Menghapus Laraku di Toko Sudut Yogyakarta

Written by

·

Sejak kecil aku memang suka membaca buku. Salah satu buku favoritku adalah komik Jepang. Mahalnya harga komik Jepang hanya memberikan pilihan untuk meminjam teman atau menyewa di tempat persewaan buku dengan tarif satu buku seharga Rp100 untuk satu hari. Hari ini pinjam besok dikembalikan. Tempat penyewaan buku ini hampir semua adalah komik berseri dari Jepang. Ini mirip seperti drama Korea yang on going, semua menantikan serial kelanjutannya. Anak-anak generasi X dan Y berkutat dengan antrian sewa komik. Aku masih ingat, naik sepeda di bawah terik matahari ke tempat penyewaan buku demi mengantri sebuah serial komik Jepang. Kata mas yang jaga, nomor komik yang aku tunggu akan dikembalikan hari itu. Aku ga mau ketinggalan, rela menunggu sampai orang itu datang mengembalikan komik untuk kemudian aku sewa.  

Kenapa tidak ke perpustakaan? Karena perpustakaan saat itu tidak menyediakan komik Jepang on going yang aku “kejar”. Kebanyakan buku di perpustakaan adalah buku cerita rakyat Indonesia yang menceritakan legenda terjadinya sebuah tempat dan hikayat kehidupan seseorang.

Sedangkan aku adalah anak sekolah dasar yang simpel dan gemar bermimpi tentang sesuatu di masa depan. Cerita romantisme dan penjelajahan ke suatu tempat adalah topik yang menarik minatku yang kebetulan disediakan oleh para komik Jepang ini. Sayangnya aku punya kebiasaan mudah lupa. Sehingga kalau pembaca bertanya apa saja komik yang sudah aku baca, hanya tersisa di ingatan Candy-candy, Popcorn, Doraemon, Detective Conan, Topeng Kaca dan Mari Chan.

Sebagai informasi di tahun 1990 harga satu buku komik sekitar Rp2.500 sampai Rp3.000. Harga indomie, sarimi dan supermi adalah Rp100 sampai Rp150 per bungkus. Sekedar perbandingan, harga indomie tahun 2026 adalah Rp3.500 per bungkus dan harga satu buku komik manga adalah Rp45.000. Pembaca bisa membayangkan betapa mahalnya harga satu buku komik Jepang baik dulu maupun hari ini. Padahal satu serial judul Popcorn (Seito Shokun) bisa sampai nomor 26 untuk tamat. Hal paling menyenangkan ketika ada teman sekolah baik hati yang mengoleksi sebuah judul yang sama dengan minatku. Dengan senang hati aku bersedia ikut antrian. Kalau pas judul yang aku minati tidak dimiliki temanku, maka aku ke penyewaan buku tadi. 

Itulah pembukaan mengenai seluk beluk cerita hidupku dengan buku komik. Berbeda dengan drama korea yang sudah mencantumkan episode terbaru setiap hari Selasa untuk menonton kelanjutan serial drakor, zaman dahulu untuk mengetahui sebuah komik sudah datang seri terbarunya atau belum, aku mesti rajin mengecek ke sebuah toko sudut yang berada di perempatan pusat kota Yogyakarta bernama G. Toko ini adalah tempat favoritku.

Bercerita tentang G, aku memiliki pengalaman sendiri. Pada waktu tertentu, impianku pernah mampir di dunia astronomi, sebelum akhirnya tersadar bahwa kemampuanku belajar fisika dan matematika di bawah rata-rata. Aku penasaran dengan dunia antariksa dan nama-nama rasi bintang. Suatu hari aku menemukan sebuah buku tentang astronomi di toko ini. Kalau komik saja harganya sudah mahal, pembaca bisa membayangkan harga buku tentang dunia astronomi. Buku itu tebal dan terbalut hard cover seperti sebuah ensiklopedia. Kok ya kebetulan buku itu tidak disegel plastik sehingga aku bisa melihat bagian dalamnya. Aku terpukau. Warna-warni bintang di alam semesta diceritakan di buku itu. Aku mengeluarkan notesku dan mulai mencatat nama-nama bintang supaya tidak lupa. Aku ingin mengingat rasi bintang tersebut.

