Baru kali ini menulis tentang gunung terasa lama tidak seperti tulisan bertopik gunung sebelumnya. Hampir dua bulan. Aku butuh waktu menata hati. Pembaca pernah patah hati? Nah, itulah yang kurasakan dalam pendakian ke Gunung Sindoro. Ga mudah menata kembali kepingan hati yang sedang merajuk minta dipeluk diperhatikan secara khusus. Terucap kata perpisahan di sini. Sepertinya usiaku secara fisik dan mental tidak mampu lagi meneruskan hobi pendakian ini. Itulah perasaanku saat cerita tentang Sindoro.
Proses perenungan memberikan pertanyaan: Mengapa aku bisa patah hati?
Aku menemukan satu kata yang merupakan awal dari ini semua yaitu gebu. Tepatnya kata kerja: Menggebu. KBBI menjelaskan artinya sebagai sangat bersemangat atau berkobar-kobar.
Kalau ini sebuah kerinduan mendalam untuk menatap horison di langit maka berusahalah untuk bisa menyentuhnya, menapaknya dan bernafas di dalamnya.
(Terlalu menggebu)
…
Segera putuskan, waktu yang tersedia hanya 1 hari
Judul pendakian adalah tektok. Tidak ada waktu menginap di atas gunung.
Hari itu kamu naik, hari yang sama kamu turun.
Apakah gunung di bawah 2000 mdpl atau di atas?
Bismo, Kembang atau Sindoro tanpa summit?
Pilihan jatuh ke Sindoro.
Jalur apa yang dipilih? Kledung, Alang-alang Sewu atau Watulunyu?



Final! Kami memilih Gunung Sindoro jalur Alang-alang Sewu. Sebuah gunung setinggi 3152 mdpl untuk melepas rindu. Tidak akan sampai puncak hanya sampai pos 3 (2370 mdpl) saja. Pos 3 adalah sunrise camp yaitu pos untuk para pendaki mendirikan tenda sebelum keesokan harinya menempuh perjalanan menuju puncak (summit). Singkat cerita dengan menggebu aku dan keluarga menuju basecamp Sindoro.
Terdapat dua pilihan perjalanan dari basecamp menuju pos 1 yaitu berjalan kaki atau menyewa ojek. Berhubung aku adalah pendaki aleman, maka pilihanku adalah ojek. Sebagai informasi, tarif ojek malam (sebelum matahari terbit) adalah Rp40.000 dan tarif pagi adalah Rp35.000. Pukul 04.15 suara raungan deru motor trail yang berisik membelah subuh untuk melewati deretan rumah warga yang masih terlelap. Sambil berpegangan erat pada motor, aku menengadah langit bertabur bintang. Sebuah lukisan malam yang selalu aku rindukan. Jalan yang naik dan meliuk membuatku harus waspada, jangan sampai jatuh doaku pada Tuhan. Sekitar 13 menit berkendara, perjalananku terasa seru dan mendebarkan. Setelah sampai di Pos 1 kami awali dengan doa dan lanjut mendaki. Ketika orang bilang Sindoro itu terjal, tepat! Benar adanya. Baru turun dari ojek, jalur pendakian memaksa lutut kaki dan dahi bertemu. Ibarat suatu hubungan, mestinya kenalan dulu lalu pendekatan, lanjut pacaran. Setelah klik baru menikah. Sindoro tidak meminta proses bertele-tele, langsung mengajak nikah. Ga ada simulasi perkenalan. Pos 1 ke pos 2 sudah seperti pos 5 menuju summit puncak Gunung Ungaran lewat Perantunan. Bayangkan pembaca, dari yang sebelumnya aku leha-leha di atas motor begitu turun dimana kaki napak tanah langsung gassssken summit. Kaget!
Hasratku yang terlalu menggebu membuatku takabur.





Capricorn perempuan anak pertama memang menyebalkan. Dia selalu punya target dalam hidupnya. Sesimpel apapun kegiatan itu, target adalah hal yang membuatnya terus menyala dan semangat. Target pendakian kali ini mencapai pos 3. Sambil berharap bonus matahari terbit. Ini adalah pendakianku kesepuluh setelah 8 gunung (Ijen, Nglanggeran, Andong, Merbabu, Prau, Papandayan, Gede, Ungaran) + 1 bukit di Savana Propok. Jadi aku ingin memberi hadiah untukku sendiri yaitu matahari terbit sempurna di pos 3.

