Ketika Simbol dan Makna Beradu dalam The Prisoner of Beauty 

Written by

·

Pendahuluan

Gempuran kalimat bujukan dari teman-teman untuk menonton drama dari negara Tiongkok (aku sebut sebagai dracin) membuatku menyerah. Si pecinta drakor akhirnya menonton dracin. Lupa-lupa ingat sepertinya dracin terakhirku adalah Meteor Garden. Ya sudah akhirnya aku menonton beberapa judul dracin untuk bisa menemukan apa sih kelebihan dracin. Penemuanku adalah banyaknya jumlah episode (ada 25, 36 sampai 40 episode) membuat penonton mengenal sebuah karakter secara utuh. Pengenalan tokoh berjalan sangat lama dan terkesan membosankan untuk aku yang terbiasa menonton drakor yang hanya 12 dan 16 episode. Lama-kelamaan aku mendapatkan polanya. Kalau di drakor, kilas balik (flashback) biasanya dibuat scene tersendiri untuk menjelaskan alur cerita. Beberapa drakor menggambarkan masa lalu tokoh di awal episode untuk memudahkan penonton mendapatkan background dari suatu peristiwa atau penokohan. Sedangkan di dracin, aku jarang menemukan adegan kilas balik di awal episode. Dracin lebih sering menampilkan kilas balik berupa sisipan kecil di tengah episode, sekedar me-reminder penonton dulu dia pernah mengucap atau melakukan apa. Masa lalu dari seorang tokoh akan diungkapkan pararel dengan berjalannya cerita maju ke depan. Penonton diminta untuk mengikuti dan menyimpulkan rangkaian adegan percakapan panjang antar tokoh. Nah ini kesalahanku saking seringnya melakukan skip skip adegan saat menonton dracin. Aku jadi ga mudeng ceritanya kenapa suatu adegan tiba-tiba terjadi. Ternyata dari pembicaraan panjang itulah disisipkan latar belakang kehidupan tokoh di masa lalu. 

Dengan intonasi suara pelan dan alur yang lambat, kadang membuat mataku ngantuk. Itulah kenapa untuk beberapa episode dracin aku perlu mengulang untuk mendapat jalan cerita secara runut. Satu hal yang sempat membuatku kecewa adalah mereka irit plot twist, padahal itu menjadi kesukaanku menonton drakor yaitu selalu ada kejutan dalam setiap judul. Akhirnya aku sadar, aku perlu mengubah mindset ketika menonton dracin. Aku sedang membaca buku setengah perjalanan hidup seseorang karena kebanyakan dracin berakhir di episode menikah, END! 

Dari setengah perjalanan hidup para tokoh, aku mencari inspirasi hidup. Bagaimana kebiasaan dan budaya yang ditampilkan di dracin? Supaya tidak bosan aku pararel menonton dracin berlatar waktu kehidupan modern dan kehidupan saat masih berbentuk kekaisaran. Setelah menonton maraton beberapa judul dracin, aku memilih The Prisoner of Beauty (TPOB) untuk aku bagikan sebagai pengalaman menonton dracin kepada pembaca setia blogku. Sebenarnya ada satu lagi dracin berjudul Hidden Love yang mau aku ceritakan tapi setelah aku pikir kembali TPOB lebih universal. Mohon dicatat diawal, simbok adalah ibu rumah tangga yang sehari-hari berkutat kerjaan domestik. Jadi disclamer dulu ya. Kalau ada mis mis interpretasi ya tolong dimaklumi.

Mengapa bukan POJ?

Pertanyaan pembaca; Mengapa aku tidak memilih Pursuit of Jade (POJ) untuk dibahas? Padahal saat tulisan ini dibuat (April 2026), POJ sedang meledak dalam berbagai platform serial film. Banyak orang terpana dengan simetrisnya ukuran fisik dan kecerdasan otak Zhang Linghe. Jawaban pertama adalah sejak awal menonton film, aku jarang tertarik dengan aktor asli. Aku tertarik dengan penokohan. Jadi begitu serial film selesai maka nge-fans tokoh tertentu juga selesai. Jawaban kedua adalah aku melihat POJ memiliki banyak percabangan cerita mulai dari kisah romansa kedua tokoh utama, ditambah romansa dua pasang tokoh pendamping, kehidupan pedesaan dan ibu kota, intrik perebutan wilayah termasuk situasi perang dan terlalu banyak adegan ga masuk akal membuat simbok kesulitan untuk sinau  budaya mereka.  

