Percakapan Simbok dan Remaja

Written by

·

Dear pembaca, memiliki seorang anak remaja yang kritis terhadap kehidupan adalah sebuah karunia tersendiri namun bisa jadi bumerang jika kami sebagai orang tua sekedar asbun ketika memberikan jawaban atas suatu pertanyaan. Aku seorang simbok yang waspada setiap kali anak lanangku bertanya tentang kehidupan. Jujur aku khawatir salah menjawab (pernah mengalami soalnya). Anakku tipikal anak logis sedangkan aku simbok yang tipikal asumsi. Jawabanku muter-muter tidak to the point sering membuatnya tidak puas. Dia pasti mengejarku terus sampai mendapat jawaban yang menurutnya logis. Sikapku yang lebih cepat berasumsi (mengambil kesimpulan padahal belum terbukti sebagai sebuah kebenaran) ternyata hal yang harus dihindari dalam percakapan dengan anak logis. Salahku sendiri sih lebih suka mengikuti perkembangan gosip artis-artis berpuluh tahun daripada membaca jurnal ilmu pengetahuan alam (IPA) jadinya kalau menjawab ngawang-awang ora ana science-e. 

Aku malas karena memang otakku tidak diperuntukkan buat baca jurnal IPA. Jadi yang bisa aku perbaiki adalah pola komunikasi. Dulu asal nyeplos sekarang aku berpikir dulu sebelum menjawab pertanyaan anakku. Jika aku belum dapat teori dan pembuktian yang diterima secara logika, aku ngejawab, Bentar ya, nak kasih waktu simbok cari jawabannya dulu. 

Sebagai contoh tiga percakapan kami di bawah ini. Pembaca bisa menebak pertanyaan keberapa yang sebenarnya merupakan percakapan panjang sampai sebuah logika dia terima. 

R: Kalau simbok boleh mengulang waktu, apa yang akan diubah dalam hidup? 

S: Ga ada. Perjalanan hidup simbok penuh dengan perjuangan dan bisa melalui sampai titik ini adalah sujud syukur dan terima kasih pada TuhanYesus. Kalau satu momen saja simbok ubah maka seluruh time line simbok pasti berubah. Simbok rasa ga sanggup menjalani kembali masa lalu dengan cara berbeda. 

(Perubahan gaya pada suatu benda mengakibatkan perubahan gerak/percepatan pada benda tersebut – Hukum Newton II)

R: Ada ga penyesalan di masa lalu? 

S: Ada. Simbok adalah manusia yang banyak salah dan banyak dosa. 

Satu hal yang simbok pelajari sebagai obat mujarab dari penyesalan adalah berserah. Artinya semua kejadian yang sudah terjadi simbok hadapi, jalani dan pertanggungjawabkan ke depan dan jadikan introspeksi diri. Salah satu cara introspeksi yaitu menemukan percakapan intens dengan Tuhan melalui keHENINGan yang bisa simbok rasakan saat mengunjungi tempat doa/gua Maria. Di sana orang-orang berdoa dalam diam, sesekali terdengar bisikan dan suara alam sayup-sayup. 

Bedakan berserah dan pasrah ya, Nak 

Berserah tetap ada unsur aktif. Kita tetap bergerak berjalan maju ke depan. Percaya ada tangan Tuhan menggandeng setiap langkah hidup dan tidak pernah meninggalkan kita. 

Pasrah adalah diam tidak berbuat apa-apa (putus asa). Hanya menerima sebuah aksi tanpa mau mengoreksi kembali. 

R: Temanku bercerita tentang kesedihannya. Apa yang simbok lakukan jika dicurhati tentang luka batin? 

S: Simbok melihat diri sendiri dulu apakah mental simbok sedang sehat atau sedang tidak baik-baik saja (down). Kalau kondisi sehat maka simbok akan kuat mendengarkan segala keluh kesah teman curhat. Simbok menjadi pendengar yang baik. Seseorang yang terluka, butuh teman untuk mendengarkan segala cerita luka di hidupnya. Tidak perlu menambahi dengan nasihat karena nasihat terkadang malah bersifat menghakimi. Dengarkan saja sepenuh hati. 

Pesan simbok ada dua yaitu pertama perbanyak stok cinta kasih dalam lubuk hatimu. Jadikan hatimu seperti mata air cinta kasih sehingga kamu bisa mengalirkan kasih tatkala temanmu butuh tempat bercerita.  

Pesan kedua adalah jangan menambah luka dengan menyakiti hatinya. Jika kamu sedang dalam kondisi tidak baik untuk mendengarkan curhatnya tolong jujur pada teman. Sehingga kalian berdua akan sama-sama belajar mencegah konflik karena kesalahpahaman. 

Kita mungkin belum mendapat karunia untuk menyembuhkan luka batin,

Namun dengan tidak menambah lukanya, aku rasa kita sudah berbuat kebaikan. 

Leave a comment