Sepotong Surga, Avant Garde dari A7X

Written by

·

Tatkala seorang penggemar Coldplay harus berhadapan dengan anak lanang yang beranjak remaja (masih berusia di bawah 17 tahun), terjadilah tulisan ini.

Pinterest/Avenged Sevenfold

Simbok, aku mau nonton A7X.

Hah! Kode apa itu? Baru denger.

Oh, band.

Hah, metal?

Kenapa mesti nonton?

Konsernya dimana?

Hah, tempatnya jauh, simbok saja belum pernah ke sana

Hah tiketnya mahal banget

Boleh yang murah saja?

Terlalu banyak hah-heh-hoh tatkala mendengar nama Avenged Sevenfold atau biasa disingkat menjadi A7X. Begitulah awal mula percakapan kami di bulan April. Diskusi rada alot terjadi karena anak maunya menonton di kategori festival (berdiri). Simbok tidak mengizinkan karena tahu penonton konser metal yang berdiri rata-rata melakukan moshing. Kesepakatan terjadi, anak remaja dan temannya membeli kategori tribun bersebelahan dengan festival. Dia membayar tiket dengan uang tabungannya sendiri. Sedangkan kami berdua, berada di kayangan yaitu tribun yang lebih tinggi, lebih murah harganya, lebih jauh dari panggung. Saat bulan Oktober tiba, dia masih bertanya: Mengapa harus diantar menonton konser? Apakah perilaku ini (mengantar) akan berguna bagiku di masa depan? Menurutnya, tindakan kami berlebihan. Dia malu sama temannya. Simbok jawab: Karena anda begitu berharga (pinjam tagline L’oréal). Diskusi dengan remaja tentang mengapa kami mengantarnya untuk menonton konser, akan aku ceritakan di tulisan lain.

Berbicara tentang band asal California, Amerika Serikat bernama Avenged Sevenfold ingatanku kembali ke tahun 2006. Kemana aku saat A7X memenangkan penghargaan MTV Video Music Award 2006 sebagai pendatang baru terbaik. Bahkan ketika mereka sangat terkenal di tahun 2008, aku masih belum mendengar A7X. Aku berdomilisi di daerah yang jauh dari kantor sehingga hari-hari aku habiskan di jalan. Satu hal yang terpikirkan adalah segera sampai rumah, istirahat karena besoknya harus bangun subuh untuk berangkat kembali ke kantor. Aku memilih menonton serial kriminal seperti CSI, Criminal Mind, Sherlock untuk recharge energi. Sampai waktu berlalu tanpa terasa di tahun 2026 melalui anakku, aku baru mengenal A7X. Fenomena “tahu lagu, tak tahu musisi” yang sempat aku alami pada Dave Koz kembali berulang saat aku menyadari bahwa lagu Dear God yang dulu familier di radio adalah karya mereka. Begitu mendengar lagu-lagu A7X lain seperti Afterlife, Nightmare, So Far Away, Seize The Day, Gunslinger, Burie Alive, A Little Piece of Heaven, aku mulai menikmati musiknya dan sukarela menjadi penggemar mereka.

Dari sekian banyak lagu A7X, perhatianku tertuju pada sebuah lagu yang diaransemen berbeda dengan lagu metal pada umumnya. Judulnya adalah A Little Piece of Heaven yang kusingkat menjadi ALPOH. Lagu ini ditulis oleh drumer mereka yaitu Jimmy “The Rev” Sullivan pada tahun 2007 yang terinspirasi dari film horor klasik The Bride of Frankenstein (1935). Bekerja sama dengan David Campbell, seorang pengaransemen kenamaan yang sudah menghasilkan karya hebat seperti Listen (Beyonce) dan You’ll Be In My Heart (Phil Collins/soundtrack film Tarzan), A Little Piece on Heaven berhasil meluaskan horizon pemikiranku tentang musik metal.

Ketika ngulik lagu ALPOH, aku terkejut saat melihat video klipnya. Meskipun dalam bentuk animasi kartun, visual yang disuguhkan sangat eksplisit dan penuh adegan sadis. Disarankan untuk usia 21+ ke atas. Jika pembaca ingin menikmati lagu ALPOH sebaiknya lewat audio dan menggunakan earphone untuk mendapatkan kualitas maksimal dari kemegahan ALPOH. Kemegahan yang seolah berasal dari peleburan genius antara musik orkestra dengan Carousel (Mr. Bungle), Bohemian Rhapsody (Queen) dan Chop Suey! (System of a Down). Disclamer ya, aku bukan pengamat musik. Aku hanya seorang penonton yang terlalu hanyut setelah menonton konser mereka secara live dan ingin mengenang memori itu dalam tulisan. Mari kita mulai.