Dibandingkan dengan TPOB yang lebih fokus pada cerita keluarga, tidak banyak percabangan cerita. Aku belajar tentang proses komunikasi antara suami dan istri, anak dan ibu, mertua dan menantu, nenek dan cucu, jenderal dan bawahan, sesama kolega, penguasa dan rakyat. Perbedaan pola komunikasi ini menarik minatku untuk bercerita kepada pembaca. 

Mulai Pembahasan TPOB 

TPOB menceritakan perjalanan sepasang manusia membentuk sebuah keluarga dan bertumbuh di budaya bangsawan Tiongkok masa Kaisar Han dalam suasana perang perebutan wilayah. Perselisihan kedua keluarga besar Wei (dari Negara Wei) dan keluarga Qiao (dari Negara Yanzhou) selama 14 tahun didamaikan dengan pernikahan kedua cucu yaitu Wei Shao dan Qiao Man. Pernikahan paksa ini tentu tidak mudah bagi keduanya karena dendam masa lalu dimana kakek, ayah dan kakak dari Wei Shao dibunuh oleh kakeknya Qiao Man. Kedua keluarga sepakat memaafkan dosa masa lalu dengan membentuk aliansi melalui pernikahan. Bagi para pecinta film kolosal, pertempuran yang terjadi di episode-episode awal TPOB adalah pemanis. Lebih dari 70% dracin ini menitikberatkan percakapan bukan action. Jadi yang mendambakan pertempuran kolosal, serial ini bukan pilihan. 

Aku menonton serial ini sebanyak 2 kali. Pertama aku banyak skip karena 36 episode lumayan membuat klenger yang biasanya hanya sanggup 16 episode. Namun, setelah selesai di episode 36 aku merasa ra mudeng. Iki mau opo sing tak tonton? Saat akan bergeser ke judul dracin yang lain, tiba-tiba aku menemukan sebuah pembahasan menarik tentang serial TPOB di aplikasi threads. Bahwa serial ini tidak sekedar love story semata. Ada ambisi, politik,  pengkhianatan dan kesetiaan yang beriringan terjadi. Jadilah aku mengulang menonton kedua kalinya dengan seminim mungkin skip skip. Aku baru bisa paham jalan ceritanya. Aku bagikan tiga hal pola komunikasi dalam keluarga Wei yang menempel di pikiranku untuk pembaca. 

Pola komunikasi pertama adalah komunikasi kepada nenek atau ibu. Aku baru tahu, meskipun menganut budaya patriarki, para jenderal bahkan gubernur sekalipun tetap harus hormat dan santun kepada nenek dan ibu. Nenek yang disebut dalam terjemahan sebagai Nyonya Besar sangat berkuasa dalam mengurusi urusan rumah tangga keluarga. Karena para lelaki harus berperang maka anak dan keluarga dititipkan ke nenek dan ibu yang mengurus. Khusus pembicaraan mengenai strategi perang, nyonya besar (nenek) tidak dilibatkan. Namun ketika suasana genting peperangan, seorang Nyonya Besar diperkenankan mengerahkan pasukan. Ada adegan yang membuatku terharu yaitu penghormatan seorang cucu (pemimpin negara musuh) yang melakukan penghormatan ke neneknya. Mungkin di medan perang mereka saling membunuh namun jika sudah mengingat kebaikan nenek, cucu harus membalas budi kepada orang yang membesarkannya.

Penghormatan kepada Nenek dan Ibu merupakan salah satu satu budaya yang disebut Budaya XIAO (Bakti Anak). Budaya ini berasal dari ajaran filsuf KONFUSIUS (Kong Hu Cu) yang hidup sekitar tahun 551-479 SM. Budaya XIAO mengajarkan berbakti kepada orang tua adalah kebajikan yang paling utama. Kedudukan ibu dianggap mulia karena telah melahirkan dan membesarkan. Dengan berbakti kepada orang tua dianggap bisa membawa berkah (surga) dan keharmonisan hidup.