Rasi bintang Gubuk Penceng (Crux) formasi empat bintang utama berbentuk layang-layang sebagai petunjuk arah selatan. Rasi Ursa Mayor (Beruang Besar) yang terdiri 7 bintang terang menyerupai sendok atau gayung sebagai petunjuk arah utara. Saat asyik mencatat, seorang pegawai toko mendatangiku dan memintaku jangan mencatat karena ini toko buku bukan perpustakaan. Namanya anak kecil ditegur orang dewasa ya langsung ciut nyalinya. Aku menutup notesku dan meminta maaf. Aku pergi sambil kecewa, padahal aku hanya ingin mencatat saja. Mungkin karena aku duduk di lantai jadi pegawai itu khawatir bukunya kotor dan mengganggu pengunjung lain. Dalam perjalananku bersepeda pulang ke rumah aku menangis. Aku yang terbiasa menyembunyikan lukaku dan membalutnya sendiri sampai sembuh tidak pernah menceritakan kejadian ini pada orang lain sampai hari ini aku menuliskannya kepada pembaca.  

Screenshot

Aku berpikir kalau ini drama korea, anak kecil itu tiba-tiba jadi trilyuner dan membeli toko buku tersebut kemudian menyediakan meja dan kursi bagi pengunjung anak-anak supaya bisa duduk dan mencatat. Tujuanku adalah sebanyak-banyaknya anak Indonesia mencintai buku tanpa terkendala. Fantasiku … Alam mimpiku… Terlalu jauuuuh… 

Aku mudah melupakan jadi tidak menyimpan dendam pada toko ini. Aku tetap mendatangi toko ini sekedar melihat apakah serial komik sudah muncul nomor terbaru atau melihat-lihat buku sampai hari ini. Bedanya aku sudah tidak mencatat lagi. Bahkan setiap kali pulang ke kotaku, begitu ada waktu luang aku mampir. Saking seringnya ke toko G, aku sampai hafal sebuah alunan musik yang sepertinya menjadi icon toko ini. Dasar aku orang cuek, berpuluh-puluh tahun mendengarkan, aku tidak berusaha mencari tahu apa judul lagu yang selalu mengalun begitu masuk toko G. Aku hapal lagunya tapi ga pernah mikir siapa yang memainkan lagu tersebut dan apa judulnya.

Hingga….. 

Akhir bulan Mei di tahun 2026, aku pergi ke sebuah konser dan sebuah lagu mengalun dari saksofon. Aku terkejut. Alunan musik masuk ke relung hati sehingga memori lama melompat keluar. Aku menatap langsung lagu yang disuguhkan dengan indah oleh sang musisi. Jadilah cerita ini aku tuliskan untuk pembaca. 

Dave Koz berjudul Together Again. 

Seperti disihir, aku sempat membeku di ruangan konser tersebut. Ketika aku sadar, aku ingin teriak sekencang-kencangnya. Oh… ternyata lagu ini yang selalu mengalun di toko buku G. Saksofon Dave Koz menghujam memori seorang anak kecil tentang kesedihan … Lara … Perih …  dimarahi hanya karena mencatat nama-nama rasi bintang. Luka yang sudah kulupakan terasa perih kembali tatkala Dave Koz memainkan Together Again langsung di depanku. Aku cepat-cepat membalut kembali luka itu. Pegawai itu tidak salah dia hanya menunaikan tugasnya. Aku memejamkan mata untuk mengingat judul buku astronomi tersebut. Kalau ingat aku pasti akan membelinya di usia dewasaku ini. Namun, sungguh aku benar-benar lupa. Ini cara Tuhan menghapus memoriku tentang sebuah luka supaya anak itu sembuh dengan cepat. Anak kecil itu bahkan diberikan hadiah Tuhan untuk datang langsung ke bagian bumi sebelah utara, tempat para astronomi dunia merumuskan penjelajahan mereka ke seluruh pelosok bumi dan menetapkan waktu GMT bagi dunia. 

Refleksi hidupku. 

Tuhan memiliki cara sendiri bagi setiap pribadi untuk menerima setiap peristiwa hidup dengan penuh kerendahan hati. 

Bertekun dan bersabarlah selalu pembaca, 

sebuah mahkota kehidupan dipersiapkan Tuhan untuk kita semua. Amin. 

Terima kasih Dave Koz. Terima kasih toko G. 

Leave a comment