Lin Yiyang adalah sebuah ilusi, hanya sosok dongeng yang tidak nyata di dunia.
Sebuah kalimat yang aku baca di aplikasi media sosial bernama threads. Iring-iringan percakapan pagi ini membuatku tersenyum. Mereka sedang membahas Lin Yiyang, seorang tokoh dalam serial drama cina berjudul Amidst a Snowstorm of Love (AASOL) yang bercerita tentang pertemuan sepasang anak muda yang berkenalan di malam badai salju di kota Hull. Kota imajinasi di Finlandia tempat diadakannya turnamen biliar dunia.
Sebenarnya masing-masing dari kita bisa menemukan Lin Yiyang versi diri kita sendiri. Sebagai perempuan kita berhak memilih kehidupan seperti apa yang akan dijalani bersama seorang LY versi diri kita. Untuk itu langkah paling awal adalah mengenal dengan kesadaran penuh diri kita seperti apa. Izin pembaca, aku berbagi cerita tentang perjalanan ideku menentukan kriteria pasangan yang selanjutnya aku turunkan menjadi variabel-variabel beserta bukti empiris. Bukti empiris memudahkan kita untuk mengkalkulasi diri apakah kita bisa hidup bersamanya dalam suka dan duka sampai Tuhan memanggil pulang ke rumahNya di surga.
Saat terbentuk whatsapp group SMP berbelas tahun yang lalu, canda tawa ala remaja tahun 1990-an diserukan di group. Iseng salah seorang teman menanyakan, Hayoo ngaku siapa dulu yang saat smp pacaran dengan sesama teman smp? Teman-teman pada ngaku termasuk aku. Beberapa teman kaget aku punya pacar. Memang sih aku dulu backstreet pacarannya. Hanya teman yang sangat dekat (Luci, Pipit, Anna) tahu kami pacaran. Seorang teman bertanya siapa? Aku menulis di WA, Hayo siapa pacarku tunjuk tangan. Hening. Tidak ada balasan. Lalu salah satu temanku menulis nada protes karena aku tidak cerita kalau aku punya pacar. Aku me-reply bagaimana mau cerita kalau sekarang disuruh tunjuk tangan saja tidak ada yang ngaku. A few moments later… Akhirnya, yang bersangkutan tunjuk tangan.
Aku pribadi sudah memiliki aturan sejak SMP yaitu sekali pacaran langsung menikah. Aku menyakini diriku adalah sosok setia. Pacaran di sini berarti secara sadar saling menyatakan komitmen untuk serius dalam sebuah hubungan bukan sekedar dijodoh-jodohi teman secara becandaan trus jadi pasangan dalam pergaulan. Ketika aku duduk di bangku kelas 3 SMP (sekarang kelas 9) aku berkomitmen pada teman sekelasku untuk pacaran. Setelah lulus sekolah kami berbeda SMA. Dari yang bertemu setiap hari menjadi jarang bertemu. Tahun 1990-an berkirim surat adalah gerbang komunikasi para pasangan.

Hingga pada suatu hari aku ke gereja, saat itu aku tidak bertugas. Biasanya aku sibuk misdinar, lektor dan koor. Minggu itu aku duduk sendirian. Dalam kesendirianku, aku mulai berpikir dan berdiskusi dengan Tuhan. Tuhan, aku punya pacar tapi kenapa aku ke gereja sendirian? Di deretan kursiku paling ujung temanku misdinar duduk berdua dengan pacarnya. Saat Doa Syukur Agung aku merasakan pikiranku mulai terbuka. Kalau memang aku punya aturan satu kali pacaran untuk selamanya jadi pasanganku, kenapa aku memilih suka pada teman yang beda cara berdoa? Bagaimana dengan rumah tangga yang akan aku jalani? Apakah seumur hidup aku akan ke gereja sendirian? Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku saat itu. (Kalau anak zaman sekarang overthinking sudah disematkan padaku. Baru kelas 10 sudah kejauhan mikirnya). Sampai akhirnya misa selesai, aku masih melamun di tempat dudukku. Umat satu per satu pergi meninggalkan gereja.
Tiba-tiba sebuah sapaan membuyarkan lamunan. Seseorang memanggil, tersenyum dan mulai menanyakan kabarku, sekolahku, waktuku bla… bla… bla… Aku pamit duluan untuk mengambil sepeda dan kembali ke rumah. Dalam perjalanan, aku bertanya kembali dengan Tuhan. Kenapa aku ga tertarik dengan teman gerejaku, ya? Aku malah menyukai teman sekolahku yang jelas berbeda cara berdoa. Mungkin perasaan seperti rumus kimia pikirku, atom ketemu atom klik, langsung membentuk ikatan kimia. Malam itu aku berdoa dan mendapat kesimpulan, aku harus mengakhiri komitmen dengan temanku. Mumpung kami masih sama-sama remaja jadi tidak membuang waktu di masa depan kalau akhirnya berpisah. Aku memiliki pengalaman yang cukup dalam kehidupan keluarga beda cara berdoa. Aku minta maaf pada temanku karena mengakhiri hubungan secara sepihak dan mendadak. Komitmen kami berakhir. Aku mendoakan kehidupannya damai sejahtera dan penuh sukacita.