Aku ngomel sepanjang pendakian melampiaskan perasaanku yang down. Capek banget rasanya. Ga kuat meneruskan perdakian. Nafasku ngos-ngosan, kakiku pegal ga karuan. Aku jatuh di jalur pendakian dua kali saking lelahnya. Setiba di pos 2 (2024 mdpl) aku menyerah. Aku ga sanggup melanjutkan pendakian menuju pos 3. Perasaanku awalnya sedih. Selemah itu ternyata fisik dan mentalku. Saking lemahnya sampai kepikiran: Apakah ceritaku dan gunung akan berakhir di bulan Mei?
Porter memberi tahu bahwa di pos 2 tetap bisa melihat matahari terbit meskipun tidak seindah di pos 3. Hatiku yang sedih lumayan terhibur. Aku menerima bahwa targetku pos 3 tidak tercapai. Matahari yang menyinari pembaca hari ini adalah matahari yang sama yang menyinari Putin, Trump dan Xi Jinping. Tatkala melihatnya terbit di Gunung Merbabu beberapa waktu yang lalu aku kesiangan. Sinarnya sudah menyebar di berbagai sudut cakrawala. Kali ini di Gunung Sindoro, Tuhan memberiku matahari bermahkota yaitu sekumpulan cahaya berpendar seperti mahkota persis di atas bulatan matahari. Sempurna. Terima kasih TuhanYesus untuk hadiahnya.



Kalau bicara foto sunrise, aku yakin ribuan foto sunrise yang bertebaran di media sosial memiliki foto yang jauh lebih spektakuler. Di sini aku ingin sedikit cerita bahwa matahari bermahkota bukan sekedar sebuah foto. Dia sebuah momen. Dia adalah salah satu proses fisika bernama Hamburan Rayleigh (Rayleigh Scattering)
Lord Rayleigh adalah seorang fisikawan dari Inggris yang merumuskan hubungan Intensitas cahaya yang dihamburkan (I) dengan panjang gelombang cahaya (λ).
Intensitas hamburan berbanding terbalik dengan pangkat empat dari panjang gelombang.
- Arti Matematis: Intensitas cahaya yang dihamburkan berbanding terbalik dengan pangkat empat panjang gelombangnya
- Dampaknya: Gelombang cahaya yang pendek (seperti biru dan ungu) akan dihamburkan jauh lebih kuat dan masif dibandingkan gelombang cahaya yang panjang (seperti merah dan oranye).
Kondisi Siang Hari (Matahari di Atas Kepala)
- Jarak Lintasan: Pendek/dekat.
- Proses Fisika: Karena atmosfer yang dilewati tipis, gelombang pendek (warna biru) langsung dihamburkan ke segala arah oleh molekul udara di langit.
- Hasil: Langit terlihat berwarna biru. (Catatan: Warna ungu sebenarnya memiliki gelombang lebih pendek dari biru, namun mata manusia jauh lebih sensitif terhadap warna biru dan intensitas warna biru dari matahari memang lebih tinggi).
Kondisi Pagi/Sore Hari (Matahari di Ufuk/Cakrawala)
- Jarak Lintasan: Sangat panjang (ketebalan lapisan atmosfer 40 kali lebih tebal dibanding siang hari).
- Proses Fisika: Karena jaraknya yang sangat jauh, semua gelombang pendek (biru, ungu, hijau) sudah habis berhamburan dan hilang di tengah jalan sebelum mencapai mata kita. Hanya spektrum dengan gelombang terpanjang dan terkuat yang mampu menembus ketebalan atmosfer tersebut.
- Hasil: Hanya warna merah, oranye, dan kuning yang berhasil lolos dan sampai ke mata kita, membuat pemandangan matahari terbit/terbenam didominasi oleh warna tersebut
(Sumber: google gemini – rayleight scattering rumus intensitas cahaya)


Semoga tulisan ini bisa sedikit menambah kenangan pada pembaca setiap menatap ke atas terdapat gunung dan perubahan warna langit karena panjang pendeknya gelombang cahaya matahari.
Akhirnya… refleksi pendakian kali ini memberiku premis:
Jika aku masih mau mendaki gunung, maka aku tidak boleh terlalu menggebu.
Sindoro pos 2 memberiku kesadaran: Hai kamu anak capricorn, tidak semua dalam hidup mesti ada target. Cobalah duduk santai.
Kalau masih bingung menentukan target,
masukkan bengong menjadi target.
Sampai bertemu di Pos 2, pembaca.

Leave a comment