Pola komunikasi kedua yang menarik adalah proses komunikasi suami istri Wei Shao dan Qiao Man di awal pernikahan yang banyak terjadi kesalahpahaman. Pola komunikasi mereka banyak menggunakan simbol yang sama tanpa ada kesamaan makna. Hal ini jelas menyebabkan kesalahpahaman komunikasi. Rakhmat (1999: 8) mengungkapkan bahwa simbol merupakan kata-kata yang dituliskan dan diucapkan, gambar, gerakan, sikap tubuh, perangai dan pakaian. Karena pernikahan ini bersifat transaksional, maka aku mengambil teori komunikasi transaksional dari Dean Barnlund (1970) untuk mendefinisikan makna yaitu bukan sesuatu yang terkandung dalam pesan itu sendiri melainkan sesuatu yang diciptakan secara aktif selama proses komunikasi berlangsung. Penciptaan ini erat kaitannya dengan pengalaman hidup dua subyek yang saling berkomunikasi. Mengingat latar belakang pengkhianatan keluarga Qiao maka proses komunikasi mereka berdua selalu penuh curiga dan waspada. Itu yang menyebabkan sebuah simbol tidak berujung pada kesamaan makna. 

Wei Shao dan Qiao Man adalah dua orang asing yang tidak saling mengenal namun terpaksa untuk menikah dan hidup bersama. Cara penyampaian pesan tidak bisa lugas terucap dalam susunan kalimat. Proses pengenalan secara pribadi dan percakapan dilakukan dengan berbagai macam simbol.

Melalui dracin TPOB, pembaca bisa belajar aneka macam simbol yang dipakai kedua orang tersebut untuk memperoleh banyak emosi. Simbol bantal, tusuk konde, alas untuk menulis dan simbol kertas bergambar bunga misalnya, bisa membuat pembaca tertawa. Simbol kotak penyimpanan bisa membuat pembaca gregetan. Simbol lilin membuat pembaca sedih dan melo. Simbol kota Boya bisa membuat pembaca marah. Dari pola komunikasi sebatas melalui simbol, akhirnya berkembang ke penyingkapan diri Wei Shao. Teori penyingkapan diri pertama kali dikemukakan oleh Sidney Jourard tahun 1971. Teori ini menyatakan proses seseorang secara sukarela membocorkan informasi pribadi tentang dirinya kepada orang lain. Dalam situasi Wei Shao dan Xiao Man, pola komunikasi mereka mulai terjalin dengan baik pada saat Wei Shao menjelaskan isi yang ada dalam kotak penyimpanannya. Selama ini Qiao Man dilarang menyentuh isi kotak tersebut. Sejak penyikapan diri mulai berproses, masing-masing mulai jujur dalam berkomunikasi dan memastikan penggunaan simbol memiliki makna yang sama. Mereka mulai berani menyusun kalimat secara lebih eksplisit (gamblang, terus terang). Penyikapan diri merupakan langkah awal komunikasi yang sehat antara suami dan istri. 

Pola komunikasi ketiga berhubungan dengan situasi perang. Perang di TPOB adalah tentang memilih aliansi. Ucapan kesetiaan pun teruji di masa depan. Apakah konsisten dengan janji saat diucapkan? Atau memilih pihak lawan dan menjadi pengkhianat? Adalah sosok Su E Huang (Nyonya Menara Yu) dan Wei Yan (Sepupu Wei Shao) yang lihai berkomunikasi untuk tujuan mengadu domba. Ambisi Su E Huang untuk memecah aliansi Wei dan Yanzhou. Ambisi Wei Yan untuk memisahkan Wei Shao dan Qiao Man. Pola komunikasi mereka sudah dalam tahap pakar. Cara menyampaikan pesan cukup melemparkan sebuah kalimat mengambang supaya penerima pesan masing-masing menangkap informasi secara personal (subyektif). Tujuan kalimat dilontarkan memang untuk membuat pertikaian dan perpecahan. Karena manusia memiliki pemikiran berbeda sehingga rentan muncul perbedaan pendapat. Saat perbedaan pendapat sudah terjadi, kedua ahli ini tinggal mengarahkan sesuai dengan keinginan mereka. Episode beras dari Yanzhou dan perselisihan rumah tangga Wei Shao dan Qiao Man merupakan hasil dari kelihaian komunikasi kedua orang ini. Dalam situasi seperti ini dibutuhkan hati dan pikiran jernih baru bisa mengambil keputusan lebih teliti. Pengambilan keputusan saat emosi sedang tidak stabil akan menghasilkan kehancuran sendiri. 