Setelah gagal memegang aturan satu kali pacaran langsung menikah, aku berpikir masa sekolah SMA dihabiskan untuk berkegiatan saja, berteman dan bermain. Aku ditemani sobat-sobat yang baik; yang tekun belajar dan jadi teman sebangku 3 tahun (Yanti), yang memperkenalkan aku buku sospol & mendaki Turgo (Yetti), yang menjadi seksi acara & sibuk cari romo untuk rekoleksi-retret sekolah (Clara), yang mengajakku aktif paduan suara (Lia), yang menjadi partner-ku naik motor ke Gua Maria (Dina). Sebagai informasi aku bersekolah di SMA negeri sehingga untuk kegiatan keagamaan seperti rekoleksi dan retret, sekolah memberikan tanggung jawab kepada siswa untuk menyusun acara termasuk mencari romo pembicara. Kesibukan ini terasa pas untukku membalut lara hati. Berhubung aku tidak mau gagal kedua kali maka ke depannya aku mesti lebih detail menentukan kriteria dengan merinci variabel. Seorang LY versiku.

Setelah berstatus mahasiswa, aku merasa sudah saatnya aku memilih pasangan. Aku memiliki grup perempuan berenam sebagai sobat dekat bernama kurcaci (Bayank, Nita, Sari, Rizki, Linggar). Berhubung usiaku sudah bertambah bukan lagi anak sekolah maka kriteria bertambah juga. Awalnya aku mau menambah kriteria pasangan berusia minimal 5 tahun diatasku. Tapi aku berpikir lagi, walah ga bakal ketemu ini. Aku mahasiswa baru, si-Masnya dah lulus kuliah. Aku mengubah kriteria. Aku bilang ke grupku bahwa aku punya manifestasi pacarku nanti adalah orang yang cara berdoa sama sejak lahir dan mahasiswa jurusan teknik. Mengapa teknik? Aku banyak bicara dan sok tahu, tipikal asbunlah :-) maka aku mencari pasangan yang bisa mengontrol sekaligus mematahkan omonganku dengan alasan logis, bukan sekedar debat menang kalah semata. Aku mikir simpel saja, anak teknik adalah anak yang melakukan uji empiris di laboratorium sehingga kalau hipotesis mereka belum terbukti dalam teori yang disepakati ilmu pengetahuan, mereka akan berhati-hati dalam bicara. Jadi aku bisa belajar dari mereka bagaimana berkata-kata sesuai fakta dan logis. Tolong digarisbawahi pembaca, tulisan ini bersifat personal bukan kesimpulan untuk diterima semua pihak.

Aku beruntung sobat-sobatku kurcaci mendukung manifestasi-ku. Pernah suatu kali ada tugas kuliah fotografi light trail dimana mahasiswa diwajibkan memotret sebuah obyek di malam hari karena fokus menangkap banyaknya cahaya pada benda yang bergerak. Ketika teman-teman kuliahku memilih obyek Malioboro Mall, Tugu Jogja, Galeria Mall, Jembatan Kotabaru supaya mendapat banyak cahaya dari ramainya kendaraan, aku sudah punya obyek tujuan. Aku minta tolong sobatku kurcaci untuk menemaniku memotret obyekku malam itu. Kalau sendirian aku takut karena jalannya relatif sepi. Jadilah kami berenam saling berboncengan dengan 3 motor menyeberang Jalan Kaliurang menuju sebuah fakultas. Sambil cekikikan kami berenam pergi ke sana. Aku mengambil foto sebagai tugas kuliah sambil berucap: Salah satu mahasiswa dari fakultas ini pasti jadi pasanganku. AMIIIN!!! Sobat-sobatku bersahutan menjawab doaku. Mereka memang sobat yang baik hati. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara bertemu mahasiswa teknik? Kampus kami dipisahkan oleh Jalan Kaliurang. Ah… tenang sajalah. Kalau jodoh dan direstui Tuhan pasti ada cara ketemunya. Meskipun terlihat ambisius, aku juga orang yang simpel karena aku tahu apa yang kuucapkan ketika berdoa. Saat nilai fotografi sudah ditempel di papan, aku tahu nilaiku ga maksimal karena foto tujuan mengejar cahaya, aku malah mengejar manifestasi. Mahasiswa lain mendapat nilai A, aku cukup puas mendapat B karena hasil fotoku tidak maksimal.

