Penemuanku Saat Membaca To Kill A Mockingbird

Buku Harper Lee

Menarik dan mengesankan!! Mockingbird dalam buku terjemahan yang aku baca adalah salah satu jenis burung Murai. Burung ini dikenal suka menyanyi dan bersuara merdu. Dia dikenal tidak memakan tanaman di kebun orang, tidak membuat sarang di gudang jagung, kecuali bernyanyi untuk dinikmati oleh manusia dan alam. Sehingga membunuh burung murai adalah berdosa. Cuplikan ini bisa dibaca di halaman 135.

Bab pertama dari buku karangan Harper Lee menceritakan latar belakang dari Scout si empunya cerita. Anak berusia sekitar 6 tahun pada awal cerita. Bagaimana dia dan kakaknya dibesarkan oleh seorang ayah yang bijaksana. Si kakak bernama Jem adalah seorang laki-laki berusia empat tahun lebih tua darinya. Sang Ayah merupakan keturunan seorang Finch yang berimigrasi dari Inggris (Cornwall) ke Amerika (Alabama). Sang Ayah yang bernama Atticus Finch adalah seorang pengacara yang memiliki dua orang adik, satu laki-laki yang bersekolah kedokteran bernama Jack dan satu perempuan berama Alexandra yang tinggal di tanah leluhur mereka di Amerika, yaitu Finch’s Landing. Scout dan keluarganya ini tinggal di Maycomb, ibukota dari Maycomb County yang berjarak sekitar tiga puluh kilometer dari Finch’s Landing.

Awal membaca buku ini aku pusing karena sempat bingung dengan banyaknya tokoh yang diperkenalkan dan merasa kurang fokus. Maka aku mengulang-ulang terus supaya mengerti jalan cerita dari buku ini. Oiya kenapa aku membaca buku ini karena aku mendengar dari salah satu radio Jakarta saat sedang menyapu, bahwa buku ini adalah salah satu buku wajib anak-anak remaja di Amerika bahkan telah terjual lebih dari 40 juta kopi di seluruh dunia. Dirundung rasa penasaran, aku berburu buku ini dan berhasil menyelesaikannya lebih dari satu bulan. Hahahahaha… Silahkan pembaca menertawaiku. Iya benar satu bulan baru selesai. Kalau bingung kenapa satu bulan sebaiknya baca link ini 🙂  https://mariasantimawanti.com/2015/11/13/aku-dan-rutinitasku/  Bagiku membaca buku adalah membagi dengan rutinitas harianku.

Ok, kita kembali ke buku ini ya yang mengambil latar suasana Amerika Serikat bagian selatan sekitar tahun 1930-an. Scout tinggal di Maycomb bersama ayah dan kakaknya serta seorang koki bernama Calpurnia. Calpurnia adalah seorang budak belian yang telah mengabdi pada keluarga Finch puluhan tahun. Pada saat Atticus pindah dari Finch’s Landing ke Maycomb, Calpurnia ikut bersama mereka. Dia adalah koki sekaligus merangkap penjaga anak-anak Atticus. Ibu mereka sudah meninggal karena terkena serangan jantung saat Scout berusia dua tahun. Pada suatu musim panas, Scout dan Jem berkenalan dengan Dill, keponakan dari Rachel yang tinggal disebelah rumah mereka. Dill berusia tujuh tahun. Dill berasal dari Misissippi dan setiap liburan musim panas dia berkunjung ke rumah bibinya (Rachel) di Alabama.

Berawal dari keingintahuan Dill yang berlebihan. Scout dan Jem menjadi ikutan tertarik untuk memaksa Boo Radley keluar dari rumahnya. Semenjak dulu kedua bersaudara ini udah mengetahui bahwa penghuni Radley Palace, tetangga mereka sangat jarang keluar rumah. Malahan Bob Radley bisa dikatakan tidak pernah keluar rumah. Berawal dari sinilah petualangan mereka yang berkaitan dengan Radley dimulai.

Sedikit gambaran tentang keluarga Radley. Keluarga ini memliki dua orang anak laki-laki, Nathan si kakak yang tinggal di Pensacola dan Arthur yang tinggal bersama orang tuanya. Arthur inilah si Boo, pria misterius menurut ketiga anak tersebut. Pada saat ayah Nathan dan Arthur (Boo) meninggal, Nathan kembali lagi ke rumah tersebut untuk menggantikan posisi Ayahnya. Bedanya si Ayah termasuk orang yang angkuh, namun Nathan masih bersedia membalas teguran warga Maycomb. Kenapa aku ceritakan latar belakang mengenai keluarga Radley? Karena kejutan akan muncul secara tidak terduga di buku ini. Pasti penasaran ingin segera membaca buku ini, bukan?

