Tahun 2025, aku dan keluarga menengok Kuala Lumpur. Pemilihan kata tengok karena kunjungan kami sangat singkat! Hanya 2 hari. Rasanya belum puas. Belum bisa memberikan narasi bagaimana Kuala Lumpur secara keseluruhan. Aku hanya menengok dua atap yaitu Menara Kembar Petronas dan Genting Highland sesuai itinerary anakku. Semenjak anakku beranjak remaja, kami mempersilahkan dia merancang itinerary setiap berkunjung ke tempat baru.
Begitu mendarat, kunjungan pertama langsung menuju Menara Kembar Petronas. Pembaca bisa membeli tiket di lokasi. Sekitar 10 menit menunggu, pemandu datang dan mengajak rombongan pengunjung masuk ke dalam lift. Lift bergerak menuju lantai 41 dimana terdapat skybridge (jembatan) yang menghubungkan dua menara. Berada di ketinggian 170 meter dari permukaan tanah, pembaca akan disuguhkan bentang kota Kuala Lumpur. Pemandu memberikan waktu sekitar 20 menit untuk menikmati pemandangan dan berfoto-foto. Setelah itu, pembaca diajak ke lantai 83 tepatnya berada di ketinggian 358 meter dari permukaan tanah. Di sini adalah tempat membeli souvenir. Terdapat teropong di sudut yang bisa digunakan pengunjung bergantian untuk menikmati landscape Kuala Lumpur lebih mendetail.




Ketinggian Menara Kembar Petronas dari permukaan tanah sampai menara pemancar (jarum atas) adalah 451,9 meter. Sebagai gambaran ketinggian Menara Eiffel adalah 330 meter. Namun sejak Januari 2024 Menara Kembar Petronas sudah tidak lagi menjabat sebagai bangunan tertinggi di Malaysia. Gedung Merdeka 118 sudah mengambil alih dengan bangunan setinggi 678,9 meter dari permukaan tanah dan memiliki 118 lantai.

Beranjak dari ketinggian Menara Kembar Petronas, keesokan harinya kami melipir atap lainnya. Sebuah tempat tinggi bernama Genting yang berada di pegunungan Titiwangsa tepatnya di Gunung Ulu Kali. Aku menyarankan pembaca berangkat dari pusat Kuala Lumpur (KL Sentral) yaitu sebuah lokasi dimana mall, transportasi kereta dan bis berada dalam satu lokasi. Di sini pembaca bisa memilih transportasi bis menuju Genting. Lama perjalanan yang diperlukan sekitar 1 sampai 1,5 jam.
Salah satu tempat terkenal di Genting adalah Genting Highlands yang didirikan pada tahun 1965 oleh Lim Goh Tong. Berada di ketinggian 1830 meter di atas permukaan air laut, tempat ini bernama Resort World Genting yang menyuguhkan sesuatu yang lengkap, mulai dari aneka kuliner, atraksi permainan, hotel, museum, pusat perbelanjaan bahkan tempat untuk perjudian pun tersedia di sini. One stop shooping sebutannya. Apa yang diperlukan semua ada di sini. Kalau di Indonesia, tempat ini seperti di Ancol namun tidak seluas Ancol peredarannya. Maksudnya begini, kalau di Ancol saat kita menginap di Hotel Mercure Ancol kemudian mau berkunjung ke Dunia Fantasi, jarak yang ditempuh lumayan jauh. Berjalan kaki kurang lebih 20 menit dalam kondisi udara pantai yang panas. Berbeda dengan kondisi di sini. Antara hotel, mall dan atraksi berada dalam satu bangunan gedung yang besar. Kalau pun harus berjalan ke sana kemari hanya membutuhkan waktu lima sampai sepuluh menit dan terasa menyenangkan karena suhu udara beredar di angka 20 derajat celcius.



Sesuai permintaan anakku, kami menghabiskan waktu di area Theme Park Outdoor (seperti Dunia Fantasi Ancol) yang berlokasi di pelataran gedung besar tersebut. Mulai dari pagi saat buka sampai menjelang sore hari, aku mengantarkan anakku mencoba aneka atraksi permainan di sana. Tidak semua wahana aku jelajahi. Alasannya satu: Sadar diri, jantungnya aleman. Saat sedang menjelajah Theme Park, aku menemukan keanehan. Apakah orang-orang di Malaysia sudah tidak euforia untuk pergi ke Theme Park Genting? Soalnya mereka mempersiapkan lokasi antrian wahana sampai mengular-ular panjang seperti di Universal Studio. Namun selama menghabiskan waktu 5 jam, hampir semua wahana tidak ada yang antri. Padahal aku pergi di hari Sabtu. Apa mungkin karena waktu berkunjungku bukan liburan panjang nasional mereka, ya? Kalau pembaca ingin mencoba merasakan sensasi seperti di film-film yang ditonton di masa lalu, silahkan masukkan Theme Park Genting sebagai tempat wisata untuk anak. Berikut aku ambil 3 wahana sebagai gambaran keseruan bermain di Theme Park.
Invation of the Planet of the Apes. Di sini pembaca masuk ke sebuah sekoci yang membawa ke dalam pertempuran antara militer dipimpin kolonel melawan para kera (ape) dipimpin oleh Caesar. Pergerakan sekoci naik turun banting kiri kanan, seolah-olah masuk ke dalam air sampai akhirnya terapung di sebuah negeri tempat para kera. Mereka melepaskan kita pergi sambil mengucapkan kata perdamaian. Penggunaan kacamata 3 dimensi dan pergerakan sekoci membuat pembaca seolah-olah menjadi salah satu aktor dalam film tersebut.
Independence Day merupakan wahana yang paling aku sukai. Aku seperti berada di dalam pesawat dan menjelajah angkasa raya. Sensasinya sungguh luar biasa. Kalau pembaca ada kesempatan ke Genting, jangan skip wahana ini, ya. Pembaca bakal diajak melayang-melayang melewati cakrawala dan menari di antara para bintang. Bayangkan saat menonton Star Wars, pembaca adalah penumpang pesawat Millennium Falcon yang dipiloti oleh Han Solo. Menakjubkan! Aku menyesal karena bermain wahana ini terakhir saat kondisi fisik sudah kecapekan di wahana Andromeda Base yaitu sebuah Boot Camp Training untuk pelatihan menjadi astronot. Saranku adalah begitu masuk Theme Park, wahana Independence Day patut pertama kali dicoba.
Epic Voyage To Moonhaven, pembaca diajak naik perahu (perahu ya bukan sekoci) untuk menjelajahi suatu dunia seperti negeri dongeng. Pembaca majalah bobo tidak asing melihat pemadangan di wahana ini. Kita naik perahu ke rumah Bobo, Oki dan Nirmala untuk menikmati suasana hutan yang indah, aneka bunga warna-warni, air terjun yang deras. Siapkan diri karena ada kejutan cipratan air menuju titik perhentian akhir. Lumayanlah orang menuju 50 sepertiku bisa mengenang masa sekolah dasar.



Ceritaku kali ini singkat dan ringan. Aku menulis di blog ini sebagai catatan kalau aku pernah mendaki sebuah gunung tidak berjalan kaki, tidak mengendarai mobil atau motor melainkan lewat sebuah kotak kaca.
Ragaku menjauhi bumi,
kamu tampak mengecil ,
hingga aku pun merasa kerdil.
Saat jiwaku masih mencerna,
makna sebuah pendakian,
ragaku sudah berjalan,
jauh melesat menuju awan.
Aku diam dalam kotak kaca,
berusaha tetap sadar,
bahwa aku sedang terbang.
(Simbok Santi)


Leave a Reply