Dari dua kriteria yang aku jabarkan di atas, kemudian aku detailkan menjadi variabel-variabel untuk mendapat konsistensi. Kriteria ini tidak berkorelasi dengan lamanya waktu pacaran, melainkan kepada kualitas hubungan. Aku menggunakan landasan teori yaitu Teori kejujuran. Metode penelitian yang aku gunakan adalah kualitatif untuk menemukan pasangan yang sesuai dua kriteriaku.
Kriteria pertama adalah sama cara berdoa. Variabelnya adalah memeluk iman yang sama sejak bayi. Tujuannya adalah menjadi imam keluarga dan seseorang yang layak aku hormati seumur hidup. Bukti empirisnya yaitu surat baptis sejak bayi dan bagaimana perilaku sehari-hari. Sesuaikah dengan iman Kristiani? Saat melakukan observasi selalu sertakan teori kejujuran untuk mendapatkan konsistensi dan validasi. Detailnya nanti aku cerita dengan judul lain karena terlalu panjang di sini.
Kriteria kedua adalah mahasiswa teknik. Variabelnya adalah nilai IPKnya di atas 3 dan berasal dari satu kampus yang sama denganku. Bukti empirisnya; transkrip nilai dan ijazah. Konsistensi didapat dengan cara aku mengajaknya ke Kali Kuning sebuah tempat yang berada di sekitar lereng selatan Gunung Merapi dengan titik koordinat 7°32′34.7″ Lintang Selatan (LS) dan 110°26′45″ Bujur Timur (BT). Di sana aku memintanya bercerita tentang dunia kuliahnya. Dia menerangkan sesar, patahan, gempa tektonik-vulkanik, batuan andesit yang merupakan batuan beku yang berasal dari letusan Gunung Merapi. Salah satu kelebihan anak sospol adalah belajar teknik wawancara. Dari sinilah aku bisa menemukan konsistensi antara materi yang disampaikan dengan alur komunikasi narasumber. Meski tidak paham materi secara detail tapi aku bisa tahu sedang dikibulin atau sungguh diberi informasi ilmiah.

Kembali pada cerita AASOL, tokoh LY digambarkan sebagai cowok yang rela berjuang hidup dan fokus pada hubungannya. Kehidupannya dikalkulasikan dengan cara seksama. Perjumpaan pertama dengan Gin Yuo langsung yakin bahwa GY adalah pasangannya. Menariknya adalah dia tidak gegabah alias bucin meninggalkan Finlandia untuk langsung ikut GY ke Tiongkok. Dia menghitung, untuk bisa kembali ke Tiongkok dia membutuhkan modal uang yang banyak. Dia mulai mengikuti turnamen biliar dan mengajar orang-orang yang tertarik dunia biliar untuk mengumpulkan modal dan meraih kembali kejayaannya sebagai juara dunia biliar. Setelah dirasa layak dan pantas, LY kembali ke Tiongkok untuk bergabung dengan timnas. Kalkukasi ini menarik sebagai bahan pembelajaran.
Dalam sebuah perjumpaan dan jatuh cinta pada pasangan, logika tetap ikut menyala sebagai tolok ukur agar hubungan tetap berjalan bersama realitas
Realitas LY adalah dia harus mengubah perilakunya karena perubahan tujuan hidup. Temperamen buruk karena tempaan perjalanan hidup yang memilukan tidak boleh menjadi alasan perilaku arogan. Dia memilih berubah dan menerima konsekuensi akibat arogansinya. Dia mendatangi pelatih yang merekrutnya, bersimpuh meminta maaf atas kejadian di masa lalu. Dia juga mendatangi wasit dalam pertandingan terakhir sebelum keluar dari timnas biliar untuk meminta maaf. Kesadaran LY mengenai tujuan hidup yang lebih besar untuk dia kejar bersama GY memberiku pengertian:
Kita diciptakan dengan kekurangan karena kelengkapannya ada pada pasangan yang kita temukan.

Leave a Reply