Bahkan karakter Atticus Finch yang dihadirkan oleh Harper Lee sanggup membuatku berkaca dan merenung. Pada halaman 51, alkisah Scout meminta ijin ayahnya untuk tidak kembali sekolah setelah dia bersitegang dengan guru barunya, Miss Caroline. Ketika Scout menceritakan peristiwa yang dialaminya di sekolah, Atticus menasihatinya begini, “Kalau kau bisa mempelajari satu ketrampilan sederhana, kau bisa bergaul lebih baik dengan berbagai jenis orang. Kau baru bisa memahami seseorang kalau kau sudah memandang suatu situasi dari sudut pandangnya – kalau kau sudah memasuki kulitnya dan berjalan-jalan di dalamnya.” Atau kata singkatnya empati. Berusaha menempatkan diri kita di diri orang lain adalah hal yang tidak mudah. Apalagi saat kita berusia enam tahun dan mendapat nasihat seperti itu. Namun, disinilah menariknya buku ini. Kita diajak ikut berpikir dan merenung apakah selama ini kita memperlakukan anak kita seperti anak kecil? Padahal mungkin anak kita lebih pas jika kita ajak berdiskusi sebagaimana orang dewasa.

Percakapan menarik ini juga aku temukan saat Scout protes kepada ayahnya karena diejek oleh orang-orang sekitar mengenai kesediaan Atticus menjadi pengacara Tom Robinson. Kesediaan ini mengandung arti bahwa Atticus benar-benar akan membela Tom bukan sekedar hak seorang tersangka mendapatkan dampingan seorang pengacara. Tom adalah seorang kulit hitam yang dituduh melakukan kejahatan seksual terhadap seorang perempuan kulit putih. Pada bagian ini, anganku kembali ke film Bridge of Spies (Film tahun 2015 produksi 20th Century Fox, disutradarai oleh Steven Spielberg) dimana Tom Hank berperan sebagai James B. Donovan, pengacara yang dipilih negara untuk membela seorang intelijen Soviet (KGB) yang tertangkap di Amerika Serikat pada masa perang dingin.

Atticus menerangkan pada Scout bahwa kesediaannya ini berhubungan dengan hati nurani. Kasus ini menyangkut hakikat nurani manusia. Scout, tak ada gunanya aku pergi ke gereja dan beribadat kepada Tuhan kalau aku tidak mencoba menolong dia. Mereka berhak berpikir begitu dan mereka berhak untuk dihormati pendapatnya. Tetapi sebelum aku mampu hidup bersama orang lain, aku harus hidup dengan diriku sendiri. Satu hal yang tidak tunduk pada mayoritas adalah nurani seseorang. 

Nurani, sudahkah pada anggota DPR dan Pemerintah kita merasakah kehadiran nurani? Saat berulangkali kita mendapati anggota dewan kita yang terhormat berurusan dengan hukum ataupun dengan etika. Apakah saat mereka melakukan hal tersebut mereka merasakan nurani ada dalam diri mereka? Entahlah… aku tidak akan menghakimi karena aku bukan hakim.

Aku lebih suka membahas diriku sendiri sebagai kasus di blog ini, supaya tidak ada pihak yang tersakiti. Hehehe dalam hal ini aku merasa blogku masih memiliki nurani (tidak menyakiti orang). Ada banyak tolerasi bagaimana kita mesti hidup dengan suami dan anak kita bahkan dengan lingkungan sekitar kita. Sebelum aku mengerti dan memahami karakter mereka, aku harus menaklukan diriku sendiri. Bagaimana karakter aku yang sebenarnya. Bahkan dengan sesadar-sadarnya aku berusaha mengontrol diriku sendiri. Aku orang yang super cerewet dan tidak sabaran. Saat kusadari bahwa terlalu banyak bicara tidak terlalu disukai suami dan anakku, aku mulai mengurangi kadarnya. Saat anakku malas-malasan ke sekolah karena lebih suka bermain di rumah, aku harus menarik nafas panjang sebelum marah padanya dan berdiskusi di pagi hari.

Aku sadar, jika sudah memegang buku atau menonton sinetron crime di televisi aku cenderung tidak mau diganggu dan cepat marah. Akhirnya aku berpikir, kalau tidak mau diganggu ya lakukan hobi itu saat suami dan anakku tidak berada di rumah. Which is impposible hahahahaha…… Jadi ya sama-sama, saat kita hidup bersama orang lain, kita adalah makhluk sosial sehingga sebaiknya berperilaku selayaknya makhluk sosial. Bertoleransi dan saling menghargai. Aku masih belajar sampai hari ini. Aku masih berusaha sampai hari ini. Buku ini membuatku sadar, bahwa sebagai manusia biasa ciptaan Tuhan, aku adalah sederhana, sama dengan yang lain sehingga sangat memalukan kalau aku merasa lebih dari orang lain.

 

Maybe I don’t really wanna know

How your garden grows cos I just want to fly

Lately, did you ever feel the pain?

In the morning rain as it soaks you to the bone

Maybe I just want to fly I want to live I don’t want to die

Maybe I just want to breathe maybe I just don’t believe

Maybe you’re the same as me we see things they’ll never see you and I

were gonna live forever

(Oasis – Live Forever)

Advertisements

3 thoughts on “Penemuanku Saat Membaca To Kill A Mockingbird

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s