Sepuluh detik pertama pembaca akan mengira lagu ini adalah lagu orkestra karena The Rev terinspirasi Hungarian Dance Nomor 5 karya Johannes Brahms. Namun ilusi itu seketika runtuh tatkala detik kedua belas, suara doubel bass The Rev langsung menghantam untuk mengkonfirmasi ini adalah lagu metal. Di tengah suasana tersebut sang vokalis M. Shadows masuk layaknya seorang narator teater yang membawa kutukan:

“Before the story begins, it is such a sin, for me to take what’s mine? Until the end of time”.

Ketika aku sedang fokus mendengarkan narator M. Shadows, aransemen musik tiba-tiba berubah radikal menjadi aliran ska yang riang – seolah band Indonesia, Tipe-X nyelonong masuk. Sedang enak-enaknya bergoyang ala-ala ska, tiba-tiba Shadows dan The Rev menginterupsi dengan teriakan: tertawa sinis, penuh amarah dan mengumpat lewat lirik Eat it! Eat it! Disusul paduan suara masuk bak hujan deras menyatu dengan irama rock yang ditampilkan. Perpindahan tempo dan genre lagu melompat cepat!

Setelah dihujani dengan tempo cepat, bagian refrein justru hadir sebagai “rem darurat”. Tempo lagu dituntun oleh gesekan instrumen biola yang anggun. Di sinilah Shadows melantunkan baitnya yang romantis sekaligus kelam:

“Baby don’t cry,

you have my heart, at least for the most part.

‘Cause everybody’s gotta die sometime.

We fell apart, let’s make a new start.”

Sesaat, aku lupa bahwa ini adalah sebuah lagu metal. Suara biola yang sesekali mendominasi terdengar begitu sendu, menggambarkan ratapan dan permohonan cinta si tokoh dalam lagu. Berlanjut bait kedua, alat musik tiup kembali mengambil alih kendali. Alunan musik ska memberikan sinyal yang sama. Telinga dan jantung pun otomatis dalam posisi standby bersiap mengikuti perpindahan tempo dan genre lagu yang melompat cepat!

Memasuki menit 04:49, lagu ini mulai menyeret pembaca ke dalam sisi tergelapnya. Konfigurasi musik orkestra yang megah berpadu dengan ketukan drum dari The Rev, seolah menegaskan bahwa lagu ini memang dirancang untuk memberi kejutan di setiap partitur dan The Rev adalah dirigennya. Di bagian ini, pembaca diajak menyelam lebih dalam melalui dialog musikal yang intens antara M. Shadows dan penyanyi latar Juliette Commagere. Dentuman drum The Rev sukses membuat detak jantung ikut berpacu mengikuti ketegangan lagu:

“I will suffer (What will you do?) for so long (Not long enough)

To make it up to you (I pray to God that you do)…”

Belum selesai dengan ketegangan, ketukan drum The Rev tiba-tiba digantikan oleh dominasi gesekan biola yang menyayat pada menit 05:29. Instrumen ini menjadi jembatan menuju level kengerian selanjutnya saat bisikan sinis mulai menggema: “We’re coming back… Coming Back… We’ll live forever, live forever…”

05:57 The Rev mengambil alih kembali dan mengajak pembaca mendaki menuju summit (puncak ketegangan) pada menit 06:26. Sahut-menyahut vokal teatrikal antara Shadows, Commagere, dan The Rev menggambarkan sebuah prosesi “pernikahan alam kubur” yang sukses memancarkan aura horor yang pekat. Sensasinya seperti monster Frankenstein bangkit dari kematian. Atmosfer romantis, kesedihan, kemarahan, dan kegilaan melebur menjadi satu kekuatan yang bikin merinding:

“Do you take this man in death for the rest of your unnatural life? Yes, I do.

Do you take this woman in death for the rest of your unnatural life? I do”.

Setelah emosi diaduk-aduk secara brutal, bagian refrein kembali hadir sebagai pendingin suasana. Lagu ditutup dengan dramatis lewat dentuman petir menggelegar dan guyuran hujan, meninggalkan sebuah kenangan yang avant-garde.

Menikmati lagu berdurasi delapan menit bukan sekadar mendengarkan musik, melainkan sebuah pengalaman auditori. Narasi yang disajikan lewat suara M. Shadows meninggalkan efek emosional yang terasa begitu mendalam. Sebuah penggambaran cinta posesif yang ekstrem, keputusasaan akibat patah hati, hingga pernikahan di alam kubur yang dianalogikan sebagai sepotong surga. Lewat lagu ini, Avenged Sevenfold berhasil mengeksekusi imajinasi teatrikal yang melintasi batas logika secara megah.

(Rest in Peace, Jimmy “The Rev” Sullivan)

Leave a Reply

Discover more from Santi Mawanti

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading