Halaman Threads-ku dipenuhi berita tentang “selebritas” laki-laki yang meminta perhatian dunia tentang luka hatinya ke mantan istri. Di dalam curhatannya, dia membandingkan perilaku mantan istri dan istrinya sekarang. Padahal mereka baru saja menikahkan anaknya dengan spektakuler. Aku berpikir diusianya middle age seharusnya bisa bersikap ke arah bijaksana dalam mengendalikan emosi dan tangannya di media sosial. Aku jadi teringat cerita mereka tentang hubungan pertemanan berakhir pecah karena sebuah perasaan yang tidak bisa dikendalikan.
Ah… gara-gara berita ini aku jadi ingin bercerita di waktu sekolah.

Aku sekarang dan waktu sekolah berbeda. DULU, kepribadian easy going memudahkanku akrab dengan banyak teman tanpa proses skrining. Energiku sebagai remaja ektrovert menyala sehingga mudah mendapat info atau gosip dari beberapa sumber sekaligus. Laki-laki dan perempuan semua bisa jadi temanku. Mereka menjadikanku tempat curhat. Biasanya masalah pacaran; ada orang ketiga, trus naksir teman dekatku tapi ga ngerti cara mendekatinya, zaman dulu masih pakai surat jadi mereka minta bantuanku menulis surat cinta, ada juga yang minta saran apakah boleh cinta pacar teman? Statusku yang lajang memberiku kebebasan memberikan saran. Pernah suatu hari teman bertanya: Kenapa aku ga pacaran? (mereka anggap aku paham dunia pacaran) Jawabku: Bapakku galak! Hahaha… Aku prefer laki-laki yang usianya 5 tahun di atasku dengan harapan bisa menjawab segala pertanyanku yang saat itu tertarik dunia politik. Alhasil teman-temanku yakin, aku ga bakal naksir apalagi merebut pacar mereka yang rata-rata sebaya kami. Jadilah mereka mempercayakan rahasianya kepadaku.
Saking dipercaya menjadi teman curhat, aku saksi mata perjalanan temanku gething nyanding. Sebuah pepatah Jawa yang artinya seseorang yang awalnya benci namun justru menjadi dekat dan akrab. Awalnya maki-maki berakhir dengan love story khas remaja. Setiap kali mengingatnya aku geli sendiri (benci jadi cinta). Cerita lain adalah temanku sebut saja X punya pacar Y. Masalahnya Y juga memberikan perhatian intens ke temanku Z. Nah rumahku menjadi tempat curhat X dan Z. Untung setiap mereka ke rumahku datangnya pakai janjian, coba kalau dadakan trus ketemu bareng di rumahku, ceritanya bakalan lain. Ok lanjut, X tahu bahwa Y cinta sama Z. Tapi X sudah terlanjur cinta banget sama Y jadi ga mau putus. Dia curhat bagaimana cara supaya Y hanya cinta padanya. Kalau Z curhat awalnya dia hanya sebatas sahabatan sama Y namun lama-lama kok menjadi cemburu kalau X dan Y bersama.
Dengan sok-sokan bergaya psikolog, aku sabar mendengarkan curhatan X dan Z. Aku ga mengonfrontasi X dan Z karena masing-masing adalah klienku. Tentang Y bagaimana? Apakah aku mendatangi Y? Tentu tidak. Kan aku psikolog bukan tukang labrak jadi aku menyimpan rahasia X dan Z. Tentang Y, suatu saat dia menuai sendiri apa yang dia tabur.

Remaja semasa SMA berkenalan dengan sesuatu yang baru yaitu emosi ketertarikan dengan lawan jenis menimbulkan perasaan takut dikhianati, takut kehilangan dan cinta setengah mati. Kedua temanku X dan Z melalui proses emosi ini. Dari pengalaman cerita sewaktu sekolah, harapanku mereka belajar bagaimana mengendalikan ketertarikan pada lawan jenis secara logis termasuk status orang di masa depan. X semoga bisa berpikir logis bahwa Y bukan orang yang layak dicintai setengah mati. Z belajar jika seseorang sudah kepunyaan orang lain, berhentilah berharap! Berdoa secara khusyuk mematikan perasaan tersebut untuk tidak berkembang. Aku punya keyakinan, apa pun yang kita minta dalam doa dengan penuh kerendahan hati dan pengampunan dosa, kiranya Tuhan berkenan mengabulkannya.
Ketika menulis cerita ini, aku baru sadar aku duluan menjadi tuwa saat sekolah. Aku punya prinsip perihal emosi ketertarikan lawan jenis. Salah satu prinsipku adalah tidak boleh mencintai pacar temen. Apalagi sampai ada pacar temen menyatakan cinta kepadaku, langsung blacklist. Mengapa? Begini, aku punya pemikiran kalau antar temen saja bisa saling cinta padahal sudah berstatus pacar teman, bagaimana dia bisa mengendalikan emosinya di masa depan untuk tidak cinta pada istri atau suami orang lain? Kebiasaan terjadi karena ada proses pengulangan perilaku. Aku belum tahu apakah ada penelitian tentang korelasi antara cinta pacar teman di masa sekolah dengan kesetiaan seseorang saat sudah berumah tangga (keluarga). Jadi ini sebatas pendapatku pribadi (terpicu kasus “selebritas” di atas). Mohon maaf pembaca kalau tidak berkenan.

Leave a comment