Dari beberapa ceritaku tentang pola komunikasi, terakhir aku mengajak pembaca berselancar mengenal kehebatan Qiao Man dalam berdiplomasi secara politik. Ketika proses pembangunan Kanal Yongning mengalami hambatan, Qiao Man berinisiatif mengambil alih strategi membujuk Bupati Rong karena Wei Shao sakit terkena panah beracun. Mengasah otak dengan permainan yang penuh pikiran membuat Qiao Man berhasil menundukkan Yuan Wang (Bupati Rong) untuk menyetujui pembangunan kanal Yongning di wilayah tersebut. Dengan cara menyusun siasat cerdas. Mengundang bupati untuk bertanding catur kemudian menyembunyikan satu sandal bupati. Ketika bupati sudah pulang dari rumah singgah Gubernur Wei Shao, Qiao Man menyuruh ajudannya mengantarkan sandal ke rumah bupati. Ajudan membawa dua kotak, yang satu berisi permata yang satu berisi sandal. Mengetahui bahwa segala tindak tanduk mereka diikuti oleh anak buah Wei Dian (paman Wei Shao yang berencana jahat memberontak pemerintahan Wei Shao), ajudan Qiao sengaja menjatuhkan kotak permata tepat di depan rumah bupati Yuan Wang supaya mata-mata Wei Dian melihat. 

Ketika sudah menghadap bupati, ajudan hanya menyerahkan sandal yang tadi  (seolah) ketinggalan di rumah singgah gubernur. Bupati mengucapkan terima kasih perihal sandal tersebut. Di satu sisi Wei Dian menganggap bahwa bupati sudah tidak patuh kepadanya karena laporan dari mata-mata, bupati telah menerima sogokan (kotak permata) sebagai bentuk persetujuan pembangunan kanal Yongning. Dua pesan berbeda inilah yang dimainkan oleh Qiao Man untuk memecah aliansi Bupati Rong, Yuan Wang dengan Jenderal Wei Dian yang berniat memberontak.

Menurut Meadow (1980) komunikasi politik adalah segala bentuk pertukaran simbol atau pesan yang secara signifikan dipengaruhi oleh atau memiliki konsekuensi terhadap berfungsinya sistem politik. Mengacu pada pemahaman Meadow, simbol yang dipertukarkan adalah kotak berharga. Apa yang perlu dilihat oleh mata-mata dan apa yang perlu dilihat oleh Bupati Rong adalah bentuk komunikasi melalui simbol yang berhasil dalam diplomasi pembangunan kanal ini. Dalam dunia politik penggunaan simbol ini penting karena berfungsi sebagai kunci pembentuk sebuah makna dari penerima pesan. 

Dulu aku berpikir kalau mau belajar taktik strategi dalam dunia diplomat, belajarnya dari serial film US seperti Homeland, House of Cards dan The Diplomat. Ternyata dari serial dracin ini aku mendapat pelajaran mengenai simbol dan makna dalam dunia pertukaran informasi. Terima kasih pembaca sudah berselancar bersamaku di tulisan panjang kali ini. 

Kabut yang samar dan sinar yang luas 

Memancarkan matahari serta bulan

Menarik energi dari segala penjuru

Dan mengumpulkannya di dataran tengah

Mengubah senjata tajam menjadi 

Tanah yang hening

(Gao Heng – The Prisoner of Beauty)

Leave a comment