Ketika Gita Wirjawan mengadakan sebuah acara diskusi bersama para narasumber bidang pendidikan di Yogyakarta (https://www.youtube.com/watch?v=hTzDz2VHirE ), cakrawala pemikiranku mendadak terbuka lebar mengenai arti mendalam pendidikan bagi hidup manusia. Sejauh mana pendidikan bisa membentuk karakter dan menginspirasi diri untuk menentukan fokus tujuan hidup di masa depan?
Diskusi ini seolah mencubitku untuk menyadari bahwa esensi pengetahuan tidak sekedar menghafal seratus persen dan manut pada kurikulum yang diberikan negara hari ini. Kita tentu mengikuti aturan sebagai bukti kepatuhan kita sebagai bagian dari masyarakat. Namun, negara tidak berhak membatasi ruang pemikiran manusia.
Adalah kebaikan Tuhan yang telah membekali manusia dengan kehendak bebas. Variabel kehendak bebas inilah yang menjadi ruang untuk memikirkan:
- Sejauh mana pendidikan bisa membantu kita menemukan jawaban atas pertanyaan tentang hidup?
Salah satu narasumber, Romo Setyo Wibowo, SJ, membagikan ilmu yang sangat menarik tentang tujuan pendidikan, yaitu untuk kesetaraan dan kebebasan demi terciptanya individu yang otonom dan independen. Romo juga berbagi cerita mengenai ujian nasional anak SMA di Perancis untuk mata pelajaran filsafat. Bayangkan, ada tiga pertanyaan mendasar yang harus diuraikan para pelajar SMA dalam waktu 4 jam, diwajibkan menulis tangan pada lembar jawaban sepanjang 4 sampai 8 halaman! Berikut adalah 3 pertanyaan tersebut
- Apakah kita sepenuhnya mengendalikan menguasai kata-kata kita?
- Apakah kita bisa bahagia manakala orang lain tidak bahagia?
- Nietzsche dalam bukunya Human, All Too Human (manusia terlalu manusiawi) dikasih satu paragraf dan peserta ujian diminta untuk menguraikan.
Saat membaca pertanyaan tersebut, aku berpikir, jika dua pertanyaan pertama ditujukan kepadaku, maka inilah saatnya aku menggunakan kehendak bebasku. Khusus pertanyaan ketiga, terpaksa aku lewati karena cuplikan teksnya tidak dicantumkan oleh Romo.

Apakah kita sepenuhnya bisa mengendalikan menguasai kata-kata kita?
Menurut KBBI, kata-kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran. Melihat definisi ini, aku menangkap bahwa kata-kata berada teramat dekat dengan perasaan dan pikiran manusia. Apa yang terlontar dari mulut, sebetulnya berasal dari kondisi batin manusia saat itu.
Kalau pertanyaan ini diajukan saat aku masih duduk di bangku SMA, tentu jawabanku adalah tidak. Dahulu, aku tidak bisa menguasai kata-kataku. Apa yang ada di pikiran dan perasaan langsung meluncur keluar dari mulut tanpa kendali. Akibatnya, ada yang gembira, terkejut, terluka, sedih, atau bahkan muncul kesalahpahaman saat kata-kata itu dilemparkan ke orang lain. Kala itu, kata-kata adalah budak emosiku.
Namun, semua berbeda ketika usiaku menuju 50. Mengendalikan kata-kata sepenuhnya dalam kesadaran adalah usaha yang masih terus aku lakukan sampai hari ini. Aku memilih kata “usaha” karena mengendalikan lidah adalah proses seumur hidup.
Aku setuju bahwa kata-kata adalah cerminan perasaan dan pemikiran kita. Pembaca bisa melihat sosok diriku yang sebenarnya melalui pembawaan kata-kataku. Sampai sekarang, aku meyakini satu hal:
Maka, keluarkanlah kata yang positif, supaya ia mewujud menjadi doa-doa baik yang terkabul.

Apakah Kita Bisa Bahagia Manakala Orang Lain Tidak Bahagia?
KBBI mendefinisikan bahagia sebagai keadaan atau perasaan senang, tenteram serta bebas dari keadaan yang menyusahkan. Definisi ini mengajakku berpikir kembali. Bagaimana aku bisa menjamin perasaan tenteram, sedangkan “tenteram” sendiri bersifat abstrak?
Akhirnya aku membuat definisi bahagia menurut versi pribadiku sendiri. Bagiku bahagia adalah kondisi dimana keluargaku sehat; aku bisa bangun pagi, merasakan nafas yang lega dan berjalan dengan kedua kaki menuju dapur. Aku melihat stok daging, ayam, telur, ikan, sayur dan bumbu penunjang lengkap di dalam kulkas. Kendaraan terisi penuh bensin sehingga saat mengantar jemput anak sekolah, tidak ada rasa khawatir mogok di jalan. Lalu pada malam hari, aku bisa beristirahat dengan tenang sambil menonton drakor dracin.
Iya, bahagiaku mungkin terasa sangat introvert. Namun, premisku sederhana:
Kembali pada pertanyaan ujian tadi: apakah aku bisa bahagia tatkala orang lain tidak bahagia? Bisa karena aku memilih perasaan bahagia untuk bersemanyam di sanubariku.
Sama seperti pilihan transportasi saat mudik dari Banten ke Yogyakarta; pembaca bisa memilih naik kereta api, pesawat, bus, sepeda motor atau mobil. Kuncinya adalah kita mampu mengukur dan mengenal kapasitas diri sendiri untuk tahu pilihan mana yang membuat kita merasa bebas dari keadaan menyusahkan.
Apakah aku terlihat egois? Iya. Saat ini, aku memilih fokus menjemput bahagia menurut definisiku. Bagiku, inilah batasanku sebagai manusia. Aku menyadari bahwa aku tidak bisa mengontrol kebahagiaan orang lain karena bahagia adalah ruang pribadi yang definisinya berbeda-beda. Jika aku memilih bahagia meskipun orang lain sedang tidak bahagia apakah aku salah? Dan apakah mengorbankan kebahagiaan diri sendiri demi ketidakbahagiaan orang lain adalah jawaban yang benar?
Menurutku, dikotomi salah dan benar inilah yang sering kali menjadi asal muasal kita saling menghakimi. Terkadang kita memaksakan standar diri sendiri untuk dituruti oleh pihak lain sampai lupa bahwa setiap orang punya ruang sendiri untuk bertumbuh dan merasa utuh.
Saat aku berbahagia, aku merasa utuh dan penuh. Kepenuhan jiwa inilah yang aku bagikan dengan kesadaran untuk menjaga dan tidak menyakiti perasaan orang lain. Dari energi positif yang penuh, aku bisa menyebarkan kehangatan dan senyum ramah kepada semua orang.

Leave a Reply