuh naik kereta selama lebih kurang 50 menit. Istana Versailles pernah menjadi istana Marie Antoinette (1774-1792) dan Louis XVI (1754-1793). Gaya hidup Marie Antoinette adalah salah satu pemicu kemarahan rakyat dalam Revolusi Prancis (1789-1799) yaitu kemewahan berlebihan yang dipertontonkan pada saat rakyat bergelut dengan kemiskinan, dipaksa membayar pajak tinggi, panen buruk dan kondisi keuangan negara yang hampir bangkrut. Hasil dari Revolusi Prancis inilah yang menarik perhatianku sebagai manusia. Aku bercerita mengenai tiga slogan identitas Negara Prancis yaitu Liberté, Égalite dan Fraternité.
Liberté adalah hak kekebasan individu untuk hidup merdeka tanpa penindasan
Egalité adalah kesetaraan, semua orang sama di mata hukum
Fraternité adalah persaudaraan, solidaritas dan kerja sama sesama manusia demi kebaikan bersama.




Ketiga kata tersebut terinspirasi dari tiga filsuf yang mencetuskan hal ini.
John Locke (1632-1704) menekankan tentang kebebasan dan hak asasi. Hak berfungsi mempertahankan hidup dan harta benda yang dimilikinya. Pemikiran Locke ini yang menjadi dasar kedua filsuf Prancis (Rousseau dan Montesquieu) untuk merumuskan pemikiran mereka tentang hak manusia secara lebih mendalam. Salah satu gagasan Locke adalah pemerintah wajib bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Jika rakyat merasa pemerintah tidak berhasil memenuhi keinginan mereka maka rakyat memiliki kekuasaan untuk mengubah pemerintah. Gagasan inilah yang memicu pemikiran bahwa rakyat berhak melakukan revolusi.
Jean-Jacques Rousseau (1712-1778) tentang rakyat berdaulat yang memiliki persamaan dimata hukum. Konsep Du Contract Social (1762) menjelaskan bahwa kekuatan politik yang sah berasal dari persetujuan bersama (kehendak umum) antara pemerintah dan masyarakat, bukan hanya berasal dari raja. Rakyat dilibatkan dalam merumuskan kebijakan dalam pemerintahan. Hal kedua pemikiran Rousseau mengenai Kebaikan Alami Manusia bahwa pada dasarnya manusia baik saat berada dalam “keadaan alamiah”. Namun kebaikan itu bisa rusak oleh institusi masyarakat dan peradaban yang tidak adil. Untuk itulah pemerintah harus melindungi hak rakyat untuk hidup setara, bebas merdeka.
Charles-Louis de Secondat, Baron de La Brède et de Montesquieu (1689-1755) merupakan nama lengkap filsuf ketiga. Saat menuliskan nama lengkapnya aku malah berpikir untung dia ga ikut UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), bisa frustasi dia tatkala mengisi bagian nama di kertas jawaban. Konsep Montesquieu merupakan pengembangan dari John Locke yang membagi kekuasaan menjadi legistatif, eksekutif dan federatif. Montesquieu membagi tiga kekuasaan sebagai konsep yang diadaptasi banyak pemerintahan dunia sebagai Trias Politica, yaitu legislatif (pembuat undang-undang), eksekutif (pelaksana undang-undang) dan yudikatif (pengawas dan mengadili pelanggar undang-undang). Ketiga kekuasaan ini bekerja secara mandiri dan dipisahkan secara tegas dengan tujuan menjamin kebebasan dan melindungi hak asasi rakyat. Serta mencegah kekuasaan yang absolut dan tirani.






Revolusi Perancis merupakan penebusan rakyat Perancis demi perubahan tatanan kehidupan masyarakat. Tatanan yang kemudian diadaptasi oleh banyak negara di dunia sebagai keseimbangan hak dan kewajiban bernegara. Aku pun berada di sebuah negara yang memiliki tatanan pemerintahan ini. Aku bertumbuh sebagai manusia yang memiliki kehendak bebas untuk berpikir dan menyuarakan pendapatku dalam tulisan tanpa perlu izin kepada bangsawan. Aku juga bebas memiliki barang yang menjadi minatku tanpa khawatir dilarang oleh para bangsawan. Aku juga bebas berpindah pekerjaan tanpa pamit dulu pada para bangsawan. Aku merasa sebagai pribadi yang merdeka.
… Tuan sendiri seorang pengagum Revolusi Prancis, mendudukan harga manusia pada tempatnya yang tepat.
(Pramoedya Ananta Toer dalam Anak Semua Bangsa, 2006)

Leave a comment